
BERENANG: Warga Dusun Pojok, Desa Tanjungsari, Kecamatan Kradenan, mengantar jenazah Jinem yang akan dimakamkan Rabu (8/2).
JawaPos.com –Inilah sulitnya memakamkan jenazah bagi warga Dusun Pojok, Desa Tanjungsari, Kecamatan Kradenan Kabupaten Grobogan-Jateng. Bila ada warganya yang meninggal maka untuk memakamkannya arus menyeberangi Sungai Lusi. Karena lokasi pemakaman berada di seberang sungai. Nah, Rabu lalu (8/2) ada prosesi pemakaman jenazah Jinem, warga Dusun Pojok, Desa Tanjungsari, Kecamatan Kradenan.
Duka warga menjadi dua kali, lantaran salah satu pelayat yang mengantarkan jenazah tenggelam dan terbawa arus Sungai Lusi. Pelayat itu bernama Jumeno, 28, warga Desa Kalirejo, Kecamatan Wirosari. Pemuda ini ikut membantu membawa jenazah untuk diseberangkan melalui Sungai Lusi Rabu sore.
Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Kudus, kejadian berawal saat korban bersama beberapa warga mengantar jenazah Jinem untuk dimakamkan. Lokasinya menyeberangi Sungai Lusi. Sejak dulu bila ada warga yang meninggal jenazahnya diseberangkan dengan gethek. Sebagian pengantar berenang menyeberang sungai mengikuti gethek pembawa jenazah.
Korban bersama beberapa warga lain berenang sekitar 70 meter menuju lokasi makam yang dituju. Sesampainya di tengah sungai, korban berenang mengenakan kaus singlet putih itu tiba-tiba terseret arus.
Melihat kejadian itu, Jupri, 50; Masruri, 30; dan Marjuki, 50, yang juga berenang berusaha menolong korban. Karena arus deras, ketiga saksi tidak bisa berbuat banyak. Korban tenggelam dan terbawa arus ke arah hilir.
”Korban saat ini (Kamis 9/2, Red) masih dalam pencarian sampai jarak 5 kilometer dan belum ditemukan. Pencarian oleh petugas SAR mengalami kendala karena arus Sungai Lusi deras dan kedalamannya mencapai 10 meter,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Agus Sulaksono Kamis (9/2).
Kepala Desa Tanjungsari, Kecamatan Kradenan, Tri Suryatno mengatakan, prosesi pemakaman dilakukan seberang sungai, karena keluarga ingin jenazah dimakamkan kumpul dengan lainnya. Tradisi tersebut sudah turun temurun dan tidak pernah ada masalah. ”Kejadian ada pengantar jenazah tenggelam baru kali pertama dalam sejarah. Sebelumnya tidak ada,” terangnya.
Warga yang ingin memakamkan jenazah di makam seberang sungai tidak bisa lewat jalan raya. Jika melewati jalan harus memutar lewat Kecamatan Wirosari dengan jarak 10 kilometer lebih.
Selain itu, ada jembatan rel kereta api yang sudah tua. Bila dilewati takut roboh. Namun, banyak warga nekat melewati sepeda untuk memotong jalur. ”Untuk pergi ke Kecamatan Kradenan bisa ditempuh kurang dari 1 kilometer. Tetapi jika lewat jalan memutar Kecamatan Wirosari sekitar 10 kiloemter,” ujarnya.
Pembangunan jembatan gantung akan dilakukan agar warga bisa seberangi sungai. ”Tadi pagi (kemarin, Red) perwakilan camat Kradenan dan Dinas PUPR sudah datangi lokasi untuk lakukan pengukuran agar segera dibangun,” tandasnya. (mun/ris/mik/JPG)
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Doktif Bongkar Transfer Rp 9 Juta Richard Lee, Disebut untuk Jasa Prostitusi
Perilaku Menantu Tak Cerminkan Orang Kerajaan, Sultan Brunei Cabut Gelar Istri Pangeran Abdul Malik
Sakit Hati, Alasan Eks Karyawan Bongkar Aib Richard Lee Suka 'Jajan Cewek'
Doktif Sebut Richard Lee Transfer Uang ke Mucikari, Klaim Gunakan Anak di Bawah Umur
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Richard Lee Bela Perempuan di Podcast, Eks Karyawan: Dia Penjahat Wanita
Profil Penang FC: Ujian Persebaya Jelang Super League, Ada Misi Khusus Bernardo Tavares
Profil Lengkap Destry Damayanti, Calon Tunggal Gubernur BI
Finis P9 Moto3 Inggris 2026, Veda Ega Pratama Bongkar Kesalahan di Silverstone
Tumplek Blek! Ribuan Massa Padati Jalan Gubernur Surabaya untuk Ikuti Aksi Tolak LGBTQ
