Senin, 26 Jun 2017
Internasional

Ini Dia, Daftar Negara Paling Happy dan Paling Sedih di Dunia

Senin, 20 Mar 2017 19:12 | editor : Dwi Shintia

TENANG: Seorang lelaki berjalan dengan seorang anak di Bergen, Norwegia.

TENANG: Seorang lelaki berjalan dengan seorang anak di Bergen, Norwegia. (Stoyan Nenov/Reuters File Photo)

JawaPos..com – World Happiness Report merilis survey terbaru mereka. Badan yang merupakan bagian dari PBB itu menetapkan Norwegia sebagai negara paling happy di dunia. Posisinya mengalahkan Denmark yang tahun lalu menempati posisi terdepan.

Selain itu, posisi lima besar ditempati Islandia, Swiss, dan Finlandia. Posisi atas masih diisi negara-negara di Amerika Utara dan Eropa Timur dengan Amerika dan Inggris di posisi 14 dan 19. Sementara, di posisi bawah, yang artinya negara paling tidak bahagia, dipenuhi negara-negara dari Afrika dengan Republik Afrika Tengah di posisi terbuncit.

Dari daftar itu, posisi 10 besar diisi oleh Norwegia, Denmark, Islandia, Swiss, Finlandia, Belanda, Kanada, Selandia Baru, Australia, dan Swedia. Sementara, 10 negara terakhir alias paling tidak bahagia adalah Yamen, Sudan Selatan, Liberia, Guini, Togo, Rwanda, Syria, Tanzania, Burundi, dan Republik Afrika Tengah.

Cara mendapatkan angka tersebut berdasar survei sederhana kepada seribu subjek setiap tahun di 150 negara. ”Bayangkan tangga dengan anak tangga mulai 0 di bagian bawah dan 10 di bagian atas,” kata pernyataan dalam survei itu.

”Anak tangga paling tinggi mewakili kehidupan terbaik buat Anda dan anak tangga terbawah adalah kehidupan terburuk buat Anda. Secara personal, dimanakan Anda berdiri saat ini?” sambung survei itu.

Angka skor survei berkisar dari 7,54 untuk Norwegia dan 2,69 untuk Republik Afrika Tengah.

Survei itu juga berusaha menganalisa mengapa satu negara lebih bahagia dari negara lain. Jadi, ada perhitungan juga untuk pendapatan per kapita, dukungan sosial, harapan hidup, kebebasan, kemurahan, dan pemahaman atas korupsi.

Tahun ini, perhitungan juga mencakup kebahagian Amerika. Perhitungan itu demi mengetahui mengapa level kebahagiaan di AS jatuh meski perekonomian membaik. ”Krisis Amerika adalah krisis sosial, bukan krisis perekonomian,” ujar Jeffrey Sachs, direktur Sustainable Development Solutions Network, yang mempublikasikan hasil survei itu. Ditambahkan Sachs, kebijakan Presiden Donald Trump sepertinya ikut andil dalam turunnya level kebahagiaan masyarakat AS. (Reuters/BBC/tia)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia