Sabtu, 24 Jun 2017
Features

Evan Raditya Pratomo, Ilustrator Terpilih Film Ghost in the Shell

Senin, 20 Mar 2017 01:56 | editor : Suryo Eko Prasetyo

BIKIN KAGUM: Evan Raditya Pratomo (kiri) bersama tim produksi film Ghost in the Shell saat di lokasi syuting, Wellington, Selandia Baru.

BIKIN KAGUM: Evan Raditya Pratomo (kiri) bersama tim produksi film Ghost in the Shell saat di lokasi syuting, Wellington, Selandia Baru. (Evan Raditya Pratomo for Jawa Pos/JawaPos.com)

Paramount Pictures Corporation, produsen dan distributor film Amerika Serikat, menggandeng Evan Radityo Pratomo sebagai ilustrator film Ghost in the Shell. Undangan datang setelah melihat karya-karya Evan.

BRIANIKA IRAWATI, Surabaya



EDISI JEPANG: Poster salah satu karya Evan.

EDISI JEPANG: Poster salah satu karya Evan. (Evan Raditya Pratomo for Jawa Pos/JawaPos.com)

MAJOR dan BATOU adalah dua karakter utama dalam Ghost in the Shell (GITS). Wajah Major menghadap ke depan, sedangkan Batou ke arah samping. Seolah-seolah dua sosok tersebut memiliki ikatan yang kuat. Apalagi, terdapat elemen air di tengah-tengah gambar wajah mereka. Itu menambah kekuatan karakter dua tokoh tersebut.

Keduanya tergambar dalam satu bingkai desain poster berjudul Ghostdive. Itulah salah satu karya Evan Raditya Pratomo dalam film GITS. Sebuah film produksi Paramount Pictures Corporation yang dirilis 31 Maret mendatang. ’’Ini seperti menjawab impian saya. Bisa bergabung di produksi film Hollywood,’’ ujar Evan saat ditemui di Universitas Ciputra (UC) Surabaya Jumat (24/3).

Ada dua karya ilustrasi Evan yang digunakan film GITS. Selain Ghostdive, ada karya berjudul Ghosthack. Sama-sama menonjolkan karakter utama film GITS. Bedanya, dalam gambar kedua tersebut, Evan menggambar sosok Major saja. Di sana tergambar seorang karakter perempuan sedang berada di tengah hiruk pikuk perkotaan. Nuansa yang dibangun seolah-olah berada pada era 1995. Tepatnya saat pertama film anime GITS dirilis. ’’Salah satu adegan yang ikonik banget menurut saya. Adegan tersebut juga diadaptasi dalam versi video game,’’ ungkap pria 26 tahun tersebut.

Evan menceritakan, dua poster miliknya itu juga digunakan sebagai social media campaign dari film GITS. Tentunya, poster tersebut memiliki peran penting sebagai media promosi sebelum premier film. Tidak hanya Evan, film GITS juga mengajak beberapa ilustrator dari negara lain. Mereka adalah Hsiao Ron Cheng (Tiongkok), Jan Urschel (Singapura), Pete Lloyd (Spanyol), Gustavo Torres (Argentina), dan Hayden Zezula (Amerika Serikat). ’’Banget dan senang banget. Saya satu-satunya dari Indonesia,’’ katanya.

Kiprah Evan dalam film tersebut bukan tiba-tiba. Cerita bermula pada Mei 2016. Ketika itu, keberuntungan beruntun menghampiri Evan. Secara tiba-tiba, Evan mendapat surat elektronik. Pengirimnya adalah Paramount Pictures Corporation. Saat membaca isi e-mail tersebut, Evan bukan malah senang. Tetapi, dia malah bertanya-tanya. Antara percaya dan tidak. ’’Paling ini juga bohongan. Jangan-jangan ini hanya spam,’’ ujar alumnus Jurusan Visual Communication Design (VCD) UC Surabaya tersebut.

Sekali baca tidak percaya. Kedua dan ketiga, hasilnya juga masih sama. Setelah mempelajari secara cermat, Evan tersentak. Paramount Pictures Corporation benar-benar mengirimkan surat undangan kepada Evan. Mereka mengajak Evan untuk bergabung dalam pembuatan film GITS yang bertema cyberpunk.

E-mail tersebut dikirimkan sehari setelah Evan mengunggah desain terbarunya di salah satu akun media sosial. ’’Ternyata mereka tahu dari situ. Dalam e-mail, mereka juga melampirkan karya saya yang dianggap menarik,’’ tuturnya.

Setelah percaya itu nyata, barulah Evan menceritakannya kepada orang tua. Dia merasa beruntung. Keluarganya memberikan dukungan besar kepada Evan. Semangat itu pula yang membuat rasa percaya dirinya bertambah untuk melangkah ke tahap selanjutnya.

Salah satu di antaranya, Evan harus datang di lokasi syuting film GITS pada pekan selanjutnya. Karena itu, rasa waswas sempat menghampiri Evan. Visa belum di tangan dan dia masih memiliki banyak perkerjaan di Malang. ’’Modalnya nekat dan keberanian saja. Saya berusaha mengurus persyaratan keberangkatan secepatnya,’’ ujarnya.

Semangat itu diperkuat niat Evan untuk memberikan kado spesial kepada mamanya, Putri Untasnia, 10 Mei. Bertepatan dengan keberangkatan Evan ke Selandia Baru. Saat itu mamanya berulang tahun. ’’Bersyukur banget saya baru dapat visa pada hari H Mama berulang tahun. Saya langsung bilang bahwa keberangkatan ke negara itulah kado spesialnya,’’ ujar pria yang lahir di Malang, 16 Juni 1990, tersebut.

Kejadian itu memberikan banyak pelajaran bagi Evan. Banyak orang sekitar yang begitu sayang kepada Evan. Selain itu, dia menjadi tahu bahwa keberuntungan bukanlah hal yang bisa didapat begitu saja. Ada usaha keras yang harus dilakukan. Selain keberanian dan optimisme.

Saat tiba di Selandia Baru, rasa tidak percaya masih menyelimuti perasaannya. Itu merupakan pengalaman pertama Evan bisa terlibat langsung dalam pembuatan film Hollywood. Dia bisa bertemu dengan artis-artis dunia yang membintangi film GITS. Di antaranya, Scarlett Johansson, Takeshi Kitano, Michael Pitt, dan Pilou Asbaek. ’’Memang saya nggak komunikasi langsung. Tapi, dengan melihat syuting mereka, saya sudah senang banget,’’ ungkapnya.

Belum lagi, Evan bisa bekerja sama dengan tim produksi film. Hampir sebulan di Selandia Baru, Evan mendapat berjuta-juta pengalaman berharga. Mulai mengetahui cara membuat film, termasuk ritme pekerjaannya. Di sana dia juga bisa melihat properti, kostum, dan beberapa lokasi syuting yang digunakan.

Evan ditarget untuk menyelesaikan tugas. Ada dua poster film yang harus didesain. Dia tidak mau membuang kesempatan emas tersebut. Evan berusaha keras menyelesaikan target yang diberikan pihak produksi film. Satu poster harus diselesaikan Evan dalam waktu tiga minggu.

Membuat desain poster film ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan kendati dia sudah terbiasa membuatnya. Paling tidak Evan harus menyesuaikan desain dengan karakter film GITS. Karena itu, dia mempelajari betul cerita film. ’’Saya menonton filmnya lagi. Apa ya yang menarik, itu yang menjadi kekuatan desain poster,’’ katanya.

Usaha keras Evan pun membuahkan hasil. Tidak banyak revisi kesalahan yang diterima. Kesalahan itu hanya minor. Terutama saat pewarnaan desain. Hal tersebut tentu membuat hati Evan senang bukan main. ’’Setidaknya saat kamu nonton film, kamu dapat bercerita kepada temanmu bahwa kamu ada di sini,’’ kata Evan menirukan ucapan salah seorang kru film.

Kemudian, pada November 2016, Evan juga diundang ke Tokyo, Jepang, dalam acara trailer screening perdana film GITS. Para pemain dan penggarap film hadir dalam acara tersebut.

Evan berharap, sepenggal ceritanya tersebut bisa memberikan inspirasi. Terutama kepada anak muda Indonesia. Setidaknya, dua karya serta biodata Evan sudah tercatat di arsip data Paramount Pictures. Evan juga mempersembahkan hadiah tersebut untuk bangsa. ’’Ini hadiah dari saya, seorang ilustrator yang bermimpi menjadi seorang pelukis sejak usia 5 tahun. Ya, kita bisa,’’ tegasnya. (*/c4/git)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia