Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 13 Maret 2017 | 19.22 WIB

Ahok: Saya Titip Doa Supaya Dilapangkan Jalan Kuburnya

Ahok usai bertemu keluarga Nenek Hindun di Karet, Setia Budi, Jakarta Selatan, Senin (13/3). - Image

Ahok usai bertemu keluarga Nenek Hindun di Karet, Setia Budi, Jakarta Selatan, Senin (13/3).

JawaPos.com - Hari ini (13/3), Calon Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mengunjungi kediaman almarhum Hindun. Diketahui, jenazah nenek itu tak disalatkan di musala dekat rumah.


Ahok pun sempat berdiskusi dengan pihak keluarga Nenek Hindun. Saat diwawancarai, Ahok mengaku mereka mendiskusikan beberapa hal. Termasuk soal tempat tinggal keluarga yang berada di kawasan padat penduduk.


"Ya ngobrol ajalah, ini kan (rumah) kontrakan juga. Masalah kita itu orang kontrakan LBH (lembaga bantuan hukum) mahal dari bangun rumah susun," ujar Ahok di Karet, Setiabudi, Jakarta Selatan.


Kendati demikian, Ahok enggan merelokasi warga di kawasan tersebut. Pasalnya, tempat di sekitar situ padat dan tempat kerjanya dekat. "Enggak mau pindah, orang kerjanya dekat. Enggak mungkin rumah padat ini kita gusur," terangnya.


Mantan Bupati Belitung Timur itu hanya ingin menitip doa kepada Nenek Hindun serta keluarga yang ditinggalkan. "Saya titip doa supaya dilapangkan jalan kuburnya Bu Hindun," ucapnya.


Sebelumnya, Sunengsih (46), putri Hindun, mengaku ibunya meninggal pada Selasa (7/3) lalu. Dia menuturkan, setelah memandikan jenazah di rumah, dirinya lalu menghubungi pengurus musala Al Mu'minun yang berada di dekat rumahnya.


"Saya ngomong ke Ustaz Syafi'i (pengurus musala), 'Pak Ustaz ini ibu saya minta disalatkan di musala bisa nggak?', Pak Ustaz langsung jawab, 'Nggak usah, Neng, percuma. Udah di rumah aja. Entar saya pimpin'. Memang benar sih dia pimpin, saya bilang ya udah," ujar Sunengsih.


Meski menerima jenazah ibunya disalatkan di rumah, Sunengsih menyimpan penyesalan karena tak bisa memenuhi keinginan ibunya disalatkan di musala. Terlebih, setelah muncul kabar musala Al Mu'minun memang menolak menyalatkan jenazah pendukung dan pembela penista agama Islam.


Dua hari setelah jenazah Hindun dimakamkan, cerita Sunengsih ini mengalir dari mulut ke mulut hingga sampai ke telinga lurah dan camat. Lurah dan camat sampai datang ke rumah Sunengsih, yang kemudian mengadukan kabar soal penolakan menyalatkan jenazah di musala Al Mu'minun. (uya/JPG)

Editor: Fadhil Al Birra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore