
Tigas pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta, saat mengikuti debat putaran terakhir, kemarin.
JawaPos.com - Debat final Pilkada DKI Jakarta memantik komentar sejumlah pihak. Tak terkecuali Pengamat Politik dari Universitas Pelita Harapan Emrus Sihombing.
Menurutnya, debat yang digelar di Hotel Bidakara, Jakarta, semalam, Jumat (10/2) sangat produktif dan bisa membantu masyarakat lebih memastikan pilihannya. Bahkan dikatakan sebuah survei di radio, 80 persen masyarakat sudah memastikan pilihannya. Sementara yang bergeser hanya 10 persen, dan sisanya menyatakan ragu-ragu.
"Artinya, debat kemarin berhasil karena menguatkan pilihan masyarakat. Sekalipun waktu singkat, sudah merupakan masukan bagi masyarakat Jakarta tentukan pilihan," ujarnya saat dihubungi JawaPos.com, Sabtu (11/2).
Emrus menuturkan, di debat final tersebut para pasangan calon sudah sampai beradu data dan realitas yang ada. Misalnya foto tentang pelayanan masyarakat. Anies Baswedan-Sandiaga Uno menunjukkan foto fasilitas disabilitas yang tidak terpenuhi.
Lalu, Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hodayat membalas dengan menunjukkan bahwa pemerintahannya telah membangun fasilitas tersebut melalui tampilan di foto pula walaupun lokasinya berbeda.
"Artinya, mereka sudah masuk kepada level adu data karena memang perdebatan yang produktif pada level program dan data," sebut dia.
Pelayanan terhadap masyarakat terutama kaum disabilitas memang sangat substantif. Tiga paslon pemimpin DKI itu menurutnya sama-sama menjelaskan pendekatan yang dilakukan berbasis kepada masyarakat dan keluarga.
"Artinya, tiga pasangan ini ingin libatkan masyarakat dalam semua proses pembangunan, termasuk membangun fasilitas yang layak untuk disabilitas," tutur Emrus.
Begitupula dengan pemberantasan narkoba. Tiga paslon menawarkan sesuatu yang intinya, pemberantasan narkoba di Jakarta tanpa kompromi karena bahayanya semakin mengancam.
Tak hanya perang substantif, para paslon kata Emrus berupaya saling serang. Mereka mengemukakam sisi megatif lawan. Namun berdasarkan fakta, Emrus menyebutnya sebagai negative campaign.
Sebagai contoh dilakukan paslon nomor urut 1 Agus Harimurti-Sylviana Murni terhadap pasangan Anies-Sandi. Mereka mempertanyakan konsistensi terhadap Anies walaupun Sandi yang menjawab. Tak henti di situ, Agus-Sylvi pun menyerang pasangan cagub nomor urut 2, Ahok. Dikatakan bahwa Ahok melakukan kekerasan verbal.
Emrus menilai, negatif campaign itu wajar dilakukan dalam perdebatan. Namun memang tetap harus berdasarkan data. Hal itupun bisa berdampak positif.
"Artinya, masyarakat pemilih tidak memilih kucing dalam karung. Terungkap semua sisi negatif oleh lawan, positifnya diungkap diri sendiri," pungkasnya. (dna/JPG)
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Prediksi Malaysia vs Filipina: Menang atau Harus Berharap Thailand di Piala AFF 2026
Prediksi Thailand vs Myanmar di Piala AFF 2026: Gajah Perang Berpeluang Lolos sebagai Juara Grup
Daftar Skuad Chelsea dan AC Milan di Indonesia: Luka Modric, Rafael Leao, hingga Cole Palmer
Jadwal Siaran Langsung dan Link Live Streaming Chelsea vs AC Milan, Tayang di Mana?
Tumbang, Andika Kangen Band Minta Doa untuk Kesembuhannya
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Jafar dan Adnan Diduga Terlibat Match Fixing, PBSI Langsung Ubah Komposisi Ganda Campuran
Perilaku Menantu Tak Cerminkan Orang Kerajaan, Sultan Brunei Cabut Gelar Istri Pangeran Abdul Malik
Prediksi Skor Arsenal vs Dortmund di Emirates Cup 2026: Mikel Arteta Punya Misi Bangkit di Emirates
