
ILUSTRASI
JawaPos.com - Warga di Jalan Krakatau, Sawahan, dikagetkan teriakan histeris Wuryantini kemarin siang (9/2). Perempuan 56 tahun itu kaget lantaran mendapati suaminya, Subianto, tergolek dengan bersimbah darah di teras rumahnya. Dia terluka di pelipis kiri, pelipis kanan, dan dahi. Saat sampai di rumah sakit, ternyata Subianto sudah meninggal.
Wuryantini tidak mengetahui apa yang terjadi pada suaminya. Maklum, siang itu dia berbelanja di warung sebelah rumah. "Saat pulang, saya melihat kondisinya mengenaskan," cerita Wuryantini saat ditemui di rumahnya kemarin.
Saat berbelanja, dia meninggalkan suaminya. Di rumah itu, juga tinggal Agung Dwi Praptono yang akrab disapa Anton. Anton merupakan sepupu Wuryantini.
Mendengar teriakan Wuryantini, warga segera menolong korban. Kemudian, ayah satu anak tersebut diangkut ambulans menuju rumah sakit di Jalan Pacuan Kuda.
Ketika itu, Wuryantini tidak mengetahui apakah suaminya masih hidup atau sudah tiada. Yang ada di dalam benaknya, Subianto harus cepat ditolong. Sampai di rumah sakit, dokter menyatakan bahwa Subianto sudah tewas.
Wuryantini mengatakan bahwa dokter tidak berani memberikan surat kematian. Dokter menyarankan perempuan 56 tahun tersebut melaporkan kematian suaminya itu ke polisi. Jenazah Subianto akhirnya dibawa pulang.
Sekitar pukul 14.30, polisi mendatangi rumah korban. Jenazah Subianto yang disemayamkan di ruang tamu lantas diperiksa. Polsek Sawahan juga menggandeng Tim Inafis Polrestabes Surabaya untuk meneliti lebih lanjut kematian Subianto.
Informasi yang diperoleh Jawa Pos, Subianto dan Anton sudah lama tidak bertegur sapa. Sekitar setahun lalu, mereka terlibat cekcok. Hal yang sama terulang kemarin.
Anton yang kesal karena tidak disapa lantas menganiaya Subianto. Dia memukul kepala Subianto dengan menggunakan talenan berkali-kali. "Problemnya karena pelaku ini numpang di rumah korban. Jadi, mereka perang dingin, diam-diaman," kata polisi yang mengetahui peristiwa itu.
Selama ini Anton tinggal di rumah Wuryantini karena tidak tahu lagi mau tinggal di mana. Dua tahun lalu dia menganggur karena di-PHK perusahaan tempatnya bekerja. Dia lantas berpindah ke Surabaya, meninggalkan istrinya yang tinggal di Malang.
Pertengkaran setahun lalu sebenarnya pernah ditanyakan oleh Wuryantini kepada suaminya. Selama ini Subianto memilih tertutup. Dia tidak mau mencurahkan seluruh keluh kesahnya kepada sang istri.
Bahkan, di rumah sendiri pun, Subianto pernah diusir Anton. Padahal, Anton-lah yang menumpang. "Keluarganya itu tidak ingin membesar-besarkan masalah. Ya sudah dibiarkan saja biar nggak berlarut-larut sampai hari ini (kemarin, Red) kejadian lagi," imbuhnya.
Setelah pertengkaran itu, Anton dengan santainya meninggalkan rumah tersebut. Dia lari ke rumah kerabatnya di kawasan Petemon. Lokasinya tidak jauh dari Jalan Krakatau.
Polisi pun berbagi tugas. Tim Inafis Polrestabes Surabaya membawa jenazah Subianto ke RSUD dr Soetomo untuk diotopsi sekitar pukul 15.30. Unit Reskrim Polsek Sawahan mencari Anton ke rumah kerabatnya itu.
Setelah sampai di Petemon, Anton ditangkap tanpa perlawanan. Dia mengakui telah berkelahi dengan Subianto. Dia digelandang ke Mapolsek Sawahan.

Santriwati di Pekalongan Diklaim Keluarga Hamil Tanpa Berhubungan, Masa Iya?
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
13 Rekomendasi Tempat Liburan di Malang dengan Pilihan Wisata Alam, Hiburan, dan Spot Santai yang Membuat Pikiran Lebih Fresh
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Rekomendasi 13 Wisata Terbaik di Bandung untuk Liburan Santai, Healing, dan Quality Time Bersama Orang Tersayang
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
