Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 10 Februari 2017 | 23.57 WIB

Kapolri Ingatkan Aksi 112 Jangan Sampai Ditunggangi Politik

Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian - Image

Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian

JawaPos.com - Aksi 112 bakal digelar besok. Segala persiapan telah dilakukan agar aksi itu bisa berjalan lancar. Mulanya aksi itu akan digelar dengan long march di kawasan Jakarta Pusat, namun dengan segala pertimbangan, aksi itu diubah menjadi doa dan ibadah di Masjid Istiqlal.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian menerangkan bahwa kegiatan ibadah itu tak ada yang melarang. Hanya saja, aksi 112 jangan sampai melebar menjadi agenda politik terselubung. "Kalau mau bikin kegiatan ibadah, ibadah saja, tapi jangan sampai berbau politik, akhirnya menjadi kampanye, apalagi ini tidak melapor kepada KPU," kata dia di Polda Metro Jaya, Jumat (10/2).

Kemudian dia mengingatkan kepada masyarakat yang mulanya hendak berkumpul di Monas agar mengurungkan niat dan bergeser ke Masjid Istiqlal. Terlebih masyarakat yang datang dari daerah.

"Tapi, panitianya sudah kita sampaikan di Istiqlal nanti tolong tertib, namanya ibadah gunakan ibadah. Jangan sampai nanti menggunakan masjid yang suci itu, untuk kegiatan-kegiatan politik," sambubg dia.

Dia kemudian membeberkan alasang Polri menyimpulkan aksi 112 itu bermuatan politik. Menurut dia, dari sejumlah pernyataan dan ada selebaran juga yang memang sangat kental politiknya.

"Bahwa ini akan berhubungan dengan pemilihan-pemilihan pasangan-pasangan tertentu, yaitu dalam Pilkada di DKI," kata dia. Dia juga berujar bahwa sesuai kesepatakan kegiatan 112 adalah ibadah.

"Katakanlah Al-Maidah fine-fine saja, tapi kemudian nanti sampai kemudian memprovokatif, kemudian menjelekkan orang-orang lain, sehingga akhirnya menjadi kampanye hitam, pendapat saya ini kurang etis di era demokrasi ini, oleh karena itu, meralat gunakan masjid, tempat yang suci, baik untuk beribadah, forum dzikir," beber mantan Kapolda Papua ini.

Kegiatan 112 kata dia lebih banyak diwarnai spirit ibadah, jangan nanti spirit ibadah sedikit, kemudian tausiyah yang enggak beda-beda tipis sama orasi. "Tahu-tahu yang lebih banyak orasi, orasinya politik, kemudian menjelekkan orang lain, nah itu enggak boleh, pendapat saya tidak etis lah. Baik dari segi demokrasi, baik dari etika keagamaan," tukas dia. (elf/JPG)

Editor: Muhammad Syadri
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore