Selasa, 25 Jul 2017
Otomotif

Ini Alasan Di Balik Larisnya Mobil Penumpang Bermesin Diesel

Jumat, 10 Feb 2017 08:00 | editor : Dhimas Ginanjar

Teknologi diesel common rail injection pada Chevrolet Captiva membuat getaran mesin halus dan knalpot tidak lagi ngebul.

Teknologi diesel common rail injection pada Chevrolet Captiva membuat getaran mesin halus dan knalpot tidak lagi ngebul. (Raka Denny/Jawa Pos)

JawaPos.com - Mesin diesel lawas identik dengan suara berisik, getaran keras, onderdil mahal, dan knalpot ngebul. Tidak heran, mesin diesel lebih lazim digunakan mobil niaga ketimbang menjadi kendaraan penumpang.

Realitasnya, mesin diesel masa kini sudah banyak berbenah. Inovasi teknologi berhasil menutup satu per satu kelemahan tersebut. Misalnya, teknologi common rail injection yang membuat pembakaran di ruang mesin lebih halus. Dampaknya, getaran lebih halus dan asap knalpot tidak lagi ngebul.

Bila dibandingkan dengan mesin bensin, diesel sebenarnya memiliki berbagai keunggulan yang sulit ditandingi. Jika rajin dirawat dan disiplin menggunakan bahan bakar solar berkualitas, mesin diesel mampu menghasilkan torsi yang tangguh dan efisiensi bahan bakar tinggi. Sebab, mesin diesel mempunyai rasio kompresi yang tinggi hingga mencapai 25 banding 1. Artinya, hampir dua kali lipat kompresi mesin bensin. Pengapian yang lebih tinggi itu menghasilkan efek penghematan bahan bakar.

Kompresi tinggi juga membuat mesin diesel bebas gejala knocking (mesin ngelitik) dan memungkinkan diesel meraih torsi maksimum pada putaran mesin (rpm) yang lebih rendah jika dibandingkan dengan mesin bensin. Kalau mesin bensin mencapai torsi maksimal di kisaran 6.000 rpm, torsi maksimal mesin diesel sudah tercapai di angka 2.000 rpm.

Tenaga maksimal di putaran mesin rendah tersebut mendukung akselerasi yang lebih baik. Tidak heran bila mobil niaga yang membawa banyak muatan lebih banyak menggunakan diesel. Kelebihan itu juga membuat mesin diesel lebih nyaman digunakan untuk perkotaan yang membutuhkan stop and go tinggi karena tingkat kemacetan.

Dengan segala keunggulan mesin diesel tersebut, tidak heran pabrikan otomotif menghadirkan mobil bermesin diesel untuk kendaraan penumpang. Misalnya, Toyota Innova dan Fortuner, Mitsubishi Pajero Sport, Isuzu D-Max, Chevrolet Captiva, Kia Sorento, Hyundai Santa Fe, serta Suzuki New Ertiga.

Executive General Manager PT Toyota Astra Motor Fransiscus Soerjopranoto menyatakan, penjualan mobil penumpang bermesin diesel terus meningkat. ''Pada 2014, penjualan Fortuner 4x2 diesel mendominasi 90 persen bila dibandingkan dengan varian bensin. Penjualan Innova diesel juga meningkat sekitar 70 persen dari 2015 ke 2016,'' katanya.

Toyota pun menghadirkan teknologi common rail pada mesin D-4D di Kijang Innova dan Fortuner. Hasilnya, performa dan efisiensi bahan bakar lebih baik. Mesin diesel seri-GD bahkan telah dilengkapi variable nozzle turbocharger (VNT) yang memperkaya torsi pada putaran mesin rendah-medium.

Suzuki bahkan mengawinkan mesin diesel dengan teknologi hybrid pada New Ertiga generasi terbaru. Mesin diesel berkode D13A itu bekerja sama dengan perangkat integrated starter generator (ISG) yang menggantikan fungsi alternator. Dipadu fitur idling stop, konsumsi bahan bakar Ertiga diklaim lebih irit.

General Motors sejak tahun lalu juga menghadirkan Chevrolet Trax bermesin diesel Ecotec 1.400 cc yang dilengkapi turbo. Mesin itu mampu memuntahkan tenaga 140 hp plus torsi 200 nm pada putaran rendah 1.850 rpm. Torsi yang melimpah di putaran bawah tersebut membuat akselerasi dan efisiensi bahan bakar Trax sangat unggul meski dipakai untuk stop and go.

Makin ramainya inovasi teknologi di segmen diesel menunjukkan varian itu berpotensi menjadi pilihan utama konsumen pada masa depan. ''Kami memang memprediksi diesel makin diminati karena memberikan performa, efisiensi bahan bakar, serta makin ramah lingkungan,'' tandas Soerjo. (agf/c14/noe) 

Rawat Fuel System, Kurangi Jajan Onderdil

PERAWATAN mesin diesel lebih susah dan mahal tak sepenuhnya salah. Kompresi mesin yang tinggi membutuhkan material yang lebih canggih sehingga harganya lebih mahal. 

Namun, ada sejumlah tip untuk memperpanjang umur mesin diesel sehingga tak sering ganti onderdil. Tip utamanya adalah menjaga kebersihan sistem bahan bakar dengan disiplin melakukan perawatan berkala dan menggunakan bahan bakar jenis solar dengan cetane tinggi. 

"Jika perawatan hanya dilakukan ketika kilometer tinggi, kotoran yang ada pada fuel system akan merambat pada komponen lain dan mengakibatkan kerusakan yang lebih banyak," ujar Theodorus Surya Jaya, owner Rev Engineering.

Mesin yang sudah waktunya dirawat memiliki ciri khas. Misalnya, tenaga mesin berkurang, sulit menghidupkan (start) mesin, dan getaran mesin lebih kasar. Penyebab utama gejala itu adalah nozzle injector bahan bakar pada mesin kotor. Meski secara kasatmata tak terlihat karena ukurannya 1/1.000 mm. 

Teddy menyarankan pembersihkan fuel system berupa diesel purging dan pembersihan tangki dilakukan setiap 10 ribu km atau setiap dua kali ganti oli mesin. Khusus mesin diesel common rail, jenis bahan bakar sangat menentukan umur mesin. Karena itu, perawatan injektor diesel harus dilakukan setiap 5.000 km atau saat penggantian filter. (agf/c17/noe) 

Sponsored Content

loading...
 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia