Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 13 April 2017 | 00.01 WIB

Kembalikan Keluarga sebagai Surga bagi Anak

FATHUR ROZI - Image

FATHUR ROZI


KASUS demi kasus bertubi-tubi melanda anak-anak dan remaja. Gelombangnya seperti badai gejolak jiwa remaja masa pubertas, yang diistilahkan Elizabeth Hurlock sebagai masa angin ribut. Kasus perundungan (bullying), narkoba, pencabulan baik sebagai pelaku maupun korban, bahkan sampai kasus pembunuhan sesama siswa.



Beberapa kasus mengiris-iris nurani. Ada 8 murid SD dan SMP yang mencabuli bocah 13 tahun di Kota Surabaya. Ada tiga anak bersama dua orang dewasa mencabuli bocah 14 tahun hingga hamil di Kabupaten Sidoarjo.



Satu lagi benar-benar menyayat hati. Yaitu, tragedi Yuyun, bocah Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu, yang diperkosa 14 remaja. Lalu dibunuh dan dibuang. Belum lagi banyak anak yang menjadi korban human trafficking. Dijual kepada para pedofil melalui media sosial. Yang baru saja terjadi, pembunuhan siswa SMA Taruna Nusantara di Magelang.



Ancaman sanksi UU Nomor 17 Tahun 2016 tentang Perlindungan Anak belum mampu menjerakan para pelaku. Lebih-lebih vonis pidana. Di sisi lain, hukuman kebiri belum diberlakukan di Indonesia, meski di sebagian negara bagian Amerika Serikat dan Eropa telah diterapkan.



Hukuman belum menjadi solusi ampuh. Pencegahan adalah pilihan terbaik. Dan, keluarga merupakan basis utama. Pertama, bagaimana mengisi masa pertumbuhan anak dengan ”asupan gizi” jasmani dan rohani yang seimbang. Kedua, bagaimana mendampingi anak-anak dalam pergaulan global. Ketiga, bagaimana menciptakan ”surga” bagi anak-anak di rumah.





Mengisi Masa Pertumbuhan



Sebagian orang tua lebih merasa aman ketika fisik anak tumbuh dengan gizi cukup. Vitamin dan suplemen menjadikan anak sehat dan tangguh secara fisik. Namun, sentuhan rohani sangat kurang. Jiwa anak-anak mengambang. Minimnya aktivitas religius berakibat keimanan semakin rapuh. Karakter anak sebagai makhluk Tuhan tidak terbentuk. Begitu masuk pubertas, jiwa mereka labil. Goyah oleh pengaruh lingkungan. Mungkin mereka tidak tahu risiko. Perbuatan cabul-kriminal dianggap sebagai coba-coba saja seperti trial and error dalam teori behaviorism Thorndike.



Seharusnya pertumbuhan anak dikuati dengan spirit religi. Salat Duha berjamaah sebelum pelajaran sekolah, mengaji sore, atau salat malam.



Selain menguatkan hablum minallah, kegiatan religius mampu mengeratkan hablum minannas. Inti sari nilai-nilai religiusitas melahirkan toleransi, sikap peduli, dan empati. Sehat secara fisik sekaligus saleh secara sosial dan spiritual. Mereka matang secara utuh, bukan ”matang semu” seperti istilah Yee-Jin Shin, praktisi pendidikan Korea.





Mendampingi Anak di Era Global



Psikolog humanistis Carl Rogers menekankan bahwa anak-anak manusia sebenarnya telah punya kemampuan alami untuk belajar. Dasarnya positif dan optimistis. Ketika masuk sekolah, mereka bukan lagi cuma selembar kertas putih yang bisa dijadikan apa saja secara semena-mena.



Akhir-akhir ini peran gawai (gadget)mendominasi perkembangan mental mereka. Egoisme dan individualisme menjadi ciri khas anak-anak yang bergantung pada gadget. Perangkat teknologi itu menimbulkan pengalaman serbamudah. Mengerjakan PR dengan ponsel. Pesan makanan lewat aplikasi. Mencari acuan nilai-nilai, menemukan idola, pun dari internet.



Mereka seolah kehilangan konteks tempat dan waktu. Pribadinya mengambang bak buih di lautan. Jati diri amat terusik ketika diterpa cacian haters di dunia maya. Padahal, di dunia nyata mereka dipuji karena berprestasi.



Dengan gadgetdan internet, sebagian remaja cuma menjadi peniru yang hebat. Mereka menjelma sebagai pemuja-pemuja idola dari berbagai keran budaya asing. Tidak ada filter. Dalam diri anak-anak itu seperti tercipta sistem nilai baru yang menantang langsung ajaran moral dan agama.



Usia remaja sangat urgen sebagai masa pematangan diri. Budi pekerti dan akhlak mulia diberi bobot lebih tinggi. Intelektual dieksplorasi. Namun, kecerdasan emosional, spiritual, dan ketangguhan wajib terus mengiringi. Pada masa itu, orang tua juga perlu terus belajar. Jika ketinggalan zaman, berat bagi orang tua menandingi daya jelajah intelektual dan belantara wawasan anak.

Editor: Miftakhul F.S
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore