Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 13 Februari 2017 | 23.12 WIB

Perjuangan Muhammad Safarudin, Anak Penderita Gagal Ginjal, Ibu Tak Tega Jawab

INGIN SEGERA SEKOLAH: Safarudin (tengah) bersama Rumiyati dan Iwan di Ruang HD RSUD Ibnu Sina pada Jumat (10/2). - Image

INGIN SEGERA SEKOLAH: Safarudin (tengah) bersama Rumiyati dan Iwan di Ruang HD RSUD Ibnu Sina pada Jumat (10/2).

Muhammad Safarudin sedang berjuang untuk segera kembali ke sekolah. Sejak September 2016 bocah 15 tahun tersebut terbaring lemah karena terkena gagal ginjal. Dia ingin bahagiakan ibunda.

ARIF ADI WIJAYA

RUANG Hemodialisis (HD) RSUD Ibnu Sina terlihat ramai. Puluhan pasien tengah melakukan cuci darah. Rata-rata berusia lanjut. Keluarga pasien ikut menunggui di dalam ruangan. Mereka duduk santai. Sebagian tampak mengobrol dengan pasien.

Di salah satu pojok ruangan, terlihat seorang pasien anak. Perutnya tampak buncit. Dua slang tertancap di lengan kirinya. Slang itu terhubung langsung dengan alat HD untuk cuci darah. Itulah Muhammad Safarudin atau Udin. Dia merupakan satu-satunya pasien HD yang masih anak-anak pada hari tersebut.

Udin ditemani sang bunda, Rumiyati, dan kakak keduanya, Yuniar Dwi Prasetyawan atau Iwan. ’’Mudah-mudahan cepat sembuh ya, nak,’’ kata Rumiyati. Tatapan matanya penuh harap.

Rumiyati tidak kuasa menahan air mata saat bercerita tentang kondisi putranya. Putra almarhum Hari Siswanto itu tiba-tiba sakit saat mengikuti masa orientasi siswa (MOS) di salah satu SMA pada pertengahan 2016. Sejak itu bungsu di antara empat bersaudara tersebut sering terbaring sakit.

Pada September 2016 kondisi Udin mulai drop. Wajahnya pucat. Bahkan, Udin pernah jatuh pingsan. ’’Sempat opname (rawat inap) selama lima hari,’’ kata Iwan. Saat itu darah Udin diambil untuk diperiksa. Hasilnya cukup mengejutkan. Kadar kreatin dalam darahnya mencapai 27 mg/dL. Padahal, kadar kreatin darah normal anak-anak hanya 0,5–1,0 mg/dL. ’’Ketika SMP dia pernah didiagnosis kelainan ginjal,’’ jelas Iwan.

Keluarga pun cemas. Udin lantas dibawa ke ruang HD untuk cuci darah. Hasil cuci darah pertama, kadar kreatin darahnya turun menjadi 16 mg/dL. Namun, kadarnya pada cuci darah yang kedua justru naik menjadi 18 mg/dL. ’’Cuci darah satu minggu sekali,’’ ujar Rumiyati.

Sejak saat itu Udin izin tidak bisa masuk sekolah. Bocah yang bercita-cita menjadi pengusaha tersebut tidak pernah bisa tidur nyenyak setiap malam. Punggungnya sakit ketika berbaring. Akhirnya, dia tidur sambil duduk. Bantal dan guling ditata untuk sandaran. ’’Kakaknya bergantian menemani karena kerjanya juga sif-sifan,’’ kata Iwan.

Bagaimana kalau mereka sama-sama bekerja? Rumiyatilah yang selalu menemani anaknya. Ketika tidak ada kakaknya, Udin kerap kali curhat. Mulai masalah penyakitnya hingga cita-citanya yang kini menggantung di angan-angan. Rumiyati mengatakan, Udin sangat ingin kembali ke sekolah. Buah hatinya itu kerap mengeluh tidak punya teman. ’’Semangatnya tinggi untuk sekolah,’’ jelasnya.

Hati Rumiyati terasa teriris saat Udin bertanya tentang penyakitnya. ’’Kok nggak sembuh-sembuh,’’ ucap Rumiyati kala menirukan pertanyaan Udin. Rumiyati tidak bisa menjawab jujur ketika ditanya soal penyakitnya. ’’Sedih,’’ ungkapnya.

Kesedihan itu tidak bisa disembunyikan. Sebab, Udin juga merasakan ibundanya sedang gundah. Pada suatu saat, dia mengatakan ingin punya usaha. Selama ini Rumiyati bekerja dengan buka warung. ’’Ingin sekali bisa bantu ibu,’’ tutur Udin sambil terbaring lemah.

Sejak suaminya meninggal, Rumiyati berjualan nasi bungkus dan gorengan di depan rumah di Dusun Sumber, Kelurahan Kembangan, Kecamatan Kebomas. Hasilnya cukup untuk makan bersama Udin dan kakak ketiganya, Rindi Tri Muharomah. Dua kakak Udin bekerja di pabrik untuk membantu Rumiyati. Sebab, mulai September 2016–Januari 2017 Udin rutin cuci darah seminggu sekali.

’’Sekarang dua minggu sekali cuci darah,’’ kata Rumiyati yang menjadi peserta BPJS PBI (penerima bantuan iuran).

Namun, ada perubahan yang tidak biasa pada tubuh Udin. Lengannya menjadi kurus kering. Kakinya membengkak. Perutnya semakin lama semakin membuncit. Melihat kondisi itu, keluarga semakin panik. Rumiyati memberanikan diri menanyakan kondisi putranya ke dokter. ’’Kata dokter, ginjalnya sudah membengkak,’’ ungkap Rumiyati sembari menyeka air mata.

Menurut dokter, pembengkakan ginjal itu diduga terjadi karena Udin terlalu banyak minum air. Padahal, pasien gagal ginjal sebaiknya tidak minum air terlalu banyak. ’’Memang anaknya suka minum,’’ jelasnya.

Rumiyati berharap anaknya bisa sembuh dan kembali bersekolah. ’’Mudah-mudahan segera sembuh. Kasihan anak saya,’’ tutur perempuan 52 tahun tersebut. (*/c15/roz/sep/JPG)

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore