Senin, 27 Mar 2017
Metropolis

Seleksi Penerimaan Kakak Asuh Campus Social Responsibility Selesai

Senin, 20 Mar 2017 21:42

BIAR HIJAU: Riko Pramudya (kiri), Gangga Pamadya, dan Abimanyu Bisma menanam pohon bersama Minggu (19/3) di kawasan Kampus C Unair.

BIAR HIJAU: Riko Pramudya (kiri), Gangga Pamadya, dan Abimanyu Bisma menanam pohon bersama Minggu (19/3) di kawasan Kampus C Unair. (Taufiqurrahman/Jawa Pos/JawaPos.com)

JawaPos.com– Seleksi tahap pertama dan kedua penerimaan calon mahasiswa pendamping dalam program campus social responsibility (CSR) Dinas Sosial (Dinsos) Kota Surabaya selesai setelah tes gelombang susulan di kantor Dinsos Surabaya kemarin (19/3).

Ada 39 peserta susulan yang mengikuti tes tahap kedua, yakni focus group discussion (FGD). Delapan mahasiswa dikelompokkan untuk diuji kesiapannya guna melakukan pendampingan terhadap adik asuh berupa anak-anak yang putus sekolah dan yang rawan putus sekolah di Kota Surabaya.

Salah satu kelompok terdiri atas Johanna Abigail, Nur, Ayuning Silvera Porthy Boyanda, Erlita, Ayu, dan Rizky Hidayatullah. Mereka menjawab tes yang diberikan penguji dari dinsos Teguh Rachmanto. Pertanyaannya seputar berapa waktu yang bisa diluangkan dan strategi pendanaan yang akan mereka pakai untuk mensponsori kelanjutan studi adik asuh.

Ayuning Silvera Porthy Boyanda dari Universtias Ciputra tampak siap. Dia menyatakan akan menginvestasikan waktu luang di luar kuliahnya untuk melakukan pendampingan penuh terhadap sang adik asuh. ”Selain kuliah, saya mengelola bisnis sendiri. Bisa saya kontrol lewat HP sewaktu-waktu,” kata mahasiswi berjilbab itu.

Untuk strategi menjamin adik asuh meneruskan sekolah, Ayuning malah lebih percaya diri. Dia bertekad menularkan ilmu entrepreneur yang dipelajarinya di kampus kepada adik asuh dan keluarganya. ”Nanti saya ajak berwirausaha semuanya,” katanya.

Ayuning mengaku sudah lama ingin terjun langsung ke dunia bakti sosial setelah cukup yakin dengan bisnis katering dan cairan sampo mobil miliknya. Pilihannya kemudian jatuh pada CSR dinsos. ”Selama ini belum punya ruang saja,” katanya.

Sementara itu, Johanna Abigail dari Universitas Widya Mandala bakal fokus mendorong usaha dan ekonomi orang tua adik asuh dengan kemampuan dan jaringannya sendiri. ”Kalau usaha orang tuanya berhasil, nanti juga berdampak pada sekolahnya adik asuh,” katanya.

Rizky Hidayatullah dari Universitas Hang Tuah pun bertekad dan akan membantu adik asuhnya untuk dapat bersekolah lagi. Meski tidak punya usaha sendiri, Rizky lumayan percaya diri dengan pengalamannya sebagai aktivis dan melakukan funding untuk kegiatan kampus. Jaringan yang dimilikinya akan dimanfaatkan untuk membantu adik asuhnya. ”Kalau dari teman-teman kampus, dapat dana sedikit-sedikit saya pasti bisa,” kata mahasiswa jurusan hukum itu.

Direktur CSR Atiyun Najah Indhira menyatakan, pendampingan terhadap adik asuh memang bukan perkara mudah. Selain mampu menginvestasikan waktu di tengah aktivitas perkuliahan, seorang mahasiswa harus mampu merumuskan strategi khusus untuk membantu pendanaan keluarga adik asuh. ”Strateginya bagaimana, juga berbeda bergantung case masing-masing,” katanya.

Namun, kata Ayun –sapaan akrab Atiyun– hal paling mendasar yang harus diberikan seorang kakak pendamping adalah waktu. ”Roh kegiatan CSR itu adalah pendampingan,” katanya.

Setelah nanti diterima dan resmi masuk skuad kakak asuh, mahasiswa harus merumuskan sebuah action plan pendampingan. Mulai identifikasi masalah adik asuh hingga memikirkan solusi dari masalah tersebut.

”Mahasiswa bebas berkreasi untuk memecahkan masalah seperti administrasi sekolah sampai pendanaan,” ujar Ayun. Skuad resmi kakak pendamping yang terdiri atas 300 orang akan diumumkan pada 23 Maret. (tau/c10/dos/sep/JPG)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia