
PANGGILAN JIWA: Endang Rahayu Pujo di antara para mahasiswa yang mengikuti perkuliahan Senin (13/2) di Rumah Kampus.
Akses pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus di jenjang pendidikan tinggi masih sangat terbatas. Namun, melalui Rumah Kampus, Endang Rahayu Pujo tergerak untuk membuka ruang kuliah bagi anak-anak berkebutuhan khusus.
M. HILMI SETIAWAN, Jakarta
RUMAH di mulut Jalan Kelapa Mas, Utan Kayu, Jakarta Timur, itu kini berubah fungsi. Tak lagi sebagai rumah biasa, melainkan telah disulap menjadi tempat perkuliahan. Namanya Rumah Kampus. Yang istimewa, mahasiswanya berkebutuhan khusus.
Ya, Rumah Kampus adalah perguruan tinggi yang khusus untuk anak-anak berkebutuhan khusus (ABK). Pendirinya Endang Rahayu Pujo, sang pemilik rumah. Endang memilih nama Rumah Kampus karena ingin menghadirkan suasana kampus di dalam rumah. Tapi, seperti di kampus umum, istilah-istilah pendidikan tinggi tetap digunakan di Rumah Kampus. Misalnya, dosen, mahasiswa, mata kuliah, ujian semester, sampai praktik kerja lapangan (PKL).
Perempuan kelahiran Rangkasbitung, Lebak, Banten, 11 Maret 1957, tersebut menjelaskan, Rumah Kampus didirikan pada 4 Maret 2008. Kampus itu dia dirikan berdasar pengalamannya sebagai ibu yang sulit mencarikan perguruan tinggi bagi anaknya yang berkebutuhan khusus.
Anak kedua Endang, Bagus Angger Putranto, sejak kecil memang mempunyai kelainan. Hanya, diagnosis beberapa dokter yang ditemui berbeda-beda. Ada dokter yang mendiagnosis down syndrome, ada juga yang menyebut autis. ’’Anak saya motoriknya susah. Tapi, dia bisa membaca. Dokter bilang waiting for the miracle,’’ kenangnya ketika ditemui Senin (13/2).
Kala itu Endang cukup sulit mencarikan SD yang cocok buat Bagus. Pendidikan di SLB dinilai tidak maksimal. Sebab, anak-anak berkebutuhan khusus di SLB cenderung dibiarkan dan disuguhi materi keterampilan hidup. Padahal, bagi Endang, anak berkebutuhan khusus juga perlu ’’dipaksa’’ untuk melahap kemampuan membaca, menulis, serta berhitung. ’’Tentu dipaksa dalam hal yang positif,’’ jelasnya.
Akhirnya, Angger dimasukkan ke sekolah umum sampai SMA, tapi mendapat pendampingan khusus. Dia juga dikursuskan bahasa Inggris. Kemudian, selulus SMA, pemuda kelahiran 1987 itu menyatakan keinginannya untuk kuliah, seperti kakaknya yang bernama Novilia Purnama Putri. Namun, setelah berkeliling Jakarta sampai Bogor, Endang tidak menemukan satu pun perguruan tinggi yang bersedia menerima anaknya yang berkebutuhan khusus sebagai mahasiswa.
Dari pengalaman itulah, Endang terpikir untuk mendirikan perguruan tinggi khusus bagi anak berkebutuhan khusus. Maka lahirlah Rumah Kampus hasil kerja sama dengan program diploma IPB pada 2008. Pada awal-awal berdiri, programnya seperti kursus kecakapan yang berdurasi satu tahun.
Meski sudah sembilan tahun beroperasi, Rumah Kampus baru mewisuda lulusan pertama pada 3 September 2016. Upacara wisuda dilakukan secara resmi di kampus program diploma IPB Bogor.
Di antara delapan mahasiswa tingkat akhir, ada empat orang yang diwisuda untuk diploma satu (D-1) saat itu. Sisa dari angkatan pertama yang belum diwisuda bakal diwisuda bulan depan. Sementara itu, 25 mahasiswa yang masih mengikuti kuliah saat ini digenjot supaya bisa lulus akhir tahun nanti.
Tantangan dalam menyelenggarakan pembelajaran untuk anak-anak berkebutuhan khusus adalah menghadapi respons masyarakat. Endang menjelaskan, masyarakat umum kebanyakan belum yakin atas kemampuan anak berkebutuhan khusus. ’’Memang, mereka ini diajari, lalu tumplek (roboh, Red). Diajari lagi, tumplek lagi,’’ tutur istri Pujo Cahyono tersebut.
Tantangan lain adalah membangkitkan semangat belajar anak-anak berkebutuhan khusus. Sebab, selama hidup mereka, anak-anak itu mendapat perlakuan yang berbeda dari masyarakat sekitar. Menyadari hal itu, Endang pun mengkhususkan diri menjadi dosen spesialis menumbuhkan kepercayaan diri para mahasiswa. Program penumbuhan kepercayaan diri tersebut bisa berjalan sampai 1,5 tahun.
Kepada para mahasiswanya, Endang selalu menanamkan keyakinan bahwa Tuhan tidak melabeli manusia dengan label berkebutuhan khusus atau tidak. Di mata Tuhan, orang yang berkebutuhan khusus atau tidak adalah sama. ’’Ini fondasi dasarnya agar mereka punya kepercayaan diri yang kuat untuk belajar.’’
Menurut Endang, Rumah Kampus merupakan wahana untuk mencari bekal usaha tanpa pendampingan. Karena itu, para alumnus diharapkan bisa hidup mandiri setelah mentas dari Rumah Kampus. Mereka bisa bekerja di dunia kerja yang sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Prediksi Skor Portugal vs Spanyol: Pasar Taruhan Dunia Jagokan La Furia Roja, Ronaldo Siap Balas Rekor Buruk
Prediksi Skor Amerika Serikat vs Belgia: Bursa Taruhan Dunia Ramalkan Imbang, Red Devils Unggul Head to Head
Dijanjikan Gaji Rp 1,4 Juta Hanya Cair Rp 76 Ribu, Kopdes Merah Putih di Bojonegoro Pilih Tutup
Prediksi Skor Argentina vs Mesir di Piala Dunia 2026: Lionel Messi vs Mohamed Salah, Albiceleste Diunggulkan ke Perempat Final
Prediksi Skor Amerika Serikat vs Belgia di Piala Dunia 2026: Setan Merah Diunggulkan Kirim Pulang Tuan Rumah
Kontroversial! Wasit Inggris Anthony Taylor Pimpin Portugal vs Spanyol di Piala Dunia 2026, Rekam Jejak Jadi Sorotan
Daftar 32 Negara Hadiri Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei Dirilis Iran, Indonesia Tak Masuk, Warganet Bertanya-tanya
Arogan Tonjok Pengendara di Jalan Jagakarsa, 'Bang Jago' Tak Berdaya Ditangkap di Rumahnya
Prediksi Swiss vs Kolombia di 16 Besar Piala Dunia 2026: Sesumbar De Nati Andalkan Manzambi
Prediksi Skor Amerika Serikat vs Belgia di Piala Dunia 2026: Setan Merah Diunggulkan Bungkam Tuan Rumah
