
Ilustrasi
PULUHAN tahun berselang, kutipan paling terkenal dari Albert Camus itu mungkin memang terdengar klise: ”Aku berutang pada sepak bola atas segala hal yang kuketahui tentang moralitas dan kewajiban manusia.” Tapi tak berarti kehilangan relevansi.
Pengumuman Philipp Lahm tentang pengunduran dirinya dari sepak bola kembali mengingatkan kita pada salah satu nilai moral itu: tentang kesadaran akan batas. Lahm, di usia yang baru 33 tahun, fisik terjaga, dan kemampuan yang tak banyak berkurang belasan tahun setelah debut bersama Bayern Muenchen pada 13 November 2002, sebenarnya masih bisa bertahan lama. Bahkan sampai usia 40-an tahun, kata Carlo Ancelotti, pelatihnya di Bayern kini.
Tapi, Lahm memilih berhenti ketika ban kapten Bayern masih melingkar di lengan. Tak sampai dua tahun setelah dia juga mundur dari tim nasional Jerman menyusul keberhasilan menjuarai Piala Dunia 2014. Juga dalam posisi sebagai kapten.
Hampir dua dekade silam, Aime Jacquet melakukan hal serupa: memilih pensiun sebagai pelatih setelah mengantarkan Prancis menjuarai Piala Dunia 1998. Seperti pada Lahm, tak sedikit yang menyayangkan. Tak sedikit pula yang berusaha menggodanya agar mengurungkan niat.
Bagi Lahm dan Jacquet, barangkali, setelah memenangkan trofi paling terhormat di lapangan hijau, tak ada lagi ”gunung yang harus didaki”. Jadwal ketat latihan dan pertandingan, disertai tekanan fisik serta mental, dari pekan ke pekan, selama bertahun-tahun, menjadi tak berarti lagi untuk dijalani.
Sepak bola membukakan kesadaran: pertandingan berakhir setelah 90 menit, sedangkan hidup harus terus dijalani. Bukan karena tubuh yang tak mampu lagi bertarung. Tapi, ada kehidupan lain yang terbentang luas di luar sana.
Ini tidak berarti mereka yang memilih terus berkarir hingga di luar batas kelaziman usia seorang atlet menjadi lebih tidak berharga. Ini bukan soal mulia atau tidak mulia. Sebab, tiap orang toh punya ”gunung masing-masing” yang harus didaki. Ini tentang pentingnya tiap orang punya kesadaran akan batas. Sebab, bukankah berbagai persoalan di dunia berasal dari kegagalan kita mengontrol diri agar tidak kemaruk?
Dunia ini cukup untuk menghidupi seluruh manusia, ujar Mahatma Gandhi. Tapi, kata Bapak Bangsa India itu, tak akan pernah cukup untuk satu orang yang serakah. Jadilah, korupsi merajalela, lingkungan rusak, kekerasan terjadi semata demi memenuhi ambisi pribadi atau golongan. Memang tak ada yang salah dengan menjadi kaya, terkenal, atau berkuasa. Tapi sampai batas apa?
Lahm mengingatkan kita akan batas itu. Lewat cara yang sangat sederhana: dengan terus bertanya kepada diri sendiri, di saat berlatih atau bertanding sepak bola. (*)

Prediksi Skor Paraguay vs Australia di Piala Dunia 2026: Berebut Tiket 32 Besar Namun Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Swiss vs Kanada di Piala Dunia 2026: Jonathan David Tancap Gas Bombardir Gawang La Nati
Prediksi Skor Turki vs Amerika Serikat di Piala Dunia 2026: The Stars & Stripes Berburu Rekor Sempurna di Fase Grup
Prediksi Skor Jepang vs Swedia di Piala Dunia 2026: Samurai Biru Incar Tiket 32 Besar di Laga Penentuan
Prediksi Skor Afrika Selatan vs Korea Selatan di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Wajib Menang Demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Tunisia vs Belanda di Piala Dunia 2026: Oranje Wajib Menang demi Amankan Tiket 32 Besar
Profil Wakil Ketua BEM UI Fathimah Azzahra yang Konsisten Mengkritik Program MBG
Prediksi Skor Bosnia dan Herzegovina vs Qatar di Piala Dunia 2026: Mimpi Buruk Al-Annabi Belum Usai
Prediksi Skor Curacao vs Pantai di Piala Dunia 2026: Misi Les Éléphants Menang demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Maroko vs Haiti di Piala Dunia 2026: Achraf Hakimi Cs Siap Pesta Gol di Laga Penentuan
