Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 12 Maret 2017 | 06.42 WIB

Listrik Dicabut PLN, Museum Museum Perang Dunia II jadi Terbengkalai

Museum PD II di Morotai yang terbengkalai - Image

Museum PD II di Morotai yang terbengkalai

JawaPos.com - Memprihatinkan. Itulah kata yang pas untuk menggambarkan kondisi Museum Perang Dunia II yang dibangun tahun 2012. Padahal di dalam museum yang diresmikan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono kala itu, menyimpan banyak situs sejarah perang dunia kedua.

Muhlis Eso, warga Morotai yang dipercayakan untuk menjaga museum tersebut mengaku pasrah ketika pihak Perusahan Listrik Negara (PLN) datang melakukan pemutusan terhadap listrik di Musem tersebut. Padahal Muhlis mengaku, meteran listrik yang menggunakan sistem voucher pulsa itu selalu diisi.

Namun entah kenapa pihak PLN datang dan lakukan pemutusan. "Katanya kita mencuri aliran listrik. Padahal aliran listrik itu dipasang sejak tahun 2012 dan pulsanya selalu diisi," akunya ketika ditemui di Museum Perang Dunia (PD) II di Desa Juanga Kecamatan Morotai Selatan (Morsel), Rabu (1/03).

Museum yang terletak di Desa Juanga Kecamatan Morotai Selatan (Morsel) itu, kata Muhlis, masih diperhatikan saat Kepala Dinas Pariwisata (Kadispar) Provinsi masih dijabat Nurlaila Armaiyn. Namun setelah Nurlaila dicopot dari jabatannya, Museum PD II seperti kehilangan penghuni.

"Saya hanya disuruh jaga. Tanpa digaji tapi sangat disayangkan situs sejarah yang begitu banyak ditampung dalam museum tapi tidak diperhatikan oleh Pemkab Morotai maupun Pemprov Malut," katanya seperti dilansir dari Malut Post (Jawa Pos Group).

Bangunan yang berukuran 20x20 meter persegi itu, saat ini atapnya sudah bocor, plafonya rusak. Sehingga saat musim hujan tiba, di dalam gedung museum tergedang air dan beberapa baliho Lukisan PD II mulai rusak karena tergenag air. Bahkan dalam ruangan museum saat ini sangat gelap karena pihak PLN sudah melakukan pemutusan aliran listrik. Kalau masuk ke museum harus menggunakan alat penerangan. "Kalau ada turis yang mau berkunjung saya malu, karena kondisi ruangan bau dan tidak terurus," keluhnya.

Muhlis mengaku, dirinya merasa kecewa terhadap Pemprov Malut dan Pemkab Pulau Morotai karena setelah bangunan museum itu dibangun, katanya ada anggaran perawatan untuk bangunan museum, tapi setelah Ila Armain tidak menjabat lagi di tahun 2015, hingga saat ini anggaran perawatan dari provinsi maupun pemkab tidak lagi diberikan. "Morotai dikenal karena situs sejarah PD II, tapi kalau isi dari museum ini dicuri dan tidak ada lagi apa yang mau dilihat di dalam museum tersebut," cetus lelaki yang saat ini berusia 36 tahun itu.

Muhlis berharap, pemkab maupun pemprov segera memperbaiki museum tersebut. Kalau tidak dirinya bersama rekan-rekannya menarik semua situs sejarah PD II yang ada di dalam museum dan dikembalikan lagi di gubuk musem. “Karena di museum itu, jauh dari pemukiman warga, sehingga kalau ada pencuri yang masuk, maka tidak diketahui,” ujarnya.
(din/jfr/sad/JPG)

Editor: Muhammad Syadri
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore