Jumat, 26 May 2017
PEMENANG READERS CHOICE
Bisnis

Data Pelanggan Jadi Aset Terbesar

Selasa, 07 Mar 2017 17:57 | editor : Suryo Eko Prasetyo

Senior Director Asia Pasifik Cloudera Daniel Ng

Senior Director Asia Pasifik Cloudera Daniel Ng (Dok Asia Pacific Cloudera)

JawaPos.com – Memanfaatkan teknologi adalah kunci utama bagi perusahaan dari segala jenjang dan industri. Teknologi baru guna menciptakan model-model bisnis canggih yang mampu menghadirkan nilai yang lebih besar bagi para pelanggan mereka.

Hal tersebut disampaikan oleh Daniel Ng, Senior Director Asia Pacific Cloudera, Minggu (5/3). Para pelaku bisnis, saat ini mengetahui hal tersebut dan telah menyaksikannya sendiri. Pemerintah pun mendukung hal ini. Mulai dari Committee on the Future Economy di Singapura hingga ASEAN Economic Community yang terbentuk pada 2015, serta Innovation Growth Programme di India.

Pemimpin-pemimpin pemerintahan dan perusahaan-perusahaan yang berpengaruh di wilayah tersebut terus mengembangkan kemampuan-kemampuan inovatif, memanfaatkan teknologi dengan lebih baik, serta menerapkan model-model bisnis baru agar tetap relevan dan kompetitif.

Peluang-peluang telah tersedia, namun apa saja yang harus dipertimbangkan oleh para pemimpin bisnis ketika akan melakukan revolusi ini. Menurut Daniel Ng, ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk memulainya. Dia menyebutkan dengan meluasnya gaya hidup digital, para konsumen kini dimanjakan dengan berbagai pilihan dan ekspektasi yang jauh lebih tinggi dari sebelumnya.

''Penting bagi para pebisnis untuk memahami kebutuhan-kebutuhan pelanggan mereka yang terus berubah dan memposisikan para pelanggan tersebut di pusat pengambilan keputusan. Bagaimana para pelaku bisnis dapat melakukan hal ini? Semua itu dimulai dengan data,'' ujarnya.

Saat ini, semua perusahaan (besar atau kecil) harus memiliki kemampuan-kemampuan untuk memanfaatkan model bisnis yang digerakkan oleh data. Di mana, para pekerja dapat mengekstrak informasi dari data dan menciptakan suatu gambaran holistik dari segmen-segmen pelanggan.

Bahkan, menurut laporan Forrester baru-baru ini, perusahaan-perusahaan yang mengutamakan wawasan pelanggan berkembang lebih cepat secara signifikan dibandingkan dengan para pesaing.

''Dengan tool yang tepat dapat memanfaatkan data yang dihasilkan dari berbagai sumber yang berbeda. Data pelanggan dapat dengan mudah diubah menjadi aset bisnis terbesar yang pernah ada,'' kata Daniel Ng.

Selain itu, kolaborasi merupakan kunci keberhasilan. Pemasaran berada di garis depan dalam proses ini. Sebab, mereka memiliki pengetahuan terluas mengenai perilaku dan titik kontak pelanggan. Lini-lini bisnis memiliki pandangan yang jelas terkait tujuan dan tantangan bisnis secara keseluruhan. Divisi TI memiliki kemampuan teknik dan pengetahuan untuk menerapkan teknologi-teknologi canggih.

“Dan setiap karyawan memiliki peran dalam mengembangkan budaya perusahaan dan keterampilan-keterampilan individu masing-masing. Semua pihak perlu bekerja sama,”katanya.

Di saat yang sama, penting bagi para pemimpin bisnis untuk memiliki budaya berinovasi, mendorong pengadopsian teknologi disruptif di seluruh perusahaan, serta berfokus pada peningkatan keterampilan setiap pekerja guna menciptakan budaya perusahaan yang inovatif. Perubahan ini dimulai dari atas, namun perlu menyebar ke seluruh bagian perusahaan.

Dari segi bisnis, Daniel Ng melihat tanggung jawab berada di tangan para pemimpin untuk memastikan tim-tim mereka mendapatkan kesempatan untuk meningkatkan kemampuan, berkolaborasi. “Dan tetap selaras dengan teknologi-teknologi yang inovatif dan proses-proses bisnis baru,”tambahnya.

Salah satu cara bagi perusahaan agar semakin cerdas adalah dengan menemukan mitra teknologi yang tepat guna mendorong strategi data mereka. Dengan meningkatnya permintaan untuk memproses dan menganalisis volume data yang luar biasa besar, teknologi yang tepat akan memungkinkan perusahaan untuk memanfaatkan berbagai jenis data, serta memberikan wawasan mendalam dan nilai bisnis.

''Mitra yang tepat dapat membantu menjembatani kesenjangan kemampuan IT dengan mengembangkan keahlian karyawan melalui pelatihan dan dukungan. Mitra yang tepat seharusnya tidak lagi hanya bertanggung jawab atas infrastruktur atau penerapan teknologi, namun juga harus sepenuhnya selaras dengan tujuan bisnis, strategi, dan kebutuhan dalam menerapkan teknologi tersebut. Mitra yang tepat harus membantu mendorong pebisnis dalam mengajukan lebih banyak pertanyaan atas data mereka, menemukan jawaban-jawaban yang lebih bermakna, serta membuat keputusan-keputusan yang lebih cerdas,'' paparnya. (dio/sep)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia