Senin, 27 Mar 2017
JPG Today

Tak Tanggung Jawab, Mahasiswa Kabur Setelah Hamili Siswi SMK

Selasa, 21 Mar 2017 08:40

Ilustrasi

Ilustrasi (Dok. JawaPos.com)

JawaPos.com – Siswi salah satu SMK di Kota Tasikmalaya diduga menjadi korban pencabulan. Michelle (bukan nama sebenaranya) mendatangu Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Tasikmalaya, kemarin (20/3). Dia melapor telah disetubuhi pasangannya.

Gadis berusia 17 tahun itu telah disetubuhi pacarnya, Rn (22), salah seorang mahasiswa perguruan tinggi swasta di Kota Tasikmalaya. Pelaku sudah 3 kali menggauli, di salah satu rumah di Perum Rancabungur Desa Cilampunghilir Kecamatan Padakembang dan sekali di Perum Kencana Raya di Desa Ciknir Kecamatan Singaparna.

Saat ini korban asal Kecamatan Kawalu Kota Tasikmalaya itu tengah hamil delapan bulan. Hal tersebut dibeberkan oleh paman korban, Christopher (nama samaran). Pria berusia 36 tahun ini menyebut keponakannya mengenal Rn melalui Facebook pada Agustus 2016 lalu. Mereka pun berpacaran.

Setelah berpacaran, pelaku asal Kecamatan Mangkubumi Kota Tasikmalaya itu mengajak Michelle ke rumah pamannya di Perum Rancabungur. Dalihnya untuk belajar. Sampai di rumah, korban dipaksa agar mau disetubuhi oleh pelaku. Bila tidak, pelaku akan menyebar informasi di Facebook bahwa korban sudah ditidurinya.

Dengan ancaman itu, terang Christopher, korban akhirnya terpaksa mengikuti nafsu birahi pelaku. Akibatnya, setelah empat kali disetubuhi korban hamil delapan bulan.

Keluarga Michelle, kata dia, sebenarnya sudah ada iktikad baik untuk menyelesaikan persoalan tersebut dengan mediasi agar Rn mau menikahi keponakannya. Namun, pelaku tidak mau mempertanggungjawabkan perbuatannya.

“Kami terpaksa melaporkannya ke pihak kepolisian. Pertama laporan ke Polsek Tasikmalaya Kota pada Jumat (17/3). Namun dilimpahkan ke Polres Tasikmalaya. Karena kejadiannya terjadi di kabupaten,” terangnya kepada wartawan kemarin (20/3).

Pihak Michelle, ungkap dia, sudah sepakat untuk menyelesaikan persoalan ini ke ranah hukum. “Masa depan keponakan saya hancur dan hak-haknya dia untuk sekolah sampai kuliah hancur,” sesalnya.
 Michelle, kata dia, sudah keluar dari sekolahnya. Dia trauma. Bahkan tidak mau keluar rumah. “Seringkali mengurung diri di kamar dan tidak mau keluar rumah. Sering nangis tidak jelas,” katanya.

Sementara itu, kemarin, Unit PPA Polres Tasikmalaya masih mengumpulkan keterangan dari pelapor dan akan melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait kasus pencabulan yang menimpa korban.

Kapolres Tasikmalaya AKBP Nugroho Arianto mengatakan pengawasan keluarga sangat penting untuk mencegah anak-anaknya yang masih di bawah umur dari pelaku-pelaku pencabulan. Penggunaan-penggunaan media sosial pun harus dikontrol. Pihaknya sudah beberapa kali menerima delik aduan kasus asusila terhadap anak di bawah umur. “Alhamdulillah sudah banyak yang telah diungkap,” jelasnya. (dik/yuz/JPG)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia