Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 8 April 2017 | 04.06 WIB

Pelajar Indonesia jadi Peneliti Kolaborasi 20 Negara

TELITI TBC:  Satria Arief Prabowo. - Image

TELITI TBC: Satria Arief Prabowo.


JawaPos.com - Satria Arief Prabowo, mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut PhD London School of Hygiene & Tropical Medicine kini mendalami riset seputar Tuberculosis (TB).


Yang membuat menarik, riset laki-laki asal Surabaya tersebut merupakan riset kolaborasi 20 negara yang mendapat suntikan dana EUR 25 juta (setara Rp 400 miliar) untuk riset yang fokus dalam pengembangan vaksin TB terbaru itu.


’’Secara umum masalah TB di Indonesia hampir sama dengan negara-negara berkembang lain di dunia, yakni diperlukan vaksin baru yang lebih efektif dan juga terapi yang lebih singkat,’’ ujar alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga yang dikukuhkan menjadi dokter di usia 21 tahun tersebut.



Sementara pengobatan TB dianggap belum efektif, lebih parahnya lagi dalam kasus TB itu diketahui adanya multi-drug resistant tuberculosis (MDR-TB) atau kekebalan terhadap pengobatan dimana keberhasilan terapi hanya mencapai kisaran 50 persen dan diperlukan jangka waktu pengobatan hingga 20 bulan. Jenis TB ini dilaporkan semakin meningkat dewasa ini dan sangat sulit untuk diobati.



Maka dari itu, penelitian doktoralnya bertujuan untuk menjawab dua permasalahan ini. Melalui konsorsium riset yang didanai oleh grant dari Uni Eropa, proyek yang dilakukan di sana bertujuan untuk mengembangkan sebuah vaksinasi terapeutik bagi penderita TB.


Menurutnya, pendekatan ini cukup unik karena umumnya vaksinasi diberikan untuk mencegah penyakit. Tetapi ternyata dapat pula diberikan pada penderita yang sudah sakit untuk membangkitkan sistem kekebalan tubuh dan potensial untuk memperpendek masa pengobatan penderita TB.


’’Jika terapi ini dapat diperpendek dari enam bulan menjadi satu bulan saja misalnya, hal itu akan berdampak besar. Bahkan angka penyakit TB dapat berkurang secara signifikan di dunia dibandingkan dengan saat ini,” ungkapnya.



Sementara untuk suatu vaksin baru dapat diterapkan secara luas. Namun diperlukan beberapa tahap uji coba untuk mengetahui regimen yang optimal bagi penderita. Tahap awal itu meliputi uji coba pada hewan coba dan sistem in-vitro untuk mengetahui sejauh mana vaksin tersebut dapat membangkitkan sistem imun.


Dan hal itu sudah dia kerjakan selama 1 tahun menempuh studi PhD di London, Inggris. ’’Hasilnya ternyata cukup memuaskan dan mendukung untuk dilakukan uji coba lebih lanjut pada manusia,’’ ujar Satria. (ina/tia)




Editor: Dwi Shintia
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore