
Imam Shamsi Ali
DALAM beberapa hari ini ada berita yang menggembirakan bagi banyak orang di Amerika Serikat (AS), khususnya komunitas muslim. Dan lebih khusus lagi komunitas muslim dari tujuh negara yang dilarang oleh Presiden Donald Trump masuk AS. Tujuh negara itu adalah Iran, Iraq, Syria, Libia, Yaman, Sudan, dan Somalia. Sebelumnya, mereka dilarang masuk AS dengan alasan menjaga keamanan negara dari serangan teror dari luar.
Pada hari ditandatanganinya keputusan itu, yang menimbulkan kekacauan (chaos) di berbagai bandara internasional Amerika, termasuk diadakannya demonstrasi besar-besaran, baik di luar maupun dalam bandara. Ratusan penumpang yang mendarat hari itu dari negara-negara termaksud ditahan di airport. Bahkan, imbas kebijakan ini juga merambat ke penumpang muslim lainnya, di mana mereka mendapat perlakuan yang buruk di imigrasi bandara AS.
Alhamdulillah, ternyata karakter anti-Islam dan muslim Donald Trump, khususnya dengan pelarangan orang Islam masuk AS ini, menumbuhkan simpati dan solidaritas warga secara luas. Berbagai demo di bandara-bandara internasional justru diinisiasi oleh warga AS nonmuslim, termasuk komunitas Yahudi.
Tekanan warga di berbagai kota di AS meninggi. Sementara itu, berbagai asosiasi pengacara melakukan gugatan hukum darurat menuntut agar kebijakan itu dibatalkan. Maka, pada hari yang sama peraturan itu diperlakukan, Pengadilan Tinggi Brooklyn menangguhkan pelarangan itu. Hasilnya, ratusan pendatang yang tertahan di airport itu bisa masuk AS pada hari berikutnya. Setelah Pengadilan Tinggi Brooklyn, peraturan itu kemudian dinyatakan batal dan tidak konstitusional oleh Pengadilan Tinggi Negara Bagian Washington.
Merespons atas pembatalan itu, pihak White House membawanya ke pengadilan menuntut agar pembatalan itu ditangguhkan. Artinya, Trump berusaha tetap memperlakukan pelarangan itu. Karena memang pelarangan itu disebutkan dalam masa tiga bulan.
Akan tetapi, sekali lagi Trump harus menerima kenyataan pahit bahwa pengadilan tinggi di San Francisco di mana pemerintahannya mengajukan peninjauan kembali atas pembatalan ’’executive order’’ itu ditolak secara aklamasi. Dari tiga hakim tinggi yang memutuskan itu, semuanya menyatakan menolak keinginan Donald Trump itu.
**
Trump, sebagaimana biasanya, menyampaikan unek-uneknya lewat Twitter ’’see you in court. The security of our nation at stake’’ (sampai ketemu di pengadilan. Keamanan negara kita dalam bahaya).
Sekali lagi, Trump menampakkan diri sebagai orang yang hidup dalam bayang-bayang dirinya sendiri. Di mana, dirinya selalu merasa terancam (insecured) dan hanya dia sendiri yang bisa menjamin keamanannya. Sebuah kepribadian yang terlepas dari realitas sekitarnya.
Benarkah bahwa dengan melarang orang Islam datang ke AS, negara dan bangsa ini akan lebih aman? Dalam sejarahnya, AS selalu teruji oleh nilai-nilai kemanusiaan universal yang dibanggakan. Bahwa AS adalah negara dan bangsa imigran, terbuka untuk imigran, dan selalu mengedepankan sikap berkeadilan kepada semua tanpa batas agama, ras, dan latar belakang kebangsaan.
Bersatu membangun solidaritas
Dari sudut nilai-nilai universal AS inilah yang membangun kesadaran bangsa bahwa apa yang dilakukan oleh presidennya saat ini salah. Sehingga wajar jika banyak warga AS saat ini yang bangkit dan melakukan resistansi terhadap kebijakan Trump itu.
Saya sendiri sejak awal kampanye hingga terpilihnya dan bahkan hingga kini banyak mendapat dukungan dari teman-teman nonmuslim. Baik itu secara langsung dengan menawarkan perlindungan apa pun yang diperlukan dalam menghadapi tantangan masa kini maupun secara tidak langsung dengan mengajak kerja sama dalam membangun komunitas bersama yang solid.
Salah satu bentuk nyata dari dukungan teman-teman nonmuslim adalah keinginan mereka untuk secara terbuka menyatakan rasa simpati dan solidaritas dengan mengadakan rally bertema ’’Hari ini kami juga muslim’’. Rencana kegiatan tersebut diadakan pada 19 Februari mendatang di jantung kota New York, Time Square.
Maksud dari tema ’’Hari ini kamu juga muslim’’ adalah menyatakan bahwa apa yang diperlakukan kepada umat Islam berarti itu juga diperlakukan kepada kami. Kesadaran ini bahkan diekspresikan oleh sebagian pembesar AS dalam kata-kata ’’kalau sampai komunitas Islam didata (registry), maka kami akan menjadi muslim’’.
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Perilaku Menantu Tak Cerminkan Orang Kerajaan, Sultan Brunei Cabut Gelar Istri Pangeran Abdul Malik
Tumbang, Andika Kangen Band Minta Doa untuk Kesembuhannya
Doktif Bongkar Transfer Rp 9 Juta Richard Lee, Disebut untuk Jasa Prostitusi
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Tumplek Blek! Ribuan Massa Padati Jalan Gubernur Surabaya untuk Ikuti Aksi Tolak LGBTQ
Daftar Skuad Chelsea dan AC Milan di Indonesia: Luka Modric, Rafael Leao, hingga Cole Palmer
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Prediksi Skor Arsenal vs Dortmund di Emirates Cup 2026: Mikel Arteta Punya Misi Bangkit di Emirates
Siaran Tunda Moto3 Inggris 2026! Ini Jadwal dan Link Live Streaming Veda Ega Pratama di Silverstone
Juara Piala Presiden 2026! 3 Pemain Persebaya Jalani Pemulihan Jelang Super League 2026/2027
