
SUDAH DIPILAH: Dari kiri, Maya Hidayati, Sulistiyo, dan Eko Sartono, Minggu (12/2) mengumpulkan sampah warga RT 18, Dusun Badas, Desa Barengkrajan, Krian, Sidoarjo.
JawaPos.com – Perjuangan relawan pengendalian sampah peserta program nasional ’’Kotaku’’ (Kota Tanpa Kumuh) di sejumlah desa di Kota Delta patut diacungi jempol. Mereka benar-benar berkomitmen mengambil sampah warga secara rutin seminggu sekali. Padahal, mereka tidak digaji. Mereka mengolah sampah itu menjadi pupuk untuk dijual.
Relawan dari Desa Barengkrajan, Krian, misalnya. Minggu (12/2) pagi dua gerobak sampah berwarna kuning terlihat didorong belasan relawan. Mereka bergerak dari satu rumah warga ke rumah yang lain. ’’Sampah. Sampaaah,’’ teriak mereka lantang dan saling bersahutan. Mendengar teriakan itu, beberapa warga langsung keluar rumah. Warga rata-rata membawa dua bungkusan sampah di tangan. Satu kresek sampah basah dan satu kresek sampah kering.
’’Yang sulit itu membuat warga mau memilah sampah mereka. Sehingga lebih memudahkan kami untuk mengangkut sampah,’’ ujar fasilitator program Kotaku wilayah Krian Hengky Ceda. Sejak para relawan rutin mengambil sampah pada Januari lalu, sejumlah warga ternyata tergerak. Mereka pun mau memilah sampah dan menyerahkannya kepada relawan.
’’Kami awali dari Dusun Badas di RT 18. Warga desa lain akhirnya senang dan merespons dengan baik,’’ kata Hengky. Dia mengakui, warga awalnya memang masih ogah-ogahan. Mereka tidak mau ribet memilah sampah basah dan kering. Namun, setelah melihat lingkungannya menjadi lebih bersih, warga pun berminat.
’’Dulu kebiasaan warga di sini masih banyak yang buang sampah di sungai,’’ ungkap Hengky. Apalagi, RT 18 berlokasi persis di depan sungai. ’’Dengan begini sudah tidak lagi dan sungai jadi lebih bersih,’’ ungkapnya.
Dalam seminggu, relawan berhasil mengumpulkan rata-rata 5 kilogram sampah. Itu hanya dari satu rumah tangga. Padahal, terdapat sekitar 75 keluarga dalam satu RT. ’’Bayangkan berapa banyaknya,’’ tambah pria yang tinggal di Waru itu.
Ada sekitar 15 relawan yang setiap minggu pagi mengumpulkan sampah. ’’Kebanyakan ibu-ibu,’’ ucap Hengky. Sampah basah yang terkumpul selanjutnya diolah menjadi pupuk dengan menggunakan komposter putar. ’’Nah, pupuk yang mereka buat itu kami ambil untuk bantu penjualannya,’’ papar Hengky.
Pupuk hasil olahan warga ternyata cukup baik. Teksturnya lebih lembut dan tidak tercampur tanah. Murni dari sampah basah yang sudah terurai. ’’Per RT itu ada sekitar 10 kilogram pupuk yang dihasilkan dalam dua minggu,’’ ungkapnya. Salah satu tujuan utama program Kotaku yang dicanangkan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen PUPR) memang mengelola sampah dari tingkat rumah tangga hingga ke ranah beragam pengolahannya. (uzi/c15/pri/sep/JPG)

Prediksi Skor Paraguay vs Australia di Piala Dunia 2026: Berebut Tiket 32 Besar Namun Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Swiss vs Kanada di Piala Dunia 2026: Jonathan David Tancap Gas Bombardir Gawang La Nati
Prediksi Skor Turki vs Amerika Serikat di Piala Dunia 2026: The Stars & Stripes Berburu Rekor Sempurna di Fase Grup
Prediksi Skor Jepang vs Swedia di Piala Dunia 2026: Samurai Biru Incar Tiket 32 Besar di Laga Penentuan
Prediksi Skor Afrika Selatan vs Korea Selatan di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Wajib Menang Demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Tunisia vs Belanda di Piala Dunia 2026: Oranje Wajib Menang demi Amankan Tiket 32 Besar
Profil Wakil Ketua BEM UI Fathimah Azzahra yang Konsisten Mengkritik Program MBG
Prediksi Skor Bosnia dan Herzegovina vs Qatar di Piala Dunia 2026: Mimpi Buruk Al-Annabi Belum Usai
Prediksi Skor Curacao vs Pantai di Piala Dunia 2026: Misi Les Éléphants Menang demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Maroko vs Haiti di Piala Dunia 2026: Achraf Hakimi Cs Siap Pesta Gol di Laga Penentuan
