Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 10 Februari 2017 | 23.35 WIB

Bermain di Belakang Rumah, Bocah 2,5 Tahun Tewas Terjatuh

Almarhum Bilqis saat hendak dikafani dan disalati di kediamannya Jalan Merah Delima RT 34 Kelurahan Berebas Tengah, Rabu (8/2) kemarin. - Image

Almarhum Bilqis saat hendak dikafani dan disalati di kediamannya Jalan Merah Delima RT 34 Kelurahan Berebas Tengah, Rabu (8/2) kemarin.

JawaPos.com - Nasib nahas menimpa bocah berusia 2,5 tahun. Dia tewas tenggelam di wilayah Jalan Merah Delima 1, Kelurahan Berebas Pantai, Bontang, Kaltim, Selasa (7/2). Korban atas nama Bilqis Khumairoh Ali terjatuh saat sedang bermain di belakang rumahnya.


Bontang Post (Jawa Pos Group), Jumat (10/2) melaporkan, tenggelamnya Bilqis memang baru diketahui sekira pukul 16.00 Wita. Sementara, pihak keluarga korban tidak mengetahui secara pasti kapan tepatnya gadis mungil itu terjatuh ke laut. 


Keluarga korban, yang juga tetangga sebelah rumah korban, Mama Egi mengatakan, korban yang tinggal bersama neneknya Rahmatiah sejak lahir, selalu bermain sendiri di belakang rumah. Sementara neneknya saat itu sedang menonton di ruang tengah rumah. 


“Korban itu bawa semua bonekanya ke belakang, dia bermain di situ. Kebetulan di belakang memang ada jembatan penghubung ke rumah keluarga lainnya,” jelas Egi masih diselimuti suasana duka.


Saat bermain, korban bolak-balik melewati jembatan yang lebarnya hanya setengah meter. Kayu-kayu penghubungnya pun tak beraturan bentuknya. Ada juga yang sedikit menonjol ke atas. Menurut Mama Egi, jembatan itu dibuat sendiri untuk memudahkan ke rumah keluarga. “Soalnya kalau putar ke depan kejauhan. Jadi kami inisiatif buat jembatan, dan ini memang sudah lama,” ujar dia sambil menunjukkan lokasi terjatuhnya korban.


Namanya anak bawah lima tahun (balita), kalau bermain pasti berlarian. Sama halnya dengan Bilqis, gadis polos itu belum memahami bahayanya bermain di jembatan yang bisa dibilang ‘kurang layak’ tersebut. 


Rumah berderet di sisi laut itu memang tidak dilengkapi dengan pagar rumah maupun pagar jembatan. Meskipun jalanannya sudah dicor, namun jembatan kayu yang dibuat sendiri tanpa disertai dengan pagar pengaman. 


“Air laut ketika Bilqis bermain memang sudah pasang, setinggi lutut orang dewasa, tetapi saat Bilqis muncul ke permukaan, air laut sudah setinggi perut orang dewasa,” terang Egi.


Keluarga di belakang rumah Rahmatiah, yakni Nenek Isah memang sempat melihat sandal dari gadis lucu itu hanyut di laut. “Namun tidak dikira jika Bilqis-nya pun jatuh ke laut,” ujarnya.


Usai jenazah Bilqis dimandikan sekira pukul 09.00 Wita Rabu (7/2) kemarin, semua keluarga sudah berkumpul di rumah kayu tersebut. Saat hendak dikafani, semua berusaha ingin melihat wajah ayu Bilqis untuk terakhir kalinya.


Keluarga pun membedaki badan Bilqis sambil mengafani. Teduh di wajahnya yang polos nan cantik terlihat hanya seperti balita yang sedang tertidur pulas. Lantas, air mata menetes dari mata sebelah kiri gadis cantik tak berdosa itu. Keluarga dengan cepat menghapusnya dan kemudian membedakinya lagi. (mga/fab/JPG)

Editor: Fadhil Al Birra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore