
BERPENGALAMAN: Lia Zen meracik kopi di kedainya yang berada di bilangan bundaran GOR Delta, Sidoarjo.
Terlahir dari keluarga petani kopi, Lia Zen tidak lagi menganggap kopi sebagai komoditas. Bagi dia, kopi adalah tradisi, penuh histori, dan menginspirasi. Berkat dedikasinya, dia menyandang gelar Duta Kopi Indonesia.
RESVIA AFRILENE
SEMERBAK mewangi biji-biji kopi sudah menjadi kawan lama bagi Lia. Terlahir di Lampung, daerah yang memang terkenal dengan kekayaan perkebunan kopinya, perempuan 35 tahun itu sangat menggandrungi kopi. Kopi tidak hanya menjadi bisnis yang kini digeluti, tetapi juga identitas bagi dirinya sebagai anak bangsa.
’’Kopi itu jiwa bagi kami. Saya dan masyarakat Lampung,” ujar Lia. Saat ditemui di kafe miliknya di bilangan bundaran GOR Delta, Lia memeriksa kesegaran biji-biji kopi yang disimpan rapi dalam stoples-stoples kaca. Setiap stoples diberi nama sesuai biji yang ada di dalamnya. Ada Kota Gede, Aceh Gayo, hingga Bali Kintamani.
Dia lalu membuka stoples berisi biji kopi Kota Gede. Stoples itu sedikit lebih kecil daripada yang lain. Kemudian, Lia mencium aromanya. Sambil memejamkan mata, Lia menilai kesegaran kopinya. ’’Masih masa fresh,” celetuknya, lalu menutup stoples.
Lia melakukan itu pada setiap stoples yang ada. Lia mengecek belasan stoples sebelum tiga peracik di kafenya memproses dan menyajikan kopi tersebut ke konsumen. Rutinitas itu dilakukan setiap hari. Lia memberikan contoh agar para peracik kopi yang dididiknya telaten memeriksa kesegaran biji kopi sebelum diseduh.
’’Premium tidak harus mahal. Premium itu ketika biji kopi tersebut diperlakukan dengan baik dan benar,” ujarnya.
Lia kemudian mempersilakan Jawa Pos merasakan kopi racikannya sendiri. Kopi paling spesial tentunya. Dia menyeduh biji kopi itu secara manual atau disebutnya manualbrew. ’’Pakai V 60 saja ya. Ini cara paling dasar yang peracik kopi harus bisa,” ujarnya sembari menuangkan air panas secara memutar di tisu khusus untuk manualbrew V 60.
Saat diseruput, asam nangka menyeruak ke lidah. ’’Itu namanya yellow cattura. Pohonnya hanya ada 700 di Indonesia,” kata Lia, lantas tersenyum bangga.
Kedai kopi adalah dunia di mana Lia berkecimpung. Sebagai desainer dan manajer kafe yang memiliki banyak klien, Lia tahu betul proses industri hilir dari komoditas kopi. Namun, hal itu tidak membuatnya terlena. Lia terus getol mempelajari daerah-daerah yang menjadi pusat perkebunan kopi sejak 2011. ’’Kami yang di sini bisa untung lumayan dengan berbisnis kopi Indonesia. Tapi, begitu melihat nasib petani kopi kita, aku miris banget,” ujarnya.
Bukan hanya Lampung, kota kelahirannya, yang dia jadikan contoh. Istri Wahib Basir itu juga tidak jarang hiking bersama sang suami ke lereng-lereng gunung penghasil kopi. Tujuannya, mempelajari proses pertanian kopi. Di antaranya, kawasan Aceh yang ditinggali Suku Gayo di sekitar Danau Laut Tawar. Lalu, di lereng Gunung Dieng dan lereng Gunung Bromo.
Dia juga intensif mengawal proses perkebunan di Kampung Lereng Gombengsari, Banyuwangi. ’’Awalnya ya sekadar hiking. Hanya, kami berdua selalu mencari yang ada perkebunan kopinya, eh nggak tahunya ketemu yang menarik dan keterusan,” papar Lia, lantas tertawa ringan.
Berawal dari kenyataan bahwa para petani selalu asal memanen biji kopi dan menjualnya dengan harga yang sangat murah kepada tengkulak, Lia pun membulatkan tekad. ’’Aku pikir mereka bukan tidak bisa, tapi tidak tahu,” tegasnya.
Sejak itulah, Lia makin yakin bahwa edukasi ke petani kopi di Indonesia sangat diperlukan. Bahkan, mutlak. Jika tidak, bukan hanya sejarah dan tradisi yang lama-kelamaan luntur. Tapi, jiwa bangsa pun bakal hanyut. Berbekal pengalaman semasa kecil yang hidup di daerah perkebunan kopi, ditambah banyak ilmu yang didapat saat menggeluti bisnis kafe, Lia pun memulai proyek edukasi petani kopi. ’’Yang paling penting, mereka harus tahu cara menaikkan value added. Nah, aku kenalkan mulai red ceri sampai green bean,” jelas ibu tiga anak tersebut.
Menurut Lia, ada dua hal yang perlu diketahui para petani kopi. Pertama, kebutuhan biji kopi bermutu yang dipanen dengan benar. Kedua, pengetahuan akan proses pertanian kopi premium supaya harga jual tinggi. Dia pun tergerak memberikan penjelasan.

Alasan Mengapa Jude Bellingham Menampar Pemain Argentina Setelah Inggris Tersingkir dari Piala Dunia 2026
Rekor Pertemuan Lengkap Argentina vs Spanyol, Mencari Juara Sejati di Final Piala Dunia 2026
Menteri PU Dody Hanggodo Ungkap 10.000 Pegawai Terindikasi Judol dan Masalah Absensi
Analisis Prediksi Bursa Inggris vs Argentina di Piala Dunia 2026: La Albiceleste Sudah Teruji hingga 120 MenitÂ
Komedian Temon Kristen Tapi Punya Banyak Istri, Begini Kata Pihak Keluarga
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Profil Simson Rarameha Ngadang alias Temon: Lulusan Psikologi UI yang Memilih Jadi Komedian
Analisis Prediksi Bursa Spanyol vs Argentina di Piala Dunia 2026: La Roja Lebih Dijagokan Juara Piala Dunia 2026
Jude Bellingham Ungkap Adu Argumennya dengan Lionel Messi saat Inggris Tumbang dari Argentina di Semifinal Piala Dunia 2026
3 Fakta Statistik yang Untungkan Spanyol Kalahkan Argentina di Final Piala Dunia 2026, Luis de la Fuente Punya Pola Juara
