Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 15 Februari 2017 | 20.18 WIB

Imbau Warga Tetap Waspadai Cuaca Buruk, BBWS Siap Bergerak Normalisasi Tiga Sungai

LANGGANAN: Hujan deras yang mengguyur Sidoarjo membuat kawasan perkotaan kembali tergenang. - Image

LANGGANAN: Hujan deras yang mengguyur Sidoarjo membuat kawasan perkotaan kembali tergenang.

JawaPos.com –Problem banjir memang harus benar-benar mendapat perhatian ekstra. Baik banjir di kawasan perkotaan maupun di pinggiran. Hujan deras beserta angin kencang Selasa (14/2) sore, misalnya, lagi-lagi membuat sejumlah kawasan tergenang air. Selain itu, pohon tumbang kembali terjadi.


Hujan mengguyur Kota Delta mulai pukul 15.00. Hujan tersebut disertai angin kencang dan petir. Meski tak berlangsung lama, hanya sekitar setengah jam, hujan membuat beberapa titik di wilayah perkotaan tergenang air dengan ketinggian bervariasi. Selain itu, ada tiga titik pohon tumbang. Yakni, di Jalan Layang Jenggolo, Jalan Kesatrian, dan Jalan Raya Gedangan.


Di Jalan Layang Jenggolo, pohon roboh di sisi kiri flyover dari arah Alun-Alun Sidoarjo. Pohon asam keranji setinggi 4,5 meter yang tumbuh dari bawah jalan layang roboh ke badan jalan. Tak ayal, kemacetan dari arah Sidoarjo ke Jalan HR Mangundiprojo pun terjadi. Apalagi, pada jam-jam tersebut, lalu lintas begitu padat karena waktu pulang kerja.


Kemacetan berlangsung lumayan lama. Akhirnya, tim Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Sidoarjo datang untuk mengepras pohon tumbang tersebut. Arus kembali normal 40 menit berselang.


Sementara itu, pohon ambruk di Jalan Raya Gedangan menimpa sebuah toko. ’’Kami langsung bagi tugas ke tim untuk menangani titik-titik pohon tumbang tersebut,’’ jelas Amirul, koordinator tim kepras DLHK Sidoarjo.


Karena rawan ada korban jiwa, Amirul sendiri bersama Kasi Pertamanan DLHK M. Rohjadi Hafiluddin mengambil jalur ke Jalan Raya Gedangan. Banyak anggota yang dikonsentrasikan di sana karena ruas jalan itu menjadi titik kepadatan lalu lintas.


Pohon yang tumbang di Jalan Raya Gedangan tersebut merupakan jenis angsana dengan tinggi 7 meter. Pohon itu roboh menimpa atap toko sepeda Sinar Abadi. Untung, fondasi toko tersebut terbilang kuat sehingga tak sampai mengakibatkan kerusakan berarti. ’’Ya kaget saja. Takut kalau hujan anginnya berlanjut,’’ kata Ugiek, pemilik toko.


Meski sempat shock, laporan yang langsung ditanggapi tim DLHK dengan cepat membuatnya lega. Dibutuhkan waktu lebih lama karena lalu lintas sedang padat. ’’Pohon-pohon yang tumbang itu nggak masuk ke inventarisasi kami karena sebenarnya masih bagus. Kami sudah melakukan survei,’’ ungkap Rohjadi.


Menurut dia, pohon-pohon itu tumbang murni karena cuaca ekstrem dan sulit diprediksi. ’’Yang pasri, BMKG sudah mengimbau masyarakat agar waspada. Yang bisa kami lakukan adalah bergerak secepat-cepatnya ketika ada laporan masyarakat,’’ imbuh pria yang akrab disapa Roy tersebut.


Sementara itu, penanganan banjir di wilayah Jabon terus dimatangkan. Agar bencana tahunan tersebut tidak terulang, pemkab kembali mengadakan rapat dengan Balai Besar Wilayah Sungai Brantas (BBWS). Dalam pertemuan itu, BBWS sepakat untuk segera melangkah.


Pertemuan tim pemkab dengan BBWS di Pendapa Delta Wibawa tersebut dimulai pukul 15.00. Selain Bupati Saiful Ilah, sejumlah pejabat terlibat dalam rapat. Di antaranya, Sekda Djoko Sartono dan kepala badan perencanaan pembangunan daerah (bappeda). Kepala BBWS M. Amir Hamzah juga hadir langsung. Namun, pertemuan tersebut berlangsung tertutup.


Selang satu setengah jam, rapat selesai. Setelah pertemuan, Amir menyampaikan sejumlah kesepakatan yang diambil. Dia menyatakan, BBWS sepakat membantu penanganan banjir di wilayah Jabon. Yakni, dengan melakukan normalisasi tiga sungai, masing-masing Sungai Meranti, Kedunglarangan, dan Bangiltak. ’’Ketiganya akan kami keruk,’’ ucapnya.


Saat ini, kondisi tiga sungai itu sangat dangkal. Sungai Bangiltak, misalnya. Sungai yang membentang dari wilayah Sidoarjo hingga Pasuruan tersebut dipenuhi eceng gondok dan mengalami sedimentasi (pendangkalan). Beberapa sempadan sungai juga sudah berubah fungsi menjadi tempat permukiman.


Amir mengungkapkan, normalisasi sungai itu membutuhkan waktu cukup lama. Awal pengerjaan dimulai pada Juli tahun ini. Kegiatan tersebut berlangsung 3–4 tahun ke depan. Normalisasi dikerjakan secara bertahap.


Pengerukan pun membutuhkan waktu lama lantaran sungai cukup panjang. Panjang Kalimati atau Bangiltak mencapai 12 kilometer, sedangkan Sungai Kedunglarangan dan Sungai Meranti 7 kilometer. Panjang sungai itu berdampak pada kebutuhan anggaran. Dia memperkirakan pengerjaan tersebut menelan biaya hingga Rp 570 miliar. ’’Hitungan kasar kami sekitar itu,’’ ucapnya.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore