
DISEGEL: Sejumlah warga Desa Sumbersuko menyegel lokasi pabrik tambang, Jumat (24/3) setelah insiden tewasnya Ja’i, buruh tani setempat.
JawaPos.com - Nasib nahas menimpa Ja'i, 50 tahun. Buruh tani ini tewas, akibat batu lontaran ledakan tambang menimpanya, Kamis (23/3). Peledakan tambang batu itu terjadi di Dusun Kaliputih, Desa Sumbersuko, Kecamatan Gempol. Lelaki itu terkena lontaran batu tambang, sesaat PT Berkat Granite melakukan peledakan di lokasi tambangnya. Ja’i yang terkena lontaran batu tambang di bagian punggung.
Lelaki ini sempat hendak dilarikan ke RS Mitra Sehat Medika Pandaan. Sayang, nyawanya tak mampu diselamatkan. Ja’i tewas saat perjalanan, sebelum tiba di rumah sakit. Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Bromo, insiden tersebut terjadi sekitar pukul 14.30. Sore itu Ja’i baru saja pulang dari menggarap lahan sawah di Desa Sumbersuko. Dia hendak pulang dan harus melintasi pematang sawah.
Karena kelelahan, Ja’i rupanya beristirahat di jalan pematang sawah sembari duduk. Di saat yang sama, sore itu PT Berkat Granite sedang punya agenda. Perusahaan tersebut hendak melakukan peledakan untuk aktivitas tambangnya. Segala persiapan sesuai standar prosedur, sudah dilakukan. Termasuk mensterelisasi kawasan sekitar dengan melibatkan aparat keamanan dari kepolisian dan TNI. Belum diketahui apa jenis bahan peledak yang digunakan perusahaan tambang ini.
Pihak perusahaan sudah mengerahkan petugas dari Polsek dan Koramil Gempol untuk sterilisasi wilayah. Begitu dirasa sudah aman, peledakan dilakukan. Kira-kira enam kali peledakan dilakukan. Ledakan yang terakhir inilah diduga melontarkan batu tambang. Diluar dugaan, ada batu yang terlontar jauh dari lokasi tambang.
Ada yang mengenai atap sebuah musala di dekat lokasi. Nah, salah satunya ada yang mengenai Ja’i, yang saat itu sedang duduk di pematang sawah. “Setelah ada ledakan, dalam hitungan detik ada sebuah batu terlempar jauh dan menimpa tubuh korban. Saya dan warga lainnya tahu setelah ada suara asbes sebuah kamar mandi di lokasi makam pecah,” ucap Mustofa, salah seorang saksi mata sekaligus warga setempat. Saat itulah warga maupun karyawan PT Berkat Granite mendengar ada suara teriakan minta tolong. “Ternyata, Wak Ja’i (korban, Red). Seketika itu petugas dan pengelola tambang menuju lokasi Ja’i,” beber salah satu pegawai PT Berkat Granite yang enggan namanya dikorankan.
Saat itu, mereka melihat Ja’i sudah terkapar dan tak sadarkan diri, namun kondisinya masih hidup. Ja’i ditemukan tergeletak di areal persawahan, mengalami luka lengan tangan kiri atas robek dan punggung bawah sebelah kiri memar. Pengelola tambang maupun aparat, juga terkejut. Sebab, lokasi tambang dengan korban cukup jauh, yakni 500 meter. Merasa korban bisa diselamatkan, pengelola tambang ikut bertindak.
Mereka mengambil mobil bak terbuka dan hendak mengantarkan Ja’i ke RS Mitra Sehat Medika Pandaan lantaran tempat medis ini yang paling dekat dengan lokasi kejadian. Namun, sebelum tiba di rumah sakit, Ja’i meregang nyawa. Sesampainya di RS Mitra Sehat Medika, korban sempat divisum. Bahkan, saat itu polisi hendak melakukan otopsi. Namun, keluarga korban yang datang menolak, sehingga sore itu juga langsung dibawa kembali pulang ke rumah duka.
Sementara itu Kepala Keamanan PT Berkat Granite, Giyanto mengatakan, insiden yang dialami Ja’i di luar dugaannya. “Kami akan bertanggung jawab sepenuhnya atas kejadian ini, termasuk pula memberikan santunan ke pihak keluarga korban. Ini semua di luar prediksi dan tidak ada unsur kesengajaan sama sekali,” katanya. Disinggung terkait perizinan, Giyanto menyebutkan, perusahaan tempat ia bekerja memiliki kelengkapan.
PT Berkat Granite sudah berdiri lama yakni puluhan tahun lalu. Namun, dalam perjalanannya sempat lama vakum, hingga beberapa tahun terakhir mulai beroperasi kembali. Giyanto juga memaparkan bagaimana standar aktivitas peledakan. Giyanto menyebutkan, ledakan memakai pemicu dari detonator.
Sayang dia tidak merinci apa jenis bahan peledak yang digunakan. Dia hanya menyebut, ledakan dibuat dari sejumlah zat kimia. Saat proses peledakan berlangsung, di lokasi tambang maupun jalan umum yang ada dilakukan sterilisasi. Di antaranya bahkan melibatkan aparat keamanan dari Polsek dan Koramil Gempol. Termasuk pula karyawan dan perangkat desa setempat pun dilibatkan untuk pengamanan jalan.
Agar kendaraan ataupun pesepeda dan pejalan kaki tak melintas. “Pelaksanaan proses peledakan kami lakukan sesuai dengan prosedur, di setiap kali melakukan peledakan batu. Termasuk Kamis (23/3) lalu,” tukasnya. Adanya aparat yang ikut mengamankan saat peledakan dilakukan, dibenarkan Kapolsek Gempol Kompol I Nengah Darsana. “Proses peledakan batu di lapangan melibatkan polisi dan Koramil serta perangkat desa. Termasuk pula ada sirine, penanda untuk aba-aba akan dilakukan ledakan. Kami yang berada di jarak sekitar 300 meter aman, tak tahunya ada korban tertimpa batu di jarak 500 meter,” ungkapnya saat dihubungi koran ini via telepon Jumat siang(24/3). (zal/fun/JPG)

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
