Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 15 Februari 2017 | 20.54 WIB

Awal Tahun Temukan 32 Kasus Positif HIV/AIDS, Bagikan 4.320 Kondom untuk Risiko Tinggi

PENCEGAHAN HIV/AIDS: Kondom-kondom yang bakal didistribusikan ke seluruh puskesmas di Sidoarjo. - Image

PENCEGAHAN HIV/AIDS: Kondom-kondom yang bakal didistribusikan ke seluruh puskesmas di Sidoarjo.

JawaPos.com – Dinas Kesehatan Sidoarjo melakukan cara berbeda pada momen Hari Kasih Sayang Selasa (14/2). Mereka membagikan 4.320 kondom ke seluruh puskesmas di Kota Delta. Sasaran penyebaran kondom tersebut adalah kelompok risiko tinggi dan penderita infeksi menular seksual (IMS).


Kepala Bidang Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Sidoarjo dr Idong Djuanda mengatakan, kegiatan itu dilakukan sebagai salah satu cara pencegahan HIV/AIDS. Tidak hanya disebarkan ke setiap puskesmas, kondom juga didistribusikan oleh Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) ke outlet di titik-titik hot spot kelompok risiko tinggi. ’’Hari ini (kemarin, Red) sudah mulai pendistribusian kondom,” katanya.


Menurut dia, yang termasuk kelompok risiko tinggi, antara lain, lelaki seks lelaki (LSL), waria, dan pekerja seks komersial (PSK). Mereka menjadi sasaran utama penyebaran kondom. Termasuk orang dengan HIV/AIDS (ODHA) maupun penderita sipilis. ’’Setidaknya dengan menggunakan kondom, persebaran HIV/AIDS bisa ditekan,” ucapnya.


Berdasar data sistem informasi HIV/AIDS (SIHA), lanjut dia, data penggunaan kondom kelompok risiko tinggi dan IMS mencapai 13 ribu. Tahun ini dinkes berharap penggunaan kondom terus meningkat. ’’Kami terus sosialisasikan penggunaan kondom kepada sasaran. Sudah banyak juga yang paham tentang bahaya HIV/AIDS,” tuturnya.


Idong mengungkapkan, penemuan kasus HIV/AIDS di Sidoarjo terus bertambah. Tingginya temuan kasus baru tersebut seperti fenomena gunung es. Selama Januari 2017 saja, dinkes telah menemukan 32 kasus. Perinciannya, kasus ibu hamil 3 orang, pasangan risiko tinggi (3), perempuan seks komersial (2), lelaki seks lelaki (8), dan lain-lain (16). ’’Ini temuan di awal tahun saja. Kemungkinan bisa bertambah,” ujarnya.


Selama ini dinkes terus berupaya untuk melaksanakan voluntary counseling testing (VCT) kepada kelompok risiko tinggi. Baik LSL, waria, PSK, maupun ibu hamil. Bahkan, untuk ibu hamil, dinkes memiliki program pencegahan penularan HIV/AIDS dari ibu ke anak. Jadi, ketika ditemukan kasus bumil positif HIV/AIDS, penularan langsung dicegah dengan obat antiretroviral (ARV). ’’Semakin banyak kasus HIV yang ditemukan, sebenarnya justru bagus. Sebab,  pencegahan penularan HIV bisa dilakukan lebih baik,” katanya.


Salah satu upaya pencegahan itu adalah berpuasa melakukan hubungan seksual dengan pasangan berisiko tinggi. Selain itu, tidak berganti-ganti pasangan atau setia, menggunakan kondom ketika berhubungan seksual, tidak mengonsumsi narkoba, dan mencari informasi sebanyak-banyaknya (edukasi). ’’Penyebaran kondom ini adalah salah satu cara yang kami lakukan agar kasus HIV tidak semakin banyak,” ucapnya. (ayu/c7/dio/sep/JPG)

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore