
TANGGUNG JAWAB SIAPA?: Helikopter AW-101 di hanggar Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, kemarin. Meski pembeliannya menjadi polemik, helikopter itu tetap dikirim ke Indonesia.
JawaPos.com - Pembelian helikopter AW-101 yang dari dulu direncanakan untuk Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjadi polemik. Pengadaan salah satu alat utama sistem persenjataan (alutsista) oleh TNI Angkatan Udara itu mendapat penolakan. Termasuk oleh Jokowi sendiri.
Namun, entah bagaimana ceritanya, helikopter produksi pabrikan asal Inggris dan Italia itu tetap dikirim ke Indonesia Helikopter AgustaWestland (AW) 101 sudah mendarat dengan mulus di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, beberapa hari lalu.
Kemarin, untuk kali pertama, TNI membuka pintu untuk memperlihatkan helikopter itu kepada publik. Yang menarik, helikopter tersebut dihiasi garis polisi (police line). Itu berarti, ada masalah.
Pengamat militer Wawan Purwanto berpendapat, investigasi yang tengah dilakukan TNI bakal menjadi pintu masuk menuntaskan polemik tersebut. Hasil investigasi tersebut sangat penting. Sebab, ada berbagai kemungkinan terkait pengadaan helikopter yang kini terparkir di Skuadron Teknik 021 Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma itu. "Nanti bisa diurai setelah hasil investigasi keluar," kata dia.
Satu di antara beberapa kemungkinan dari hasil investigasi tersebut adalah pengembalian helikopter itu kepada penjual. Apabila itu terjadi, TNI Angkatan Udara (AU) harus menanggung kompensasi sesuai klausul awal. "Seperti apa klausulnya, akan diketahui dari investigasi," jelas Wawan.
Yang pasti, pemerintah harus siap dengan kemungkinan paling buruk. Misalnya, uang yang sudah masuk tidak kembali utuh. Kemudian, memburuknya hubungan kerja sama dengan penjual alutsista tersebut. "Pasti menjadi catatan," ujarnya.
Senada, Direktur Institute for Security and Strategic Studies Khairul Fahmi mengungkapkan, sudah pasti ada klausul yang mengatur kompensasi dalam setiap pembatalan transaksi jual beli. Apalagi jual beli alutsista sekelas helikopter AW-101. Meski demikian, lantaran masih ada proses investigasi, klausul tersebut belum bisa dipastikan. "Belum jelas siapa yang beli, bayar, dan perintahkan," katanya.
Khairul menyatakan, hasil investigasi TNI menjadi penting lantaran pengadaan helikopter tersebut sudah lama ditolak presiden. Salah satu dasar penolakan itu adalah kasus pengadaan helikopter serupa di India. "Jadi, menarik karena ada apa? Kok ada yang ngotot mendatangkan (helikopter) AW-101," ujarnya. Dia sangat berharap TNI menginvestigasi pengadaan alutsista itu secara terperinci. "Apakah oknum atau persoalan sistemik yang harus dibenahi," ungkapnya. (syn/c10/ca)

Prediksi Skor Brasil vs Jepang di Piala Dunia 2026: Kans Selecao Lolos 16 Besar Lewat Adu Penalti
Prediksi Skor Pantai Gading vs Norwegia di Piala Dunia 2026: Misi Erling Haaland Pulangkan Wakil Afrika
Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris PT Krakatau Posco, Netizen: Muak Sekali
Sejarah! Indonesia Juara AVC Men's Cup 2026 Hancurkan Korea Selatan 3-0
Prediksi Skor Jerman vs Paraguay di Piala Dunia 2026: Der Panzer Bisa Amankan Tiket 16 Besar dalam 90 Menit
Prediksi Skor Meksiko vs Ekuador di 32 Besar Piala Dunia 2026: Panggung Pembuktian Tuan Rumah!
Prediksi Susunan Pemain Timnas Brasil vs Jepang di 32 Besar Piala Dunia 2026: Marquinhos Akui Samurai Biru Sedang Percaya Diri
Prediksi Susunan Pemain Timnas Norwegia vs Pantai Gading di 32 Besar Piala Dunia 2026: Sudah Lakukan Rotasi, Martin Odegaard Siap Menan
Pakai Tas Mewah, Tiga Pengasuh Anak-anak Raffi Ahmad-Nagita Slavina Sedang Asik Liburan Jadi Sorotan
Prediksi Skor Belanda vs Maroko di Piala Dunia 2026: Oranje Dijagokan Menang Tipis Kontra Singa Atlas
