
LANGGANAN: Hujan deras yang mengguyur Sidoarjo membuat kawasan perkotaan kembali tergenang.
JawaPos.com –Problem banjir memang harus benar-benar mendapat perhatian ekstra. Baik banjir di kawasan perkotaan maupun di pinggiran. Hujan deras beserta angin kencang Selasa (14/2) sore, misalnya, lagi-lagi membuat sejumlah kawasan tergenang air. Selain itu, pohon tumbang kembali terjadi.
Hujan mengguyur Kota Delta mulai pukul 15.00. Hujan tersebut disertai angin kencang dan petir. Meski tak berlangsung lama, hanya sekitar setengah jam, hujan membuat beberapa titik di wilayah perkotaan tergenang air dengan ketinggian bervariasi. Selain itu, ada tiga titik pohon tumbang. Yakni, di Jalan Layang Jenggolo, Jalan Kesatrian, dan Jalan Raya Gedangan.
Di Jalan Layang Jenggolo, pohon roboh di sisi kiri flyover dari arah Alun-Alun Sidoarjo. Pohon asam keranji setinggi 4,5 meter yang tumbuh dari bawah jalan layang roboh ke badan jalan. Tak ayal, kemacetan dari arah Sidoarjo ke Jalan HR Mangundiprojo pun terjadi. Apalagi, pada jam-jam tersebut, lalu lintas begitu padat karena waktu pulang kerja.
Kemacetan berlangsung lumayan lama. Akhirnya, tim Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Sidoarjo datang untuk mengepras pohon tumbang tersebut. Arus kembali normal 40 menit berselang.
Sementara itu, pohon ambruk di Jalan Raya Gedangan menimpa sebuah toko. ’’Kami langsung bagi tugas ke tim untuk menangani titik-titik pohon tumbang tersebut,’’ jelas Amirul, koordinator tim kepras DLHK Sidoarjo.
Karena rawan ada korban jiwa, Amirul sendiri bersama Kasi Pertamanan DLHK M. Rohjadi Hafiluddin mengambil jalur ke Jalan Raya Gedangan. Banyak anggota yang dikonsentrasikan di sana karena ruas jalan itu menjadi titik kepadatan lalu lintas.
Pohon yang tumbang di Jalan Raya Gedangan tersebut merupakan jenis angsana dengan tinggi 7 meter. Pohon itu roboh menimpa atap toko sepeda Sinar Abadi. Untung, fondasi toko tersebut terbilang kuat sehingga tak sampai mengakibatkan kerusakan berarti. ’’Ya kaget saja. Takut kalau hujan anginnya berlanjut,’’ kata Ugiek, pemilik toko.
Meski sempat shock, laporan yang langsung ditanggapi tim DLHK dengan cepat membuatnya lega. Dibutuhkan waktu lebih lama karena lalu lintas sedang padat. ’’Pohon-pohon yang tumbang itu nggak masuk ke inventarisasi kami karena sebenarnya masih bagus. Kami sudah melakukan survei,’’ ungkap Rohjadi.
Menurut dia, pohon-pohon itu tumbang murni karena cuaca ekstrem dan sulit diprediksi. ’’Yang pasri, BMKG sudah mengimbau masyarakat agar waspada. Yang bisa kami lakukan adalah bergerak secepat-cepatnya ketika ada laporan masyarakat,’’ imbuh pria yang akrab disapa Roy tersebut.
Sementara itu, penanganan banjir di wilayah Jabon terus dimatangkan. Agar bencana tahunan tersebut tidak terulang, pemkab kembali mengadakan rapat dengan Balai Besar Wilayah Sungai Brantas (BBWS). Dalam pertemuan itu, BBWS sepakat untuk segera melangkah.
Pertemuan tim pemkab dengan BBWS di Pendapa Delta Wibawa tersebut dimulai pukul 15.00. Selain Bupati Saiful Ilah, sejumlah pejabat terlibat dalam rapat. Di antaranya, Sekda Djoko Sartono dan kepala badan perencanaan pembangunan daerah (bappeda). Kepala BBWS M. Amir Hamzah juga hadir langsung. Namun, pertemuan tersebut berlangsung tertutup.
Selang satu setengah jam, rapat selesai. Setelah pertemuan, Amir menyampaikan sejumlah kesepakatan yang diambil. Dia menyatakan, BBWS sepakat membantu penanganan banjir di wilayah Jabon. Yakni, dengan melakukan normalisasi tiga sungai, masing-masing Sungai Meranti, Kedunglarangan, dan Bangiltak. ’’Ketiganya akan kami keruk,’’ ucapnya.
Saat ini, kondisi tiga sungai itu sangat dangkal. Sungai Bangiltak, misalnya. Sungai yang membentang dari wilayah Sidoarjo hingga Pasuruan tersebut dipenuhi eceng gondok dan mengalami sedimentasi (pendangkalan). Beberapa sempadan sungai juga sudah berubah fungsi menjadi tempat permukiman.
Amir mengungkapkan, normalisasi sungai itu membutuhkan waktu cukup lama. Awal pengerjaan dimulai pada Juli tahun ini. Kegiatan tersebut berlangsung 3–4 tahun ke depan. Normalisasi dikerjakan secara bertahap.
Pengerukan pun membutuhkan waktu lama lantaran sungai cukup panjang. Panjang Kalimati atau Bangiltak mencapai 12 kilometer, sedangkan Sungai Kedunglarangan dan Sungai Meranti 7 kilometer. Panjang sungai itu berdampak pada kebutuhan anggaran. Dia memperkirakan pengerjaan tersebut menelan biaya hingga Rp 570 miliar. ’’Hitungan kasar kami sekitar itu,’’ ucapnya.

Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Profil Irjen Pipit Rismanto, Pati Polri yang Diungkap IPW Diduga Diperiksa Propam Polri Terkait Dugaan Korupsi Pertambangan
Viral! Diduga Dana Operasional Belum Cair, Sejumlah SPPG Mogok Operasional Mulai 8 Juni 2026
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Viral Pengemudi Ojek Pangkalan Getok Harga Rp 400 Ribu Senayan-Bundaran HI, Modus Bilang Tarif "58"
Resmi! Veda Ega Pratama Kena Long Lap Penalty, Peluang Podium Moto3 Hungaria 2026 Terancam?
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Isu Reshuffle Kabinet Sempat Mencuat, Siapa Saja Menteri Berpotensi Diganti oleh Presiden Prabowo?
