
SERBABISA: Yonathan Toar Sangari beserta sejumlah peralatan miliknya di studio editor film di Gereja Pantekosta Senin (3/4) di Indonesia (GPdI) Elohim Sidoarjo.
Bibit-bibit potensial dunia sinematografi terus bermunculan di Kota Delta. Salah satunya Yonathan. Mulai penyusunan naskah, sutradara, sampai proses editing mampu dikerjakan sendiri.
RESVIA AFRILENE
YONATHAN duduk anteng di depan komputer di studio editor film kemarin (3/4). Dia sedang mengecek lagi beberapa video yang sudah direkamnya bersama tim. ”Mana ya?” ujarnya, memilih video liputan terbaik. ”Kayaknya yang ini deh,” celetuknya lagi. Tangan Yonathan berhenti pada sebuah video dokumenter berisi pesan-pesan kerohanian. Video-video tersebut akan diputar setiap Minggu setelah kegiatan doa di gereja selesai.
”Kami namai channel-nya EYC TV (E-News Youth GPdI Elohim Sidoarjo, Red),” kata Yonathan, lantas tersenyum. Ya, studio editor film yang menjadi tempat Yonathan beraktivitas itu memang berada di Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Elohim Sidoarjo. Selain menjadi staf gereja tersebut, dia merangkap sutradara film kerohanian.
Dalam studio mini berukuran 4 x 4 meter itu, Yonathan biasa mengutak-atik hasil rekaman film maupun videonya. Ruangan bercat hitam itu dipenuhi berbagai peralatan pembuatan film milik Yonathan. Mulai satu set komputer, mikrofon rode, tiga kamera dengan berbagai spesifikasi, dan tak ketinggalan, sebuah headphone putih. Barang yang terakhir itu selalu dibawa Yonathan ke mana pun pergi.
Selain memastikan video benar-benar siap tayang, urusan layar utama di panggung gereja juga menjadi tanggung jawab pemuda 23 tahun itu. Di hall gereja yang bisa menampung 700 orang Kristiani tersebut, Yonathan biasa mempertontonkan karya filmnya. Kadang dalam bentuk video dokumenter atau klip video. Semua hal yang membawa pesan baik diwujudkan dalam visualisasi yang apik.
Saat ini Yonathan tengah menempuh pendidikan di Jurusan Broadcasting, Sekolah Tinggi Komunikasi-Almamater Wartawan Surabaya (Stikosa-AWS). Linier dengan minat Yonathan dengan dunia sinematografi. Yonathan mengenal istilah broadcasting, videografi, dan movie maker sejak duduk di Jurusan Multimedia SMKN 2 Buduran. ”Pokoknya nerusin sekolah saja waktu itu pikirannya,” ujar Yonathan, lantas tertawa.
Yonathan merasa cocok memilih media film untuk menyampaikan perasaan dan gagasannya. ”Film buatku itu messenger. Karena aku bukan orang yang punya kekuasaan. Bukan juga public figure,” katanya.
Meski Yonathan aktif sebagai staf GPdI Elohim, tidak berarti film buatannya hanya bertema kerohanian. Justru Yonathan sudah memproduksi banyak video dokumenter, klip video, dan film indie sejak di bangku SMK. ”Wah, sampai lupa apa film dokumenter pertama. Maklum belum puas sama hasilnya waktu itu,” ucap pemuda kelahiran Sidoarjo, 2 Juni 1994, tersebut.
Sembari membenahi poninya yang bermodel side part bangs, Yonathan berupaya mengingat film indie besutannya yang paling berkesan. ”Ada dua. Judulnya The Photographer sama Lunch Box,” kata Yonathan. Dua film tersebut disutradarai dia sendiri. Termasuk editornya.
Setelah menunjukkan cuplikan dua film itu dari laptop, putra sulung dari pasangan Rivo Sangari dan Susanti tersebut kembali bercerita. ”Dua-duanya rilis tahun lalu. Kayaknya pas ideku lagi benar-benar matang memang,” ujarnya.
The Photographer menceritakan perjalanan seorang anak yang mencintai dunia fotografi. Namun, karyanya tak pernah diapresiasi. Malah, banyak orang di sekelilingnya yang mencibir. ”Si tokoh ini sering di-bully sampai-sampai dia down,” tutur Yonathan. Namun, ada satu sahabatnya yang memercayai bahwa mimpi si anak ini bakal jadi nyata jika terus berusaha.
”Ending-nya, si anak ini malah menjuarai sebuah kompetisi pembuatan videografi lewat media sosial,” lanjutnya. Latar belakang pembuatan film tersebut adalah fenomena merisak yang marak terjadi di kalangan generasi muda. Yonathan merasa miris dengan kondisi tersebut. ”Kadangkala orang tua nggak paham sama passion anaknya sendiri,” ujarnya.
Sementara itu, film Lunch Box digarap selama dua bulan. Inspirasi pembuatannya murni dari pengalaman pribadi Yonathan yang menyesali perilakunya kepada sang ayah. Padahal, sang ayah begitu menyayanginya. ”Gara-garanya, aku pernah marahan sampai satu minggu. Eh, papaku itu tetap nyediain aku nasi goreng. Duh! Rasanya langsung trenyuh,” kenang pemuda yang juga aktif di Independent Film Surabaya (Infis) Community itu.
Hal lain yang membuat film itu terasa sangat istimewa bagi Yonathan adalah apresiasi yang diterima saat pemutaran perdananya di Hall GPdI Elohim Sidoarjo. Di ruangan itu, para penonton berjejal. Penuh sesak. Sekitar 1.200 orang menyaksikan film Lunch Box. Pemutarannya sengaja dia jadwalkan pada Natal 2016 untuk merefleksikan kembali sebuah pesan tentang kasih sayang yang tulus.

Kapolri Kenang Warisan Bung Karno, Tegaskan Semangat Pemimpin Bangsa Harus Terus Dijaga
Prediksi Skor Ekuador vs Curacao di Piala Dunia 2026: La Tri Wajib Menang demi Lolos ke Babak 32 Besar
Prediksi Skor Jerman vs Pantai Gading di Piala Dunia 2026: Ujian Sesungguhnya Die Mannschaft di Grup E
BGN Terbitkan SE Nomor 12 Tahun 2026, Layanan MBG Dihentikan Sementara saat Hari Libur
Gabriel Budi Blak-blakan, Agen Pemain Persebaya Surabaya Ungkap Sosok Paling Berkesan
Prediksi Susunan Pemain Timnas Brasil vs Haiti: Danilo Ingin Selecao Kuasai Permainan
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
TVRI Hilang? Begini Cara Memunculkan Sinyal TVRI untuk Nonton Piala Dunia 2026 Gratis
Jadwal Moto3 Ceko 2026! Veda Ega Pratama P14 dan Langsung Lolos Q2
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
