Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 14 Februari 2017 | 02.31 WIB

Indonesia Mulai Ekspor, PNG Setop Impor Beras dari Vietnam dan Thailand

Menteri Amran Sulaiman (berbaju putih) bersama  Konsulat Jenderal Papua Nugini Untuk Papua, Geoffrey Wiri di Merauke, Papua, Senin (13/2). - Image

Menteri Amran Sulaiman (berbaju putih) bersama Konsulat Jenderal Papua Nugini Untuk Papua, Geoffrey Wiri di Merauke, Papua, Senin (13/2).

JawaPos.com - Pascaberhasil melakukan swasembada beras 2016 lalu, pemerintah membuktikan keseriusannya melakukan ekspor ke sejumlah negara tetangga. Mulai tahun ini, Kementerian Pertanian tengah intensif melakukan penjajakan dengan sejumlah negara. Salah satunya Papua Nugini. 


Hari ini (13/2), Menteri Pertanian, Amran Sulaiman melakukan pelepasan ekspor perdana beras ke negara yang beribukota di Port Moresby tersebut. Kegiatan berlangsung di Meruake, disaksikan langsung Gubernur Papua, Lukas Enembe, dan Bupati Merauke, Fredikus Gebze. 


Beras yang diekspor merupakan beras premium sebanyak 1 truk dan ditargetkan 10.000 ton hasil panen musim hujan 2017. 


Hadir pula pada pelepasan ekspor ini Asisten Teritorial KASAS, Mayjen TNI Komarudin Simanjuntak, Konsulat Jenderal Papua Nugini, Geoffrey Wiri, dan Anggota Komisi IV DPR RI, Sulaiman Hamzah.


Amran menegaskan, setelah 72 tahun melakukan impor beras, kini di tahun 2017 Indonesia mampu mengekspor beras dari Merauke ke negara tetangga yakni Papua Nugini. Harga beras yang diekspor Rp 10.000/kg. 


"Harga ini separuh harga beras impor dari Filipina, Thailand dan Vietnam. Ini adalah nafas dari Nawacita Pemerintahan Jokowi-JK yaitu membangun dari pinggiran dengan pendekatan peningakatan kesejahteraan," ujar dia dalam keterangan tertulisnya kepada JawaPos.com.


"Mimpi kita dulu sudah jadi kenyataan yaitu ekspor beras ke negara tetangga, Papua Nugini. Kemudian luas lahan sawah kita tambah terus. Yang terpenting kita sudah memenuhi kebutuhan dalam negeri selebihnya diekspor," tegas Amran.


Amran menjelaskan ekspor beras ini merupakan upaya dalam rangka mensejahterakan para petani karena dulu beras untuk kebutuhan di Papua diambil dari provinsi lain sehingga biaya beras mahal karena biaya angkutan ditanggung masyarakat. 


"Dampaknya terjadi inflasi dan kemiskinan meningkat.Namun sekarang kita mampu produksi sendiri. Tekad kita ke depan adalah seluruh pulau-pulau bisa swasembada pangan khususnya beras sehingga harga beras murah," jelasnya.


Amran menambakan, Papua selain saat ini sudah mampu eskpor beras, pertanian di Papua khususnya di Merau telah menggunakan teknologi pertanian. Hasilnya, biaya produksi bisa ditekan dari sebelumnya Rp 3 juta/ha menjadi Rp 1,1 juta/ha. "Artinya biaya produksi pertanian turun 60% karena teknologi," imbuhnya.


Senada, Gubernur Papua, Lukas Enembe bangga atas adanya pelepasan ekspor beras tersebut. Menurutnya, puluhan tahun Papua memimpikan Merauke menjadi lumbung pangan nasional.


"Muda-mudahan ekspor berkelanjutan. Baru kali ini melakukan ekspor.Semoga Ini akan dilakukan secara terus menerus tiap tahun," kata Lukas.


Dia menerangkan, pencapaian ini atas bantuan dan dukungan penuh dari Kementerian Pertanian selama ini yang telah memberikan bantuan mekanisasi pertanian. Termasuk bersama TNI telah membuka lahan sawah baru. 


"Sekarang semakin banyak lahan sawah, petani tidak banyak menganggur dan menjadi petani modern," ungkapnya.


Pada kesempatan yang sama, Bupati Merauke, Fredrikus Gebze menuturkan Indonesia harus dipersiapkan sebagai negeri gemah rinah loh jinaweh. Selama 72 tahun, lanjut dia, Indonesia baru mengekspor beras ke Papua Nugini. 

Editor: Imam Solehudin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore