Jumat, 26 May 2017
PEMENANG READERS CHOICE
Sepakbola Indonesia

Perjuangan “Gila” Bonek untuk Sampai ke Stadion GBT Demi Persebaya

Senin, 20 Mar 2017 14:12 | editor : Thomas Kukuh

NEKAT: Ratusan bonek yang rela mempuh jalanan berlumpur dan rawa-rawa hanya untuk nonton Persebaya di GBT, Minggu (19/3) (GUNAWAN SUTANTO/JAWA POS)

JawaPos.com - Bukan Bonek jika tak punya berbagai cara nekat agar bisa menyaksikan Persebaya bertanding. Itulah yang tergambar dari perjuangan ratusan Bonek menembus kemacetan di sekitar Gelora Bung Tomo (GBT). Begitu mengetahui jalan menuju GBT macet total, ratusan suporter yang datang dari arah Raya Benowo dan Kepatihan memilih memarkir motornya di sekitar Jalan Raya Pakal, tak jauh dari Stasiun Kereta Api Benowo. Dari tempat parkir itu ratusan suporter menembus pematang tambak agar bisa mencapai GBT.

Seperti diketahui GBT merupakan stadion paling megah, yang letaknya di pinggiran Surabaya. Lokasinya berada di tengah-tengah area tambak. Akses menuju ke sana hanya ada dua jalur. Melalui Jalan Raya Benowo, masuk ke Jalan Singapur, lalu Jalan Kauman dan berakhir di Jalan Jawar. Akses satu lagi melalui Jalan Tambak Osowilangun, Jalan Romokalisari dan berakhir ke Jalan Jawar.

Nah, jalan Jawar inilah yang sering menjadi masalah. Jalan yang tidak begitu lebar seringkali tak bisa menampung suporter yang akan menuju ke stadion. Oleh karena itulah perlu menempuh jalur-jalur alternatif untuk bisa sampai ke komplek stadion. Seperti salah satunya menembus pematang tambak. 

Tak mudah untuk melintasi pematang tambak di sana. Jalan yang dilalui suporter sangat terjal. Lebar pematang itu rata-rata 60 meteran. Kondisinya? jangan tanya lagi. Sudah becek, berlumpur dan berbatu cadas. Perjalanan melintasi pematang itu dimulai dari menyeberang rel kereta api. Antara perlintasan kereta api dan pematang tambak di sana dipisahkan oleh sebuah parit yang cukup curam. Tapi itu bukan halangan bagi bonek. Dengan berbagai cara mereka melintasi parit yang kotor sekali. 

Dengan bergotong royong, mereka membantu satu sama lain agar bisa sama-sama menyeberang. Ada yang memotong batang pohon untuk jembatan. Ada yang bertugas membantu menyeberang. Bagi yang tidak sabaran menunggu antrian menyeberang mereka memilih nyemplung ke parit. Rintangan tak hanya di awal perjalanan. Di beberapa titik, banyak pematang sawah yang tidak tersambung. Perjalanan dari titik awal hingga area GBT butuh sekitar 45 menit.

HARUS BISA: Bonek-bonek yang antri untuk melintas di jalan setapak untuk ke GBT, Minggu (19/3)

HARUS BISA: Bonek-bonek yang antri untuk melintas di jalan setapak untuk ke GBT, Minggu (19/3) (GUNAWAN SUTANTO/JAWA POS)

Tidak hanja Bonek laki-laki yang melakukan ini. Banyak juga Bonita, julukan Bonek Wanita yang memilih jalan pintas agar bisa mencapai GBT. Bahkan tidak sedikit bapak-bapak yang membawa anaknya. Seperti Ahmad Zaki yang membawa anak lelakinya. Zaki beberapa kali harus menggendong anaknya ketika harus nyemplung parit.

’’Nanggung sudah sampai sini harus bisa sampai stadion. Bukan bonek kalau nggak nekat. Semua demi Persebaya,” ujarnya. Anak lelaki Zaki juga tampak menikmati. Sesampai di area GBT kebanyakan suporter tak langsung masuk. Mereka membersihkan kaki, sendal bahkan sepatu mereka yang penuh lumpur. (gun/jpg)

Alur Cerita Berita

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia