Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 14 Februari 2017 | 11.57 WIB

Menakar Pendapat Pakar Terkait Penggunaan Box Culvert

Saluran Tertutup Beton - Image

Saluran Tertutup Beton

Proyek box culvert menguntungkan pemkot karena pembebasan lahan tak diperlukan. Kelemahannya, pembangunan terdiri atas segmen-segmen atau rangkaian yang digabungkan. Hal itu bisa menimbulkan ketinggian jalan yang tidak seragam. Apalagi jika lapisan tanah dasar dalam sungai tidak diratakan. ’’Bagi pengguna jalan, ini tidak nyaman. Jalannya jadi bergelombang” ujar Herman.


Prof Herman Wahyudi, pakar mekanika tanah dan pondasi Teknik Sipil ITS



Penggelontoran Butuh Banyak Air


Limbah rumah tangga yang tidak dikelola dengan baik akan masuk ke saluran dan berakhir di sungai. Limbah itu bakal terurai dan menimbulkan sedimen. Tumpukan sedimen di saluran air yang terbuka memang bukan perkara besar. Namun, dalam box culvert, akan menjadi masalah besar. ’’Kalau sudah menumpuk dan mampet, mau gimana?” ujar Nieke. Satu-satunya solusi adalah penggelontoran air. Masalahnya, dibutuhkan volume air yang sangat besar.


Prof Nieke Karnaningrum, pakar manajemen kualitas lingkungan



Perlu Filter Khusus


Box culvert bisa menjadi sumber banjir baru jika tidak dirawat dengan benar. Sebab, penumpukan sedimen dan sampah akan mengurangi kapasitas tampung box culvert. ’’Harus ada semacam filter agar sampah tak lolos ke box culvert,” kata dosen yang fokus meneliti sistem drainase tersebut. Apalagi, posisi Surabaya yang tergolong dataran landai memicu rendahnya debit air dalam sistem drainase. Hal itu membuat tumpukan sedimen sulit mengalir secara alamiah, apalagi jika bercampur dengan sampah. Selain itu, pertukaran udara di dalam box culvert tak bisa berlangsung dengan baik. Sistem konstruksi yang tertutup akan menurunkan ketersediaan oksigen dalam air.


Umboro Lasminto, pakar teknik hidrologi



Bisa Ganggu Saluran Pernapasan


Di dalam box culvert, akan terjadi proses anaerobik. Yakni, penguraian dalam kondisi tanpa oksigen. Reaksi tersebut dapat menghasilkan beberapa gas seperti metana, amonia, dan H2S. H2S paling banyak dihasilkan dari penguraian limbah yang mengandung senyawa sulfat. Biasanya, kandungan itu berasal dari air buangan kamar mandi yang mengalir ke sungai. H2S biasa disebut gas selokan. Meskipun toksisitasnya rendah, gas tersebut dapat mengakibatkan pusing. ’’Batas toleransinya cukup besar di tubuh manusia,” ucap Ganden. Sementara itu, amonia berbahaya bagi saluran pernapasan. Gas tersebut dihasilkan dari penguraian limbah yang mengandung protein seperti pada sisa-sisa makanan.



Ganden Supriyanto, dosen analisis kimia lingkungan Unair (kik/c18/oni/sep/JPG)

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore