Sabtu, 25 Mar 2017
Women's

Benjolan pada Rahim Bernama Mioma

Tanpa Keluhan, Hilang saat Menopause

Selasa, 21 Mar 2017 09:00

TELITI: Mengetahui jadwal datang bulan yang tepat bisa membantu mendeteksi bila ada kelainan.

TELITI: Mengetahui jadwal datang bulan yang tepat bisa membantu mendeteksi bila ada kelainan. (Arya Dhitya/Jawa Pos/JawaPos.com)

JawaPos.com - Jika mendapati siklus haid lebih lama dan darah keluar sangat banyak, waspadai adanya mioma atau juga dikenal miom. Itu merupakan jenis tumor jinak yang tumbuh di rahim perempuan. Mioma tak seganas kanker serviks, tapi tetap membutuhkan penanganan serius.
-------
Setiap perempuan berisiko memiliki mioma di rahimnya. Menurut dr Manggala Pasca W. SPOG, spesialis kebidanan dan kandungan Siloam Hospitals Surabaya, sekitar 15–20 di antara 1.000 perempuan terkena mioma.

Kemunculannya dikaitkan dengan faktor hormonal, dalam hal ini estrogen. Karena itu, gejalanya dialami perempuan usia reproduksi. Ada beberapa faktor yang meningkatkan risiko. Salah satunya adalah usia perempuan saat haid kali pertama. Semakin muda, risikonya semakin besar. ’’Sebab, estrogennya cenderung banyak,’’ jelas Manggala. Selain itu, obesitas dan faktor genetik atau keturunan. ’’Tapi, faktor genetik ini juga dipengaruhi faktor lain, misalnya paparan hormon di dalam dirinya,’’ kata Manggala.

Banyak pasien yang mengabaikan gejalanya. Padahal,  dengan deteksi dini, bisa dilakukan penanganan untuk mencegah supaya mioma tak semakin besar. Caranya, memperhatikan gejala awal. Termasuk siklus haid yang lama dan banyak. Lalu, sering nyeri di perut bagian bawah dan jika diraba terasa ada benjolan. Gejala lainnya, susah hamil setelah menikah.

Dari keluhan itu, dokter akan melakukan pemeriksaan lanjutan. Pertama, melakukan cek ginekologi untuk mengetahui letak mioma tersebut. ’’Dalam pemeriksaan ini, kadang pasien merasa takut. Padahal, dari pemeriksaan ini, biasanya bisa cepat didiagnosis penyakitnya,’’ ungkap Manggala. Pemeriksaan juga bisa dilakukan dengan cara USG.

Putri, seorang pasien mioma yang kini berusia 35 tahun,, menceritakan penyakitnya. Dia merasakan gejala awal ketika berusia 27 tahun. Siklus haidnya masih normal. Tapi, dia menemukan bercak pink yang keluar saat melakukan aktivitas berat. Misalnya, berlari di treadmill.

Tiga tahun kemudian, siklus haidnya menjadi tak teratur. Dalam sebulan, dia bisa mengalami dua kali menstruasi. Bahkan, suatu ketika masa haidnya berlangsung hampir sebulan penuh. ’’Saya betul-betul tak bisa memprediksi masa menstruasi saya waktu itu,’’ ujar Putri.

Dia juga merasa darah haid yang keluar sangat banyak, jauh berbeda dengan kondisi normal. Meski begitu, Putri mengaku sama sekali tak merasa nyeri perut. Gejala itu dialaminya dua tahun. Merasa ada yang tak beres, Putri mulai memeriksakan diri ke dokter. ’’Waktu itu tiga kali ganti dokter, diagnosisnya berbeda. Ada yang bilang itu janin, ada yang bilang hanya gangguan hormonal,’’ jelasnya.

Belum jelas diagnosisnya, tapi gejala yang dirasakan semakin parah. Ketika mengalami haid, terasa ada gumpalan darah yang keluar. Akhirnya, dokter terakhir mendiagnosis adanya mioma. Saat itu, Putri mengetahui mioma di dalam rahimnya cukup besar. ’’Saya bisa raba dengan tangan di bagian perut, memang ada kayak benjolan seukuran telapak tangan. Makin lama terasa makin lebar,’’ ucapnya.

Karena ukurannya cukup besar, jalan terakhir yang harus ditempuh adalah operasi pengangkatan rahim. Setelah operasi, mioma tersebut baru diketahui berukuran sebesar jeruk bali atau sekitar 1,1 kg. ’’Pemulihannya sekitar tiga bulan. Tapi,  saya baru benar-benar bisa menerima kondisi saya setahun kemudian,’’ ujar Putri.

Menurut Manggala, mioma berukuran besar memang mengganggu fungsi rahim. Pendarahan terus terjadi. Karena itu, pasien mioma akan sering mengalami menstruasi. ’’Karena jaringannya terlalu menempel dengan rahim, akhirnya rahimnya harus ikut diangkat,’’ tutur Manggala.

Jika mioma masih kecil, dokter akan memberikan obat untuk mengurangi rangsangan hormonal. Tujuannya, ukuran mioma tak bertambah besar. Selain itu, jika muncul gejala, pasien juga diberi obat untuk mengurangi keluhannya. Jika keluhan sudah tak ada, mioma berukuran kecil tersebut biasanya menyusut atau bahkan menghilang pada masa menopause.

Namun, apabila pengobatan yang dilakukan tidak memiliki dampak efektif dan mioma terus membesar, pelaksanaan prosedur operasi menjadi jalan keluar. ’’Jika mengalami gejalanya, kalau bisa langsung periksa saja, tak usah takut,’’ jelas Manggala. (adn/c23/ayi/tia)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia