
Jajaran Polresta Pontianak memeriksa jenazah Feri Candra yang ditemukan tewas tergantung di kamar Digital Yes Printing Gang Candi Agung 4, Jalan Alianyang, Senin (13/2).
JawaPos.com - Feri Candra memilih mengakhiri hidupnya menjelang tiga hari pertambahan usianya. Pemuda 21 tahun itu ditemukan tewas tergantung di kamarnya di Gang Candi Agung 4, Jalan Alianyang, Pontianak Kota, Senin (13/2) pukul 08.00.
Diduga Feri stres karena permasalahan keluarga. Mayatnya pertama kali ditemukan pemilik Digital Yes Printing saat datang hendak membuka usahanya. Feri merupakan pegawai sekaligus penjaga malam yang tinggal di kamar belakang Digital Yes Printing. Di kamar berukuran 3 x 3 meter tersebut, leher Feri terjerat tali plastik berwarna hijau. Dia mengenakan peci dan menggenggam tasbih di tangan kirinya.
Polisi tiba ke lokasi dan melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Kemudian menyita barang bukti dan memasang garis polisi. Di samping korban ditemukan sepucuk surat yang isinya wasiat ditujukan kepada ibu dan ayahnya serta teman-temannya.
“Intinya permintaan maaf apabila telah melakukan kesalahan, ucapan terima kasih, serta permintaan untuk dipertemukan dengan ibunya sebelum dimakamkan,” jelas Bripka Agung Utomo, personel Inafis Polresta Pontianak saat melakukan olah TKP.
Agung menjelaskan, berdasarkan pemeriksaan di jarinya, diduga kematian Feri belum lama. “Kemungkinan subuh tadi, karena jika sudah lebih dari delapan jam, jarinya sudah kaku. Namun tadi itu jarinya masih lembut dan bisa digerakkan. Diduga baru meninggal 2-3 jam sebelumnya,” kata Agung.
Jenazah Feri dibawa ke Rumah Sakit Anton Sudjarwo Pontianak untuk divisum. Polisi juga tidak menemukan tanda-tanda kekerasan, hanya bekas jeratan di lehernya. “Namun untuk pastinya, kita mesti menunggu keterangan dokter yang mempunyai wewenang,” paparnya.
Di kamar Feri, selain surat wasiat, juga ditemukan telepon selular merk Cross dan uang Rp 295 ribu. Semua barang tersebut kemudian disita polisi untuk penyelidikan. Surat wasiatnya, Feri menuliskan permintaan terakhirnya sebelum nanti dimakamkan.
“Sebelum aku dikuburkan aku mohon ketemukan aku sama mamaku, supaya mamaku melihat perjalanan terakhirku. Kuburkanlah aku di samping adiku (Yolanda). Terima kasih buat kawan-kawanku yang selama ini banyak membantuku. Aku sayang kalian semua. Maafkan aku atas semua kesalahanku Digital Yes Printing,” isi di halaman pertama.
Sementara di halaman belakangnya, Feri menuliskan rasa cinta serta permintaan maaf kepada ibunya yang berkerja di Malaysia. “Dede rindu sama mama, Dede sayang sama mama, Dede pengen ketemu sama mama, Ya Allah jagakan mamaku dimanapun mamaku berada ya Allah, dan jauhkanlah dari segala marabahaya. Amin, maafkan atas semua kesalahan Dede yang selama ini membuat mama kecewa,” tulisnya.
Diakhir surat Feri juga mendoakan kesembuhan untuk ayahnya yang sedang sakit. “Bapak maafkan Feri. Feri tidak bisa membahagiakan Bapak. Ya Allah sembuhkanlah penyakit bapakku supaya bapaku kembali seperti yang dulu (sehat selalu). Ini pesan terakhirku untuk kedua orangtuaku, bapak dan mama,” tulisnya sembari menutup dengan nama lengkap dan tanggal lahirnya.
Ketua RT setempat, Ibrahim Akil mengaku Feri sudah sekitar setahun tinggal dan bekerja di Digital Yes Printing. “Dia lapor setahun yang lalu lah, bilang mau tinggal sendiri di sini. Saya tanya kamu tahan ndak, di sini banyak hantu, karena lama kosong,” ujar Ibrahim Akil.
Namun Feri yang berdasarakan kartu idientitasnya beralamat di Jalan 28 Oktober itu akhirnya tinggal sekaligus berkerja di tempat tersebut. “Biasa-biasa saja, karena dia sibuk kerja juga. Tinggalnya sehari-hari sendirian, tapi sesekali ada temannya datang juga,” jelas Ibrahim yang rumahnya hanya berjarak beberapa meter dari tempat kejadian.
Ibrahim mengaku selama ini Feri dikenal bagus dan cukup cekatan dalam berkerja. Di kalangan warga sekitar, dia dikenal cukup baik. “Kalau dengan saya sih dia ramah anaknya, sering ngobrol, sering nyapa, sering belanja di sini,” jelas Ibrahim sembari menunjuk sebuah warung yang tepat berada di depan rumahnya.
Namun kata Ibrahim, ia sempat mendengar cerita beberapa warga yang menilai Feri agak pendiam belakangan ini. “Katanya ada yang lihat si Feri ini suka duduk melamun sendiri,” tambahnya.
Saat jenazah tiba di Unit Gawat Darurat RS Anton Sudjarwo, terlihat Suhardi bin Udin, ayah Feri. Dia sangat terpukul dengan kepergian putranya. Saat jenazah putranya turunkan dari mobil ambulans, Suhardi meneteskan air mata. “Anak saya itu Bang, anak kandung saya Bang,” ujarnya terisak.

Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Hasil Practice Moto3 Hungaria 2026: Veda Ega Pratama Finis P2 dan Lolos ke Q2, Hakim Danish Justru Tersandung
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Veda Ega Pratama Kudeta Peringkat Pertama! Update Klasemen Rookie of The Year Moto3 2026 Usai Brian Uriarte Didiskualifikasi
Sony Sonjaya Akan Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator Kasus MBG, Janjikan Buka Nama-Nama Besar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kalah di Pengadilan Soal Sanksi Etik Promotor Disertasi Bahlil, Guru Besar UI: Mahasiswa Ini Bukan Main-main
Prediksi Haiti vs Peru 6 Juni 2026: Momentum Positif Les Grenadiers Uji Kebangkitan La Blanquirroja
3 Bintang Baru Sudah Deal! Persebaya Surabaya Siapkan Misi Besar Bernardo Tavares di Musim 100 Tahun
