
POTENSI BESAR: Imam Faudji saat berlatih sepak bola di Stadion Jenggolo beberapa waktu lalu.
Sejak kecil Imam memang suka melihat pertandingan sepak bola. Saat kelas V SD, dia mulai bergabung dengan sekolah sepak bola. Di usianya yang hampir 17 tahun ini, remaja asal Kemangsen itu sudah berkali-kali mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.
FIRMA ZUHDI AL FAUZI
GORESAN bekas luka di pelipis mata kiri Imam Faudji terlihat jelas. Panjangnya sekitar 2 sentimeter. ’’Ini (dapat bekas luka, Red) dulu saya jatuh waktu latihan bola. Jatuhnya ke depan mengenai kepala belakang teman saya. Sampai dijahit empat jahitan,’’ ujar Imam. Saat ditemui Jawa Pos di SMAN 1 Wonoayu Selasa (14/2), Imam baru selesai melaksanakan salat Duhur di masjid sekolah.
’’Saya masih ingat betul saat itu tiga hari sebelum tanding sepak bola mewakili timnas U-14 Indonesia di Thailand,’’ lanjut remaja kelahiran Sidoarjo, 15 Juni 2000, tersebut. Pengalamannya bergabung bersama timnas U-14 itu terjadi pada 2014.
Imam menceritakan, dirinya memang menaruh minat yang tinggi pada sepak bola sejak kecil. Bahkan, saat duduk di kelas V MI Darul Ulum, Balongbendo, dia meminta orang tua mendaftarkannya ke sekolah sepak bola. Dia akhirnya bergabung dengan Sekolah Sepak Bola (SSB) Midu. Lokasinya kebetulan dekat dengan rumahnya di Kemangsen, Kecamatan Balongbendo.
’’Saat itu ada orang yang bilang ke orang tua saya setelah lihat saya bermain,’’ ujar Imam. Orang tersebut menceritakan bahwa kemampuan sepak bola Imam harus terus diasah. ’’Dari situlah orang tua saya mulai mendukung penuh saya untuk menjadi pemain bola,’’ terang Imam.
Saat kelas VI, Imam pindah ke SSB Sinar Harapan di Kecamatan Tulangan. Menjelang lulus dari kelas VI, dia mengikuti seleksi masuk Sekolah Sosial Olahraga (SSO) Real Madrid Foundation Sidoarjo yang kini berubah nama menjadi Indonesia Soccer Academy (ISA). ’’Dulu yang daftar ke situ 500-an anak. Yang diterima cuma 100-an anak, termasuk saya,’’ ujar anak pasangan Basir dan Sulastri itu.
Di ISA, Imam rutin berlatih sepak bola. Saran pelatih dia turuti. Prestasi Imam pun mulai bersinar. Hingga pada 2014, dia dipilih ISA untuk mengikuti seleksi pemain timnas U-14 di Sawangan, Depok. Selama enam hari Imam bersaing dengan 40 anak dari seluruh Indonesia untuk bisa lolos menjadi pemain timnas.
Uji kemampuan fisik berlangsung selama dua hari. Empat hari lainnya digunakan untuk seleksi teknik bermain. ’’Ada tiga anak yang dikirim dari Sidoarjo, termasuk saya. Tapi, yang lolos hanya saya,’’ terangnya. Di antara 40 anak tersebut, hanya terpilih 20 terbaik yang bisa bergabung dengan pemain timnas.
Setelah lolos menjadi pemain timnas U-14, Imam mengikuti pelatihan intensif. Tiga bulan kemudian, timnya diboyong ke Myanmar untuk mengikuti Piala Asian Football Confederation (AFC). Hasilnya cukup memuaskan. Imam yang mengisi posisi bek tengah bersama rekan-rekannya berhasil menjadi runner-up. Mereka kalah oleh Thailand.
’’Itu pertandingan ke luar negeri saya yang kedua. Sebelumnya saya pernah tanding persahabatan dengan Malaysia mewakili ISA,’’ katanya.
Kembali dari Myanmar, Imam semakin giat berlatih. Rutin tiga kali seminggu. Yakni, Rabu, Jumat, dan Sabtu. Khusus Rabu, dia berlatih malam. Dua hari lainnya, dia berlatih sore sepulang sekolah.
Selain berlatih sesuai jadwal ISA, Imam rutin berlatih sendiri. Setiap hari dia melakukan push-up dan sit-up. Juga, berlatih lari cepat 100 meter sebanyak 10–20 kali. ’’Dalam sepak bola itu yang paling penting fisik. Makanya, harus dilatih dan dijaga betul,’’ ujarnya. Setiap akan bertanding, Imam selalu menelan putih telur ayam kampung mentah sebagai tambahan stamina. Sehari-hari dia mengonsumsi madu secara teratur.
Tak lama setelah pulang dari Myanmar, Imam bersama rekan setimnya di U-14 kembali mengikuti kompetisi Phuket Championship di Thailand. Betapa senangnya Imam saat berhasil membawa Indonesia meraih juara I pada kompetisi se-Asia Tenggara itu. ’’Nah, pelipis mata saya luka tiga hari sebelum kompetisi itu. Saat tanding di Thailand, pelipis saya juga masih diperban,’’ katanya, lantas tersenyum.
’’Kami juga pernah main ke Jepang. Kompetisi pemanasan ke sana,’’ ceritanya. Melihat konsistensi bermain yang bagus, Imam direkrut oleh pelatih Fakhri Husaini dan Yeyen Tumena menjadi pemain timnas U-15. Saat itu ada 25 anak yang direkrut menjadi pemain timnas U-15.

Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Viral! Diduga Dana Operasional Belum Cair, Sejumlah SPPG Mogok Operasional Mulai 8 Juni 2026
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Shin Tae-yong Bajak Staf Persebaya Surabaya, Gerbong Eks Timnas Indonesia Bisa Diboyong ke Persija Jakarta
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
BREAKING NEWS! Persija Jakarta Resmi Tunjuk Shin Tae-yong sebagai Pelatih Baru
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Melihat 10 Besar Penjualan Mobil Mei 2026: Jaecoo Kuasai Brand Tiongkok, Tak Ada Nama BYD
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Sudah Setor Total Rp 117 Miliar tapi Rumah Tak Kunjung Jadi, Konsumen Emeralda Resort Polisikan Yana Priatna
