Jumat, 31 Mar 2017
Finance

BNI Bagikan Dividen Pada Pemegang Saham Rp 3,96 Triliun 

Jumat, 17 Mar 2017 15:05

Ilustrasi

Ilustrasi (Dok.JawaPos.com)

JawaPos.cokm - PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) membagi dividen Rp 3,96 triliun atau 35 persen dari laba bersihnya tahun lalu. Laba bersih emiten berkode saham BBNI itu tahun lalu naik 25,1 persen dari Rp 9,07 triliun pada 2015 menjadi Rp 11,34 triliun. 

Khusus untuk pemerintah yang memegang 60 persen saham, dividen yang disetor Rp 2,38 triliun. Sisa 65 persen dari laba bersih atau Rp 7,37 triliun menjadi saldo laba ditahan.

Dalam rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) kemarin (16/3), BNI juga mengumumkan wakil direktur yang baru, yakni Herry Sidharta. Herry akan menggantikan Suprajarto, yang kini telah pindah ke PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) menjadi direktur utama. Sebelumnya, Herry adalah direktur bisnis korporasi di BNI.

Direktur Utama BNI Achmad Baiquni menuturkan, tahun ini perseroan berupaya melakukan perubahan dalam rencana ekspansi. Yakni, membatalkan rencana membuka kantor cabang di Arab Saudi. Sebab, pengurusan izin untuk membuka kantor cabang di sana cukup sulit. Rencana pembukaan kantor di Arab Saudi itu diutarakan perseroan sejak 2013 dengan tujuan pembukaan di Jeddah, Madinah, serta Makkah.

Perseroan tengah mempertimbangkan kenaikan status kantor representatif di Yangon, Myanmar, menjadi kantor cabang. Selain itu, BNI mempertimbangkan rencana pembukaan kantor di Kuala Lumpur, Malaysia. 

’’Tapi, itu juga masih kita hitung secara lebih tajam lagi. Karena memang membuka cabang di Malaysia itu membutuhkan modal yang cukup besar. Kurang lebih sekitar USD 75 juta,’’ ujarnya.

Saat ini BNI telah membuka kantor di beberapa kota besar di belahan dunia. Di antaranya, Singapura, New York (AS), London (Inggris), Tokyo dan Osaka (Jepang), Hongkong, serta Seoul (Korea Selatan). Menurut Baiquni, BNI juga sedang menjalani tahap menjadi qualified ASEAN Bank (QAB). Diharapkan, pasar ASEAN bisa digarap lebih serius sehingga BNI bisa memperluas basis nasabahnya.

BNI tahun ini juga berencana menerbitkan obligasi senilai Rp 5 triliun. Penerbitan obligasi itu merupakan bagian dari penawaran umum berkelanjutan (PUB) dengan total nilai mencapai Rp 10 triliun. Obligasi tersebut diharapkan mampu mendukung ekspansi perseroan serta membayar utang jatuh tempo.

Dalam menghadapi tekanan The Fed, perseroan telah berjaga-jaga dengan menerbitkan negotiable certificate of deposits (NCD) senilai Rp 2,7 triliun. Tenor NCD BNI cukup beragam, mulai 12 bulan, 18 bulan, 24 bulan, hingga 36 bulan. Aksi hedging itu dilakukan untuk mengantisipasi melemahnya rupiah ketika suku bunga acuan AS meninggi. (rin/c19/sof)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia