Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 14 Februari 2017 | 01.43 WIB

Bekuk Lima Anggota Komplotan Begal, Selalu Pesta Sabu-Sabu setelah Beraksi

BURU PELAKU LAIN: Kasatreskrim Polrestabes Surabaya AKBP Shinto Silitonga memeriksa kunci sepeda motor hasil kejahatan. - Image

BURU PELAKU LAIN: Kasatreskrim Polrestabes Surabaya AKBP Shinto Silitonga memeriksa kunci sepeda motor hasil kejahatan.

JawaPos.com – Satreskrim Polrestabes Surabaya membekuk lima begal. Mereka tidak hanya mencuri sepeda motor yang diparkir, namun juga merampas dari tangan pengendara. Bahkan, mereka tidak segan melukai korban.


Penangkapan para pelaku yang kerap meresahkan warga metropolis itu bermula dari tertangkapnya Mochammad Lutfi dan Muhammad Farid Fafianto. Mereka bersama dengan Samsul Arifin beraksi pada Jumat (10/2). Sore itu, mereka menghentikan korban, Rizky Ardiansyah, di daerah Kedurus. ’’Mereka menuduh Rizky telah menyakiti adik salah satu pelaku,’’ jelas Kasatreskrim Polrestabes Surabaya AKBP Shinto Silitonga, Minggu (12/2).


Korban kemudian diajak berputar-putar. Sesampai di daerah kampus Universitas Negeri Surabaya, Rizky yang masih berusia 13 tahun diminta pindah ke sepeda motor lain. Farid menakut-nakuti dengan memukul kepala korban. Sementara itu, Samsul pulang ke kosnya. Namun, saat melintas di U-turn taman makam pahlawan Mayjen Sungkono, mereka diberhentikan tiga polantas. ’’Mereka dihentikan karena tidak menggunakan helm,’’ katanya.


Saat ditanya polisi, Lutfi yang masih di bawah umur menyatakan bahwa Rizky adalah temannya. Namun, Rizky berontak. Dia merasa tidak mengenal pelaku. Polisi lantas mengamankan kedua pelaku.


Setelah diinterogasi, keduanya mengaku tidak hanya beraksi sekali. Selain itu, masih ada anggota lain yang biasa membantu mereka. ’’Mereka lalu dikeler ke sebuah kos-kosan di daerah Dukuh Bulak Banteng untuk menunjukkan tempat persembunyian mereka,’’ ungkap Shinto.


Farid mengungkapkan, kos tersebut adalah milik Supriyanto. Nah, di tempat kos itu, ternyata sudah ada Achmad Wahyu, Mochammad Sahri, dan Samsul. Mereka mengaku hendak menggelar pesta sabu-sabu. ’’Biasanya, setelah mendapat korban, kami langsung berpesta sabu,’’ ucap Samsul.


Pelaku mengakui, motor hasil curian tersebut dijual di daerah Tanah Merah, Madura. Mereka mengantar motor hasil curian ke Pulau Garam setiap pukul 01.00. Harganya bervariasi, Rp 1 juta–Rp 2 juta. Selain untuk memenuhi kebutuhan seperti makan dan membayar tempat kos, uang tersebut digunakan untuk membeli sabu-sabu. ’’Belinya ya di sekitar Madura juga, sekalian pulang,’’ ujar Farid.


Komplotan itu biasa nyabu tiga kali dalam seminggu. Mereka mengonsumsi serbuk haram itu sejak sebulan lalu. Itu dilakukan untuk menambah kepercayaan diri saat beraksi. Apalagi, mereka sering beraksi saat malam. ’’Jadi, melek dan lebih beringas,’’ tutur Farid.


Selama lima bulan terkahir, para pelaku beraksi di Tidar, Sawahan, Benowo, dan Kedurus. Peran masing-masing bergantung pada kondisi di lapangan. Korban yang diincar adalah anak-anak. Alasannya, mereka lebih takut ketika diintimidasi.



Kini polisi masih memburu dua anggota komplotan yang belum tertangkap. Yakni, Faisal dan Sahlan. Nama terakhir adalah orang yang bertugas membuat anak kunci T. ’’Kunci tersebut digunakan untuk merusak rumah kunci sepeda motor,’’ jelas Shinto. (aji/c23/fal/sep/JPG)

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore