
Zully Hijah Yanti AD bersama siswa SD yang belajar di SMPN 4 Satu Atap Kecamatan Salatiga, Kalimantan Barat.
JawaPos.com - Beratnya beban hidup dan inginnya mendapatkan pekerjaan yang layak membuat masyarakat di Desa Sungai Tomab, Kecamatan Salatiga, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat lebih memilih menyelesaikan pendidikannya hingga bangku SMP. Setamat itu, mereka memutuskan untuk menjadi tenaga kerja di negeri jiran Malaysia sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI).
Sebagaimana yang dikisahkan Zully Hijah Yanti AD, salah seorang guru yang bertugas di daerah pedalaman dari program Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM3T) pada 2016 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (kemendikbud).
Dikatakannya, ketika mengajar di SMP Negeri (SMPN) 4 Satu Atap di Desa Sungai Tomab, dirinya tidak sekadar mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia saja. Melainkan juga mengamati keadaan budaya masyarakat setempat.
Namun Zully lebih fokus mengamati dan memperhatikan pendidikan di sana. Menurutnya, pendidikan anak-anak di Tomab sangat memperihatinkan. Banyak anak-anak berusia 18 tahun masih duduk di bangku SMP. Mereka setelah tamat SMP langsung merantau ke negeri Jiran, Malaysia untuk bekerja.
"Sedih di sini. (Anak-anak) tamat SMP pada kerja ke Malaysia," ujar Zully seperti dilansir Rakyat Aceh (Jawa Pos Group), Senin (13/2.
"Padahal pendidikan penting banget. Mau nangis kalau dengar siswa yang nggak mau lanjut sekolah." ungkap alumnus Program Studi FKIP Bahasa Indonesia Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU).
Menurutnya, kendala serta tantangan yang dihadapi untuk membangun pendidikan yang baik di sana murni karena bantuan dan perhatian pemerintah yang minim. Sehingga sekolah-sekolah dan pendidikan di daerah terus tertiggal.
Imbasnya akan manambah jumlah buta huruf di Indonesia. Sekolah di sana hanya mengandalkan bantuan Biaya Operasional sekolah (BOS) untuk membangun infrastruktur semampunya. "Di sini yang diandalkan cuma dana BOS itu. Jadi mau membangun sekolah yang layak nggak bisa," terangnya.
Beragam keterbatasan saran pendukung di sana membuat Zully tetap semangat dan tak patah arang untuk mengabdi dan memberikan pendidikan. Meski kerap kali situasi itu membuatnya harus kerepotan dan harus berkerja keras.
Dia mengakui, rasa kekeluargaan yang dapatkan di sana menjadi obat yang mujarap yang terus membangkitkan semangatnya. Bahkan ia merasa seakan sudah kembali ke kempung halamannya sendiri dan sudah menemuakan keluarganya kembali.
"Di sini warganya (baik) subhanallah. Sampai sekarang belum pernah beli beras. Rasa-rasanya satu kampung pada ngasi beras. Banyak keluarga angkat di sini. Sakarang ngerasa kalau di sini malah lebih enak ketimbang kampung sendri," katanya berkelakar. (Murti Ali Lingga/mai/iil/JPG)
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Foto Terakhir Kebersamaan Anthony Xie dengan Audi Marissa Usai Digugat Cerai
Prediksi Skor Udinese vs Venezia di Coppa Italia: Sang Zebra Kecil Berpeluang Menang di Friuli!
Prediksi Skor Palermo vs Mantova di Coppa Italia: Rosanero Siap Libas Tim Tamu di Renzo Barbera
Kasus Penipuan Rp 3,5 Miliar Dihentikan Usai Ruben Onsu Berdamai dengan Pelapor
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Manajemen Buka Suara Usai Ikang Fawzi Dikabarkan Menikah Lagi
Obligasi Danantara: Dana Murah Pembangunan yang Rentan TPPU?
35 Santri Keracunan MBG Masih Dirawat di RS Siti Hajar Sidoarjo
Prediksi Skor Laos U-20 vs Timnas Indonesia U-20: Garuda Muda Berpeluang Pesta Gol!
Prediksi Sassuolo vs Frosinone di Coppa Italia 2026/2027: Jay Idzes Cs Menang Susah Payah
