Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 12 Februari 2017 | 20.06 WIB

Mengunjungi Wihara Terunik di Asia Tenggara

Warga melihat patung-patung yang berjejer di Wihara Ksitigarbha Bodhisattva - Image

Warga melihat patung-patung yang berjejer di Wihara Ksitigarbha Bodhisattva

JawaPos.com - Sebelum peradaban Islam masuk ke Nusantara, Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) menjadi salah satu daerah yang memiliki pengaruh Budha cukup besar. Maka tak heran di kota itu kini terdapat beberapa wihara.


Menariknya kini di Ibu Kota Kepri tersebut terdapat wihara terunik di Asia Tenggara dan bahkan terunik kedua di Asia, setelah Tiongkok. Wihara Ksitigarbha Bodhisattva namanya. Letaknya di Jalan Asia-Afrika, Batu 13, Kecamatan Tanjungpinang Timur.


Wihara ini baru saja diresmikan oleh Gubernur Kepri, Nurdin Basirun dan Walikota Tanjungpinang, Lis Darmansyah, Jumat (10/2).  Salah satu keunikan dari wihara ini, yakni terdapat 540 patung dewa dan lohan. Semua itu didatangkan langsung dari Tiongkok. Tak ayal keberadaan tempat ibadah umat Budha ini menjadi pusat wisata di tanah melayu. Bahkan sejak dibuka untuk umum, kini jumlah pengunjungnya telah mencapai 3 ribu orang.


"Sudah 3000 orang yang datang ke sini. 80 persennya agama muslim. Jadi vihara ini sangat bernilai tinggi makanya kami buka untuk umum. Bahkan akan dijadikan sebagai objek wisata religi di dunia," ungkap Ketua Yayasan Ling Shan Ji Yu Si, Bobby Jayanto seperti dilansir Batam Pos (Jawa Pos Group), Minggu (12/2).


Wihara Ksitigarbha Bodhisattva ini dibangun dan dikelola oleh Yayasan Ling Shan Ji Yu Si. Pembangunannya sempat terkendala biaya sehingga menelan kurun waktu cukup lama untuk menyelesaikannya, yakni 14 tahun dari 2002-2016. 


Bobby Jayanto mengatakan, wihara yang dibangunnya merupakan tempat beribadah umat Budha yang terunik di Asia Tenggara, bahkan terunik kedua setelah di Cina. Namun untuk mencapai kesuksesaan itu dirinya mengalami sejarah panjang baik duka dan sukanya.


"Banyak kendala yang saya alami untuk mendirikan vihara ini. Makanya proses penyelesaian pembangunannya menelan waktu 14 tahun," ujar Bobby.


Diceritakan Bobby, awal sejarah pembangunan vihara ini dirinya dihadapkan dengan para pemain tambang bauksit. Lahan yang digunakannya untuk membangun wihara akan dibebaskan untuk lokasi pertambangan biji besi tersebut. Ketika itu dirinya menolak keras dan mempertahankan agar lahan seluas dua hektare tidak jatuh ke tangan pemain bauksit. Berhasil memertahankan lahan tersebut, dirinya mulai menjalankan rencana pembangunan wihara dengan dana seadanya.


Itu dilakukan Boby pada awal 2002 lalu. Beberapa tahun kemudian, dirinya dilanda krisis dana sebab berbagai usahanya mengalami kemacetan. Kendati demikian tak membuatnya patah arang, dengan jiwa yang semangat dia mencari donatur untuk mendulang bantuan dana.


"Dewa membantu saya. Banyak donatur yang siap membantu menyelesaikan pembangunan vihara ini. Di situlah semangat saya kembali berkobar," bebernya.


Dana yang terkumpul dari beberapa donatur itu digunakan untuk melanjutkan pembangunan. Dari membangun tempat ibadahnya, pondok-pondok sampai membeli patung-patung lohan beraneka ragam dan dewa-dewa. Patung lohan dan dewa itu dibelinya langsung dari Cina sebanyak 540 unit.


Insipari pembangunan wihara ini, lanjut Bobby, datang dari permintaan suhunya (guru) yang ada di Singapura. Kala itu beliau ingin mendirikan wihara besar di wilayah Tanjungpinang. Maka sebagai wujud memenuhi permintaan tersebut, dia mendirikan wihara seperti yang diinginkan sang suhu.


"Dalam vihara ini ada 500 patung lohan berbeda wajah dan 40 patung dewa-dewa. Bahkan ada gedung dengan dewa yang berkapasitas besar. Inilah yang menjadikan vihara terunik kedua se Asia setelah Cina," sebutnya.


Dengan diresmikannya pengoperasian Vihara itu, Bobby berjanji tidak hanya memanfaatkan vihara ini sebagai tempat beribadah umat Budha saja. Tetapi akan diperuntukan sebagai area rekreasi masyarakat umum.


Besar harapan Bobby vihara ini juga bisa dijadikan salah satu objek wisata religi di Indonesia bahkan sampai ke seluruh dunia. Karena nilai jual vihara ini untuk kepariwisataan sangat tinggi. Baik bentuk dan isinya maupun sejarah yang tersirat disetiap bangunan dan patung-patung lohan dan dewa.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore