
M. Tamhid Assiddiqi
Sejak kecil, M. Tamhid Assiddiqi memang bercita-cita menjadi guru. Kesempatan itu akhirnya datang ketika dia masih menjalani semester akhir kuliahnya di UIN Sunan Ampel Surabaya. Hingga kini, Diqi terus mengasah diri menjadi guru yang terampil.
DUA tahun mengajarkan Alquran di Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Al Uswah, M. Tamhid Assiddiqi diangkat sebagai koordinator Alquran sekolah tersebut. Tugasnya adalah menjadi penguji terakhir setiap kenaikan level mengaji para siswa. Baik membaca maupun menghafal.
Pada 2016 pria yang akrab disapa Diqi itu menerapkan metode baru untuk pengajaran Alquran di sekolah. Yakni, Quran Care. Metode itu mirip bimbingan konseling bagi para siswa yang memiliki masalah dalam materi membaca maupun menghafal kitab suci.
Dalam Quran Care, para pengajar diminta untuk membuat catatan tentang tingkah laku siswa. Khususnya mereka yang melanggar aturan. Misalnya, ramai di kelas, tidak membawa buku, atau tidak konsentrasi saat pelajaran. Dalam sebulan, catatan itu direkapitulasi. ”Siswa yang mendapatkan catatan pelanggaran terbanyak akan dieksekusi,” ujar pria kelahiran 28 Februari 1988 itu.
Sebelum eksekusi berlangsung, Diqi berkeliling sekolah. Murid-murid yang melihatnya sudah harap-harap cemas. Kalau ada yang dipanggil, siap-siap kehilangan waktu 15 menit di pelajaran yang paling disukai.
Selama ini ada dua mata pelajaran yang menjadi favorit siswa. Yaitu, olahraga dan ekstrakurikuler. Diqi sudah berkoordinasi dengan guru pengampu mata pelajaran tersebut. Waktu 15 menit digunakannya untuk memberikan konseling seputar permasalahan yang dihadapi siswa saat belajar Alquran.
”Jawabannya beragam dan tak seperti dugaan kita,” tuturnya. Setiap siswa rupanya memiliki alasan sendiri-sendiri dalam melakukan pelanggaran. Bahkan, siswa juga paham dengan kesalahannya hingga dipanggil petugas konseling.
Misalnya, cerita seorang siswa yang tidak membawa buku saat bimbingan Alquran. Rupanya dia membawa buku, tapi malu untuk mengeluarkannya dari dalam tas. ”Buku saya ketumpahan susu, Ustad. Saya malu karena bukunya bau,” kata Diqi yang menirukan ucapan siswanya. Setelah mengetahui permasalahan tersebut, Diqi memberikan solusi. Membeli buku baru atau menyemprot buku dengan parfum.
Bagi Diqi, anak-anak sebenarnya bukan berniat membandel. Tetapi, memang ada alasan-alasan yang membuat mereka melakukan itu. Hal tersebut juga disampaikannya kepada orang tua siswa. Dengan begitu, ada upaya bersama dari guru dan wali murid untuk mencerdaskan anak-anaknya.
Bagi siswa yang sulit diatur, lanjut dia, ada hukuman tersendiri. Hukuman terberat adalah siswa tidak boleh menghadap teman-teman atau gurunya saat bimbingan. Mereka diminta menghadap tembok dan buku panduan. Kemudian, menghafal Alquran sesuai dengan tahap yang sedang dipelajari. Rupanya cara itu cukup efektif. ”Karena menghadap tembok, dia jadi lebih fokus,” jelas suami Malicha Istifadah tersebut.
Selain punishment, ada reward. Siswa yang menunjukkan perkembangan dan bisa menuntaskan hafalan melebihi target akan dimasukkan kelas khusus. Yakni, tahfiz akselerasi. Selanjutnya, mereka digembleng untuk mencapai target yang lebih tinggi. Untuk siswa reguler, targetnya saat lulus harus hafal tiga juz. Sementara itu, di kelas tahfiz akselerasi, siswa harus hafal 4–6 juz.
Meski demikian, hafalan terus-menerus rawan membosankan siswa. Untuk itu, setiap Jumat para guru membuat permainan seru. Permainan itu biasanya ditunggu-tunggu para siswa. Jenisnya beragam, sesuai kreasi guru saat itu.
Biasanya pemenang setiap game tidak hanya satu anak. Bisa sampai 10 orang. Pemenangnya mendapatkan hadiah voucher senilai Rp 1.000 untuk jajan di kantin. ”Buat mereka, Rp 1.000 itu sudah berharga, bahkan sampai diceritakan ke orang tuanya,” ungkap Diqi.
Dengan beragam metode tersebut, para siswa di SDIT Al Uswah menjadi lebih termotivasi belajar Alquran. Untuk lebih menyemangati, sebelum masuk kelas dan saat jam istirahat, selalu diputarkan murotal Alquran dengan suara anak-anak. Harapannya, mereka lebih akrab dengan bacaan kitab suci dan lebih mudah menghafal.
Bukan hanya itu. Diqi juga mengajak para pengajar Alquran lain untuk tidak berhenti menyemangati siswa dalam belajar. Dengan motivasi terus-menerus, minat mereka untuk belajar tentu semakin tinggi. ”Harapannya, bisa mencetak hafiz-hafiz cilik yang cinta Alquran dan tak pernah berhenti belajar,” ujarnya. (ant/c7/nda/sep/JPG)

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
15 Pecel Paling Enak di Surabaya, Cita Rasa Sambal Kacang yang Autentik dan Ragam Lauk Tradisional yang Menggoda Selera
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Wisata Terbaik Dekat Stasiun Pasuruan, Buat Liburan Tak Perlu Jauh Tapi Tetap Seru
12 Tempat Kuliner Soto yang Jadi Favorit di Malang, Soal Rasa Jangan Ditanya Pasti Enak!
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
