
TERIMA ASPIRASI: Ketua Komisi D Muntarifi menemui mahasiswa PMII kemarin. Mahasiswa menuntut segera ada solusi untuk mengatasi bencana banjir Kali Lamong.
JawaPos.com – Derita penduduk Gresik Selatan masih akan berkepanjangan. Meski setiap tahun luapan Kali Lamong selalu menyiksa warga, Pemkab dan DPRD Gresik belum benar-benar mampu mengatasinya. Pemerintah angkat tangan?
Penanganan sungai sepanjang 36 km itu belum mampu menghasilkan solusi yang konkret. Kondisi tersebut memicu kekecewaan mahasiswa yang tergabung dalam Perhimpunan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Gresik. Di depan gedung DPRD, mereka protes karena penanganan Kali Lamong tidak jelas.
Para mahasiswa ditemui Ketua Komisi D Muntarifi. Namun, belum juga ada solusi. Alasannya sama. Pemkab maupun DPRD tidak punya kewenangan untuk menangani Kali Lamong.
”Yang bisa kami lakukan sejauh ini baru penganggaran untuk pembebasan lahan,” kata Muntarifi Rabu (8/2). Itu pun, kata dia, realisasinya terkendala. Sebab, pemilik lahan menolak karena harga tidak cocok. Tim pemkab telah menetapkan 242 hektare lahan untuk revitalisasi. Harga appraisal Rp 35 ribu. Namun, pemilik lahan minta Rp 100 ribu per meter persegi.
Di sisi lain, hingga kini belum ada tanda-tanda penanganan segera. Padahal, kondisi sungai yang bermuara di Teluk Lamong itu sudah sangat tidak layak. Badan sungai hanya tersisa 5 sampai 6 meter dari asalnya 12 meter.
Balai besar wilayah sungai (BBWS) tak kunjung memulai revitalisasi itu. Tahun ini pun belum ada kepastian kapan program tersebut dilaksanakan. Padahal, skenario penanganan Kali Lamong sudah siap. Pada tahap awal, di wilayah hulu akan disiapkan area penampungan luapan daerah langganan banjir. Mulai Balongpanggang, Benjeng, hingga Cerme.
Sekretaris Dinas PU Tata Ruang Gresik Ahmad Washil menjelaskan, dalam proses penyediaan lahan, hampir tak ada perkembangan sama sekali. ”Makanya, sementara yang bisa kami lakukan hanya berusaha mengendalikan luapan lewat perbaikan di alur-alur Kali Lamong,” katanya. Itu pun, kata Washil, bergantung debit. Jika debitnya tinggi, luapan juga masih akan tinggi.
Kekhawatiran tersebut terjadi pada bencana tahun ini. Dibandingkan dengan tahun lalu, luapan Kali Lamong kali ini lebih besar. Kondisinya lebih parah karena daya tampung badan utama sungai makin turun.
Di Desa Morowudi, misalnya, selama banjir kali ini, ketinggian air rata-rata sudah di atas 50 cm. Malah, di sejumlah dusun ketinggian air nyaris mencapai 1 meter. ”Kondisi sungai utama sudah tidak sanggup menampung air,” kata Wagiman, warga Morowudi. (ris/c10/roz/sep/JPG)

Prediksi Skor Persib Bandung vs Arema FC di Piala Presiden 2026: Maung Bandung Masih Terlalu Perkasa?
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Ikhwan Ali Tanamal Resmi Gabung Persib Bandung, Siap Bekerja Keras Rebut Tempat di Tim Utama
Prediksi Skor DPMM FC vs Tampines Rovers di Piala Presiden 2026: Misi Dalberto Tebar Pesona di Klub Baru!
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs Persija Jakarta di Piala Presiden 2026: Momentum Green Force Unjuk Gigi
An Se Young Mundur dari China Open 2026 karena Cedera, Fokus Pulihkan Kondisi Jelang Kejuaraan Dunia
Profil Fajar Listyantara, Legenda PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta yang Meninggal Dunia Akibat Gagal Ginjal
Mengulas Dugaan Kejanggalan Argentina di Final Piala Dunia 2026, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Eks Bek Persib dan Persija Erik Setiawan Jadi Perbincangan Setelah Tuduhan Mantan Istrinya Viral
