Sabtu, 24 Jun 2017
Hukum & Kriminal

BNN Bakar Ladang Ganja 2 Ton

Selasa, 21 Mar 2017 07:47 | editor : Yusuf Asyari

Tim Gabungan BNN Pusat dalam pemusnahan ganja di kawasan Gunung Seulawah Agam, Kec Seulimeum, Kab Aceh Besar, NAD, Senin (20/3).

Tim Gabungan BNN Pusat dalam pemusnahan ganja di kawasan Gunung Seulawah Agam, Kec Seulimeum, Kab Aceh Besar, NAD, Senin (20/3). (Aro/Indopos/JawaPos.com)

JawaPos.com - Badan Narkotika Nasional (BNN) memusnahkan ladang ganja di Nangroe Aceh Darussalam (NAD), Senin (20/3). Dengan menggandeng BNN NAD, Polda NAD, Brimob, dan TNI, serta UIN Ar-Raniry Banda Aceh sedikitnya dua ladang ganja dengan total luas 2 hektare di kawasan Gunung Seulawah Agam, Kecamatan Seulimeum, Kabupaten Aceh Besar berhasil dimusnahkan.

Pimpinan Operasi yang juga Analis Pemetaan Jaringan BNN Kombes Pol Ghiri Prawijaya mengatakan, tanaman ganja yang ditemukan memiliki ketinggian bervariasi mulai dari yang masih disemai setinggi 5 cm sampai ada yang 3 meter. Nah kalau ganja tersebut berhasil dipanen oleh pelaku, diperkirakan dapat menghasilkan 2.000 kg atau 2 ton ganja.

”Ini artinya dengan pemusnahaan ladang ganja itu, kita bisa menyelamatkan 2 juta anak bangsa dari bahaya narkotika,” ujarnya didampingi perwira menengah BNN Kombes Pol Atrial.

Untuk menempuh lokasi ladang ganja tersebut diperlukan waktu sekitar dua jam dengan jalur menembus hutan dan menaiki Gunung Seulawah Agam yang memiliki ketinggian 1.726 mdpl. Setibanya di lokasi, pohon-pohon ganja lalu dicabut hingga akar-akarnya dan dimusnahkan dengan cara dibakar.

”Tanaman ganja di Aceh merupakan tumbuhan terbaik di dunia. Karena itu, kita harus musnahkan. Di samping pemusnahaan ladang ganja, kita juga menyampaikan kepada masyarakat setempat dan dunia bahwa menanam ganja dan tanamam sejenis dilarang oleh Pemerintah Indonesia,” jelasnya.

Daun ganja memiliki kandungan zat THC (Tetra Hydro Cannabinol) yang merupakan jenis tanaman terlarang, sesuai dengan UU No 35/2009 tentang Narkotika. ”Karena itu, bagi siapa saja yang masih menanamnya (ganja, Red), maka akan dipidana sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku,” ujar Ghiri.

Ghiri mengatakan, jaringan ladang ganja dilakukan secara terpisah. Pemilik modal memberikan uang kepada penanam. Kemudian yang memelihara itu lain lagi orangnya. Selanjutnya, pemanen juga orang yang berbeda.

”Mereka menanam ganja di tengah hutan dan sulit dijangkau. Saat operasi ini tidak ada pelaku yang ditangkap karena kondisi ladang ganja sepi atau tidak ada pelaku,” jelasnya.

Sulitnya mengungkap siapa pemilik ladang sesungguhnya karena komunikasi yang dilakukan antara warga dan pemodal dilakukan tidak secara langsung. Pemodal biasanya menugaskan kembali pihak lain untuk berhubungan dengan warga. (aro/yuz/JPG)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia