
Taufik Nur Shidiq
SAYA sepenuhnya sepakat Philipp Lahm adalah pemain hebat. Saya juga percaya siapa pun yang kemudian menjadi bek sayap kanan Bayern Muenchen akan dibandingkan dengannya.
Hingga Lahm benar-benar gantung sepatu akhir musim ini, pasti masih akan ada yang berusaha meyakinkannya untuk membatalkan keputusannya. Namun, saya sangsi Lahm akan dirindukan setelahnya.
Di awal karir, Lahm dipinjamkan ke VfB Stuttgart setelah hanya menjalani satu pertandingan untuk Bayern. Pada pengujung musim kedua masa pinjamannya di Stuttgart, Lahm menderita cedera lutut yang memaksanya menepi enam bulan.
Namun, begitu pulih, Lahm langsung menguasai satu posisi inti pada musim penuh pertamanya (2005/06) bersama Bayern. Bukan hanya itu, dia mampu terus menjaga kebugaran dan permainan terbaik hingga menjadi Lahm yang kita kenal sekarang: pemain besar bergelimang gelar.
Menyebut Lahm sebagai pemain bergelimang gelar lebih tepat ketimbang menyebutnya sebagai pemain hebat. Bukan berarti Lahm biasa saja. Hanya, jumlah gelar yang dia raih lebih sulit disanggah ketimbang kehebatannya.
Lahm telah meraih 20 gelar bersama Bayern. Dia berkarir sejak 2002 dan mengapteni Bayern sejak 2011. Lahm meraih delapan gelar sebagai pemain reguler dan 12 gelar sebagai kapten walau rentang waktu yang dia jalani sebagai kapten lebih pendek (enam setengah musim hingga musim ini selesai) ketimbang sebagai pemain reguler (delapan setengah musim).
Sekilas, Bayern lebih hebat setelah Lahm menjadi kapten. Tapi, jika diamati lebih saksama, Lahm meraih lebih banyak gelar sebagai kapten karena dia menjadi kapten saat Bayern sudah melewati masa sulit, masa yang juga Lahm alami.
Karakter seorang pemain dibentuk menjadi lebih baik dalam masa sulit; tidak demikian dengan Lahm. Persoalan karakter ini perlu digarisbawahi dalam kaitannya dengan otobiografi Lahm yang diterbitkan pada Agustus 2011, Der feine Unterschied: Wie man heute Spitzenfußballer wird.
Buku tersebut langsung menjadi perhatian nasional, dan bukan karena alasan yang baik. ’’Semua pemain hanya perlu delapan pekan untuk tahu bahwa [Juergen] Klinsmann akan gagal,’’ tulis Lahm di buku tersebut. ’’Sisa musim itu dihabiskan untuk bertahan agar kegagalan yang diderita tidak terlalu buruk.’’
Klinsmann menangani Bayern pada musim 2008/09. Walau dipecat dengan lima pertandingan Bundesliga tersisa (Bayern menduduki peringkat ketiga saat Klinsmann dipecat), dia membawa Bayern lolos ke perempat final Champions League, gugur melawan Barcelona yang kemudian menjadi juara.
Klinsmann memang gagal menurut standar Bayern, namun Lahm tidak seharusnya bersikap seperti itu. Selain Klinsmann, pelatih Bayern yang juga menjadi sasaran kritiknya adalah Felix Magath, yang juga merupakan pelatih kepala Stuttgart semasa Lahm di sana, dan Louis van Gaal, yang memercayakan jabatan kapten kepadanya.
Reaksi publik membuat Lahm menggelar jumpa pers tak lama setelah bukunya diterbitkan. Namun, yang dia sampaikan hanya ’’saya minta maaf jika ada yang tersinggung, tapi saya minta maaf untuk itu saja’’.
Dari seseorang yang judul otobiografinya adalah Bagaimana Menjadi Pemain Sepak Bola Berkelas, pernyataan Lahm sungguh tidak berkelas. Dia sudah berusia 27 tahun saat itu serta sudah mengemban jabatan kapten timnas Jerman selama kurang lebih satu tahun dan kapten Bayern setengah tahun. Jadi, sepatutnya tahu bagaimana sebaiknya bersikap.
Menyoal bersikap dan hubungannya dengan jabatan kapten, Lahm meninggalkan cerita buruk lain. Lahm awalnya menjadi kapten timnas karena Michael Ballack batal berangkat ke Piala Dunia 2010 akibat cedera.
Dia kapten pengganti, namun tak pernah membicarakan hal ini secara baik-baik dengan Ballack, apalagi berbesar hati untuk mengembalikan jabatan kepada pemilik aslinya.

11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
Jadwal PSS vs Garudayaksa FC Final Liga 2, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Siapa Raih Trofi Kasta Kedua?
17 Tempat Makan Hidden Gem di Surabaya yang Tidak Pernah Sepi, Rasanya Selalu Konsisten Enak
Marak Link Live Streaming Gratis Persija Jakarta vs Persib Bandung, Jakmania dan Bobotoh Pilih yang Mana?
Jadwal Veda Ega Pratama di Sesi Q2 Moto3 Le Mans 2026! Rider Indonesia Bidik Start Terdepan
Live Streaming PSS Sleman vs Garudayaksa FC Final Liga 2 dan Prediksi Skor: Trofi Bergengsi Menanti Pemenang!
15 Kuliner Seafood Ternikmat di Surabaya, Hidangan Laut Segar dengan Cita Rasa Khas yang Sulit Dilupakan
Jadwal dan Link Live Streaming Moto3 Prancis Hari Ini: Momentum Veda Ega Rebut Pole Position!
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
