Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 17 Maret 2017 | 00.56 WIB

Meski Minim Pemain Bintang, Persiba Dilarang Berkecil Hati

Direktur Olahraga Jamal Al Rasyid (kanan) meminta Persiba Balikpapan tak ciut meski minim pemain bintang. - Image

Direktur Olahraga Jamal Al Rasyid (kanan) meminta Persiba Balikpapan tak ciut meski minim pemain bintang.

JawaPos.com - Meski minim pemain bintang, Persiba Balikpapan diminta tidak berkecil hati. Peluang meraih prestasi tertinggi masih sangat terbuka.


Berkaca dari gelaran Indonesia Super League 2009-2010, atau saat Beruang Madu -julukan Persiba- sukses meraih prestasi sepanjang sejarah klub dengan mengandalkan pemain muda dan pastinya belum punya nama mentereng. 


Sebut saja Alif Maulana, Aidin Elmi, M Hatta, dan Stevanus Bungaran. Jebolan PON Kaltim Sultan Samma dan Eddy Gunawan. Ditambah trio PSIS Semarang Johan Yuga Utama, Hendro Siswanto dan Feri Ariawan.


“Nama-nama ini saat masuk Persiba usianya sekitar 19 sampai 22 tahun. Otomatis mereka masih minim jam terbang dan belum punya nama. Tapi, hasilnya luar biasa,” kata Direktur Olahraga Persiba, Jamal Al Rasyid, Rabu (15/3) kemarin.


Pria yang juga menjabat sebagai manajer Persiba di masa keemasan tersebut menuturkan, pengelolaan tim yang apik menjadi salah satu penyebab kesuksesan. Manajemen dan tim pelatih mampu melakukan pendekatan dengan pemain secara maksimal. “Kami sering ngobrol dari hati ke hati. Memberi motivasi dan benar-benar menyerahkan Persiba ke tangan pemain,” tuturnya.


“Saya bersama pelatih kepala Daniel Roekito, Haryadi, Otnel Udan, serta Asisten Manajer Paman Gareng (Bahruddin) rutin mengajak diskusi pemain terkait tim. Bahkan, saya mewajibkan diri sendiri untuk selalu hadir di saat tim melakukan latihan sekecil apapun. Begitu juga dengan asisten manajer,” ungkap Jamal.


Mengapa ini dilakukan? Jamal menegaskan, ini bentuk komitmen dirinya dan asisten manajer agar semua yang ada di tim merasa diperhatikan. Suka maupun duka dilalui bersama. Dari situ manajemen membentuk kebersamaan di dalam tim. Terkadang tanpa sepengetahuan pemain, tengah malam, Jamal dan Paman Gareng datang ke mes untuk mengontrol pemain.


“Ini untuk memastikan tidak ada pemain yang keluyuran malam. Alhamdulillah, tidak ada karena semua pemain menjalankan komitmen yang saya buat sejak awal. Pemain muda merasa terayomi,” beber Jamal.


Untuk internal kepengurusan, komunikasi manajer dan tim pelatih juga berjalan lancar. Segala keputusan selalu diambil secara mufakat. “Untuk urusan tim, saya selalu memiliki catatan. Terutama saat tim melakoni laga away. Semua terkontrol. Ini yang membuat kami perkasa di luar,” tuturnya.


Intinya, membangun kebersamaan. Membuat anak-anak muda memiliki kepercayaan diri dan benar-benar diberi keleluasaan dalam menampilkan kemampuan yang dimiliki. Terlebih dengan regulasi yang baru, di mana setiap tim wajib menurunkan tiga pemain muda di babak pertama. 


“Semua elemen harus terus memberi dukungan ke anak-anak muda. Saya yakin kalau kebersamaan sudah terbentuk, 50 persen raihan prestasi sudah di tangan,” pungkas Jamal. (ndu/is/ira/JPG)

Editor: Irawan Dwi Ismunanto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore