Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 21 Februari 2017 | 03.25 WIB

Tujuh Isi Dalam Eho-Maki, Tujuh Dewa Keberuntungan

YUMMY: Dari kiri, Konjen Jepang untuk Surabaya Yoshiharu Kato, Chef Duta Besar Jepang untuk ASEAN Masato Tsuki, Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf, dan Ken - Image

YUMMY: Dari kiri, Konjen Jepang untuk Surabaya Yoshiharu Kato, Chef Duta Besar Jepang untuk ASEAN Masato Tsuki, Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf, dan Ken

Jawapos.com – Makanan bukan sekedar untuk dimakan. Di Jepang, masakan dianggap sebagai produk seni. Chef atau pembuat masakannya ibarat seniman. Karena dari satu makanan saja, proses hingga cara memakannya memiliki makna serta cerita yang unik. Budaya makanan Jepang inilah yang dipresentasikan dalam Food Tasting, di Kediaman Konsul Konsulat Jenderal (Konjen) Jepang di Surabaya Yoshiharu Kato, Jumat (17/2).


Ada dua masakan Jepang yang disajikan. Antara lain Eho-Maki dan Tempura. Proses pembuatan masakan tersebut dipresentasikan langsung oleh Chef Duta Besar Jepang untuk ASEAN, Masato Tsuki. “Ini pertama kalinya di Indonesia, Food Tasting diadakan,” ujar Kato. Dengen begitu, pihaknya memiliki harapan besar masakan Jepang semakin disukai oleh masyarakat Indonesia.


Pada Februari ini, Jepang memasuki musim dingin. Kato menerangkan restoran di Jepang banyak yang sepi hingga memasuki musim semi pada April mendatang. Karena itulah, berbagai upaya dan inovasi dilakukan oleh restoran untuk menarik minat makan masyarakat sekitar. “Semoga dengan acara ini, semakin banyak yang suka masakan Jepang,” ujar pria 61 tahun tersebut.


Masakan pertama yang disajikan adalah Eho-Maki. Serupa dengan sushi, namun Eho-Maki memiliki makna yang berbeda di Jepang. Menu yang memiliki arti good fortune suhi-roll tersebut biasanya dimakan oleh masyarakat Jepang saat Setsubun. Terutama di wilayah Osaka. Setsubun adalah penanda berakhirnya musim dingin dan berawalnya musim semi. Ritualnya, melempar biji kedelai dan meneriakkan “setan diluar, kebaikan didalam.”.


Sambil mempraktekkan, Masato Tsuki menjelaskan cara memasak Eho-Maki yang benar. “Tujuh bahan isian langsung dimasukkan dalam satu gulungan nori. Tujuh ini sesuai dengan jumlah dewa keberuntungan,” ujarnya. Paling enak, Eho-Maki langsung disantap setelah dimasak. Dengan begitu, rasa masih fresh. Chef 39 tahun tersebut, Eho-Maki memiliki keunikan tersendiri. Selain prosesnya, cara makannya juga ada aturannya. Inilah yang membedakan antara Eho-Maki dan Sushi.


Salah satunya, gulungan Eho-Maki langsung disajikan tanpa dipotong terlebih dulu. Saat memakannya, diharapkan jangan berbicara. Suasana sunyi, hanya terdengar suara orang mengunyah saja. Saat memakannya, juga harus menghadap arah mata angin. Lalu, memakannya juga dalam satu lahap. Karena apabila menggigitnya, berarti menandakan memutus keberuntungan, “Nanti kita semua akan mencicipinya, dan coba makan menghadap Bapak Konjen,” canda Staf Bidang Pendidikan dan Kebudayaan Konjen Jepang di Surabaya, Kaori Mohohira, lantas tertawa.


Menu yang kedua adalah tempura, berbahan udang dan sayuran. Masakan Jepang yang sudah dikenal sejak abad 16 ini memang paling banyak ditemukan di restoran Jepang. “Tempuran memiliki tekstur renyah diluar, Jadi saat digigit, harus bunyi kres,” sambung Masato lagi.



Acara ini dihadiri oleh Wakil Gubenur Jawa Timur Saifullah Yusuf. Pria yang akrab disapa Gus Ipul ini tak mau ketinggalan mencicipi sekaligus mencoba untuk memasaknya langsung. “Di negara mana saja, kita sering jumpai restoran Jepang. Inilah yang harus kita tiru untuk kuliner Indonesia,” ujarnya. Sebab, makanan bukan sekedar kuliner, namun sudah menjadi lifestyle masyarakat. (bri/cr3/sep)

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore