
PEDULI: Para penggerak Lentera Harapan dengan para anak didiknya.
Prihatin. Kata itulah yang mengawali belasan mahasiswa dari berbagai kampus untuk mengabdi kepada masyarakat. Melalui komunitas Lentera Harapan, mereka memberikan pendidikan bagi anak-anak rentan dan putus sekolah.
EDI SUSILO, Surabaya
LANTUNAN ayat suci Alquran sayup-sayup terdengar ketika Jawa Pos memasuki Jalan Dukuh Kupang Barat 1 Buntu 3. Suara tersebut semakin jelas ketika Jawa Pos memasuki gang selebar 1,5 meter itu Selasa lalu (21/2). Gema ayat suci Alquran tersebut berasal dari rumah nomor 4. Tepatnya di lantai 2. Rumah milik Khoiriyah.
Pukul 16.00 sebanyak 20 anak berusia 7–13 tahun telah berkumpul. Mereka duduk lesehan membentuk lingkaran. Para laki-laki duduk di sebelah selatan. Sedangkan para perempuan duduk di sisi utara. Laki-laki mengenakan songkok-celana panjang dan perempuan memakai hijab. Aktivitas mengaji tersebut rampung menjelang magrib.
”Ini gelombang kedua. Gelombang pertama mulai setelah asar tadi,” terang Direktur Lentera Harapan Ari Santi Dwi Irawati. Ya, program ngaji harian itu dibagi menjadi dua sif. Sesuai jenjang umur. Gelombang pertama untuk anak PAUD. Sedangkan gelombang kedua khusus anak setingkat SD.
Selain aktivitas mengaji, ruangan persegi panjang tersebut menjadi pusat kegiatan Lentera Harapan. Mulai les, baca buku gratis, hingga belajar membuat kerajinan. Semuanya dilakukan di ruangan yang dibangun pada pertengahan Agustus 2016.
Ruang sederhana berisi ratusan buku tersebut hasil jerih payah Lentara Harapan. Bersama warga binaan, mereka berhasil membangun ruang itu dari hasil keuntungan bazar yang diikuti setiap Ramadan. ”Terkumpul Rp 13 juta dan kami buat ruang ini,” tutur Santi sambil menepuk tembok ruang.
Santi mengisahkan, pendirian komunitas Lentera Harapan berawal dari keprihatinan. Mereka prihatin melihat anak-anak di wilayah Putat Jaya Gang II yang hidup di tengah keterbatasan ekonomi. Mayoritas orang tua mereka bekerja serabutan. Mulai mengamen, berjualan makanan, hingga penunggu wisma. Kondisi serba kekurangan itu membuat banyak anak kurang mendapat perhatian orang tua. Terutama di bidang pendidikan.
Sejak 2007, seluruh anggota Lentera Harapan sepakat untuk bergerak. Setiap minggu, komunitas yang digawangi mahasiswa dari berbagai kampus tersebut mengadakan bimbingan belajar. Lokasinya di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Kawan Kita milik Kartono. Lokasinya juga di Putat Jaya Gang II.
Meski tak dipungut biaya, tidak berarti peserta langsung membeludak. Kali pertama kegiatan dimulai, jumlah anak yang semangat mengikuti bimbel sangat minim. Mereka lebih memilih bermain. Maklum, bimbingan tersebut dilakukan pada Minggu. Para mahasiswa akhirnya menerapkan strategi jemput bola. Mereka mendatangi siswa satu per satu untuk diajak les.
Untuk menarik minat, anak-anak tak hanya diajari materi pelajaran. Lentera Harapan juga mengajak mereka mengasah kreativitas. Misalnya, ada kelas sains, kelas prakarya, dan seni musik. Trik belajar sambil mengasah keterampilan itu ternyata jitu. Anak-anak mulai berdatangan. Mereka akhirnya mengikuti berbagai kegiatan yang diselenggarakan Lentera Harapan.
Keberhasilan tersebut tak membuat komunitas Lentera Harapan merasa puas. Masih di kawasan yang sama, pada 2011 Lentera Harapan kembali membuka bimbingan belajar gratis di Dukuh Kupang Barat Gang Buntu. Tak jauh dari Putat Jaya Gang II.
Kala itu tempat pembelajaran masih terbatas. Anak-anak dikumpulkan di lantai dasar sebuah rumah. Jika lokasi tak cukup, mereka terpaksa belajar di atas kuburan Putat Gede yang lokasinya tepat di depan gang rumah. ”Jadi, kami belajar di atas nisan kuburan. Sebenarnya ndak sopan juga sih. Tapi, mau bagaimana lagi,” ujarnya, lantas tertawa berderai.
Setelah berhasil membangun ruangan belajar permanen, Lentera Harapan mulai mengembangkan program. Setelah mengurusi masalah anak, kini mereka menyasar para orang tua. Salah satunya dengan membuka program parenting education selama dua bulan sekali. ”Kami punya alasan tersendiri mengapa program ini diberikan,” tutur Santi. Banyak anak di Putat Jaya yang memiliki pikiran jauh di atas usianya. Beberapa kali Santi pernah memergoki perilaku anak yang menyimpang. Mereka mendekati siswa lawan jenis. Bahkan, ada anak berusia sekitar tujuh tahun yang mengaku telah tidur dengan teman lawan jenis dan berpelukan. ”Tadi aku habis tiduran sama si anu. Enak Mbak, gulung-gulung,” tuturnya menirukan nada polos si bocah.
Meski miris, Santi mengungkapkan, kondisi tersebut terjadi karena keadaan yang mendukung. Mayoritas keluarga yang tinggal di gang makam memiliki rumah yang jauh dari kata ideal. Mereka hanya memiliki satu atau dua ruang di dalam rumah. Bahkan, ada keluarga yang memiliki tiga anak, tapi hanya punya satu ruang. ”Otomatis, jika orang tua berhubungan badan, sang anak bisa melihat,” terang alumnus Jurusan Akuntansi Universitas Airlangga (Unair) itu.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
12 Rekomendasi Mall Terbaik di Tangerang 2026: Destinasi Belanja, Kuliner & Lifestyle Favorit
Update Klasemen Usai MotoGP Catalunya 2026: Jorge Martin Gigit Jari, Bezzecchi Masih Tak Tersentuh
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Jadwal dan Link Live Streaming Moto3 Catalunya 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama Start P20
