
Ilustrasi
JawaPos.com - Direktorat Jenderal Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) Kemendagri dan Polda Metro Jaya terus menindaklanjuti temuan kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP) palsu yang dikirim dari Kamboja ke Bandara Soekarno Hatta.
Dirjen Dukcapil Zudan Arif Fakrulloh mengatakan, motif pengiriman kartu penduduk palsu tak terkait dengan Pilgub DKI Jakarta. Hal itu, terlihat dari jumlahnya. ”Hampir mustahil 36 itu bisa menaikkan perolehan suara di DKI. Dimana jumlah pemilihnya 7 juta lebih,” kata Zudan di kantor Kemendagri, Jakarta, Senin (13/2).
Dugaan ini berdasar pada beberapa hal, salah satunya mekanisme pengamanan Pilkada saat seseorang menggunakan e-KTP untuk memilih karena belum termasuk dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT). Hanya ada waktu selama satu jam terakhir bagi pengguna e-KTP palsu melakukan aksinya.
Belum lagi melewati serentet pengamanan yang berlapis hingga proses pencoblosan dan warga yang mengenal satu sama lain. Intinya, kata dia, melalui pertimbangan tersebut maka kemungkinan kartu penduduk palsu digunakan dalam Pilkada DKI sangat kecil.
Jika tertangkap pelaku pengguna e-KTP palsu juga resiko politik dan hukumnya sangat berat, bisa menyeret pasangan calon tertentu. Hal itu diatur dalam UU Pemilu dengan ganjaran pidana Pemilu dan Pidana pemalsuan dokumen. Belum lagi jika melihat jumlah e-KTP palsu dari Kamboja yang hanya 36 buah. ”Hampir mustahil 36 itu bisa menaikkan perolehan suara di DKI. Dimana jumlah pemilihnya 7 juta lebih,” kata Zudan.
Menurutnya, paling logis pengiriman kartu identitas abal-abal itu dikaitkan upaya penipuan perbankan. Pasalnya saat ini memang ada beberapa bank yang belum bekerja sama dengan Dukcapil, sehingga tidak terintegrasi dengan data tunggal e-KTP. Makanya, aksi penipuan bisa dilakukan melalui pemalsuan dokumen kartu penduduk, mengingat bank-bank tersebut belum bisa mengkroscek data ke Dukcapil.
”Ada beberapa bank yang belum kerjasama dengan Dukcapil. Kalau sudah kerjasama ketik NIK pasti akan terlihat datanya dan akan dietahui e-KTP palsu. Karena keluar fotonya,” kata Zudan.
Selain dugaan ini, ia juga memaparkan bahwa temuan 36 e-KTP palsu ini menggunakan kartu bekas yang chip di dalamnya sudah terisi data. Modusnya yakni dengan mengganti data penduduk di halaman depan atau ditumpuk dengan data palsu. Dari 36 buah, ada 16 e-KTP palsu yang bisa dibaca dengan pembaca kartu atau card reader, sedangkan sisanya rusak di bagian chip sehingga tak terbaca.
Dengan demikian, Zudan menyimpulkan bahwa 36 e-KTP ini menggunakan kartu bekas orang lain yang sudah dibuang. Bukti lain dari kesimpulan itu terdapat 19 foto yang diganti dari 36 e-KTP dan ada 4 e-KTP yang dimiliki satu orang karena fotonya sama. Bahkan setelah dibaca melalui card reader, semua data yang tercantum berbeda dengan data di dalam data center.
”Artinya orangnya mengisi secara manual. Ini yang saya jelaskan bahwa data yang ada tidak sama dengan data yang ada di database,” pungkas Zudan. (adn/yuz/JPG)

Prediksi Skor Paraguay vs Australia di Piala Dunia 2026: Berebut Tiket 32 Besar Namun Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Swiss vs Kanada di Piala Dunia 2026: Jonathan David Tancap Gas Bombardir Gawang La Nati
Prediksi Skor Turki vs Amerika Serikat di Piala Dunia 2026: The Stars & Stripes Berburu Rekor Sempurna di Fase Grup
Prediksi Skor Jepang vs Swedia di Piala Dunia 2026: Samurai Biru Incar Tiket 32 Besar di Laga Penentuan
Prediksi Skor Afrika Selatan vs Korea Selatan di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Wajib Menang Demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Tunisia vs Belanda di Piala Dunia 2026: Oranje Wajib Menang demi Amankan Tiket 32 Besar
Profil Wakil Ketua BEM UI Fathimah Azzahra yang Konsisten Mengkritik Program MBG
Prediksi Skor Bosnia dan Herzegovina vs Qatar di Piala Dunia 2026: Mimpi Buruk Al-Annabi Belum Usai
Prediksi Skor Curacao vs Pantai di Piala Dunia 2026: Misi Les Éléphants Menang demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Maroko vs Haiti di Piala Dunia 2026: Achraf Hakimi Cs Siap Pesta Gol di Laga Penentuan
