Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 15 Februari 2017 | 16.59 WIB

Penasihat Presiden Mundur

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

JawaPos.com - Persekongkolannya dengan Rusia memaksa Michael Thomas Flynn hengkang dari inner circle Gedung Putih. Senin malam waktu setempat (13/2), penasihat keamanan nasional Presiden Donald Trump tersebut menyampaikan pengunduran dirinya secara tertulis. Sementara itu, pertemuan perdana Trump dengan Perdana Menteri (PM) Kanada Justin Trudeau berlangsung hangat dan lancar.



"Terkait perbincangan telepon saya dengan Duta Besar Rusia (Sergey Kislyak), saya sudah minta maaf kepada presiden (Trump) dan wakil presiden (Mike Pence), dan mereka sudah menerima permintaan maaf saya," terang Flynn dalam surat pengunduran dirinya. Kemarin (14/2) Gedung Putih memublikasikan salinan surat sepanjang tujuh paragraf itu kepada media.



Flynn yang sejak hari pertama pencalonannya sebagai penasihat keamanan dalam negeri presiden menuai kontroversi menyatakan memang membahas sanksi AS terhadap Rusia dengan Kislyak. Percakapan jarak jauh itu terjadi pada hari yang sama saat Barack Obama menjatuhkan sanksi atas Rusia terkait dengan peretasan pemilihan presiden (pilres). Ketika itu, Washington membekukan aset sejumlah tokoh Rusia.



Saat itu, Flynn belum menjabat sebagai penasihat presiden. Namun, pencalonannya sangat santer terdengar. Dan, ketika itu, tokoh 58 tahun tersebut menjanjikan kelonggaran sanksi kepada Kislyak. Dia optimistis Trump bisa melonggarkan sanksi untuk Kremlin. Sebab, itulah yang dijanjikan pengganti Obama tersebut sejak dideklarasikan sebagai pemenang pilpres. 



Media, sebenarnya, sudah mengendus ketidakberesan perbincangan telepon tersebut. Itu terjadi karena Flynn memang pu­nya kedekatan dengan Kremlin dan Rusia. Namun, ketika itu, Gedung Putih terus-terusan membantah. Pemerintahan Trump menegaskan bahwa percakapan telepon antara Flynn dan Kislyak hanyalah percakapan biasa. Tidak ada muatan politik, apalagi janji-janji tentang pelonggaran atau pencabutan sanksi.



Berkali-kali dibantah Gedung Putih, belakangan justru Flynn mengakui kesalahannya. Dalam wawancara dengan salah satu media, dia menyebut sanksi AS terhadap Rusia sebagai salah satu topik yang dibahasnya dengan Kislyak. Pengakuan itu pun langsung menjadi bumerang. Flynn menuai kecaman. Sebagian kalangan bahkan mendesak Trump mencopot penasihat keamanannya tersebut.



Senin malam Flynn pun langsung minta maaf kepada sang Wapres. Dia mengaku telah membuat orang nomor dua Gedung Putih itu salah paham. Karena itu, sebagai bentuk tanggung jawab, Flynn mengundurkan diri.



Kemarin Kremlin menanggapi pengunduran diri Flynn. Moskow yakin, mantan petinggi intelijen Pentagon itu dipaksa mengundurkan diri. "Jelas dia menuliskan surat pengunduran dirinya di bawah paksaan," kata Leonid Slutsky, ketua Komite Urusan Luar Negeri Majelis Rendah Rusia. Konstantin Kosachev dari majelis tinggi menganggap pengunduran diri Flynn sebagai sinyal munculnya sentimen anti-Rusia di Washington.



Kemarin Gedung Putih langsung mencari pengganti Flynn. CNN menyebut tiga kandidat yang potensial menjadi penasihat keamanan nasional baru. Yakni, Joseph Kellogg, David Petraeus, dan Bob Harward. Sama seperti Flynn, mereka punya latar belakang militer. Jika Kellogg dan Petraeus berkarir di AD, tidak demikian Harward. Dia adalah perwira Angkatan Laut (AL).



Sementara itu, pertemuan perdana Trump dengan Trudeau di Gedung Putih berjalan lancar. Dalam jumpa pers bersama setelah pertemuan empat mata, dua pemimpin sama-sama berbicara tentang kebijakan imigrasi. "Saya hanya melakukan apa yang sudah saya janjikan. Kita tidak bisa membiarkan orang-orang yang tidak benar itu masuk ke AS," ujar tokoh 70 tahun tersebut.



Setelah paparan Trump, Trudeau pun membahas imigrasi. "Hal yang paling tidak diinginkan rakyat Kanada adalah saya menggurui negara lain tentang cara mengelola pemerintahan mereka sendiri," kata pemimpin 45 tahun tersebut. PM berparas menawan itu lantas mengatakan bahwa yang diterapkan di Kanada adalah kebijakan imigrasi berbasis ke­terbukaan. Tapi, dia juga menekankan keamanan.



Trudeau juga seakan menyindir Trump yang mengeluarkan perintah menolak pengungsi Syria untuk selamanya. Alasannya, Trump ingin melindungi warga AS dari kemungkinan serangan terorisme. Saat Trump meneken perintah eksekutifnya yang berisi larangan bagi seluruh pengungsi Syria, Trudeau membuka lebar-lebar pintu perbatasannya untuk para pengungsi dan korban perang.




"Sekitar setahun terakhir Kanada telah menampung sekitar 40.000 pengungsi Syria," katanya. Tidak ada gangguan kemanan yang berarti karena Kanada menggandeng banyak pihak untuk mengantisipasi berbagai hal yang tidak diinginkan. "Adakalanya kita masing-masing punya pemahaman dan kebijakan yang berbeda. Tapi, kita saling menghormati." (AFP/Reuters/CNN/hep/c19/any) 


Editor: Thomas Kukuh
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore