Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 10 Februari 2017 | 03.49 WIB

Persaingan Barista Indonesia Menuju Level Dunia

Salah seorang Barista di Indonesia Coffee Event 2017 - Image

Salah seorang Barista di Indonesia Coffee Event 2017

JawaPos.com - Puluhan barista tanah air sedang unjuk kebolehan dalam ajang (Indonesia Coffee Event) ICE 2017 Western Championships, 9-12 Februari 2017 di Kuningan City Mall, Jakarta. Selama empat hari, ajang kompetisi ini akan menampilkan barista-barista dari wilayah Sumatera, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Kalimantan. Targetnya, untuk membuat profesi barista di Indonesia naik peringkatnya di posisi 10 besar di dunia.


“Di tahun 2015, kita masih di luar peringkat 10 besar. Konsep kita di tahun ini ingin perbaiki peringkat barista Indonesia di dunia. Kami ingin meningkatkan peringkat barista di 10 besar. Sayang banget kan Indonesia negara ketiga penghasil kopi terbesar, tapi kita malah kalah sama negara yang enggak menghasilkan kopi,” tegas Ketua Pelaksana ICE 2017, Cindy Herlin Marta di Kuningan City, Kamis (9/2).


Rangkaian kompetisi barista ICE 2017 sendiri terdiri dari empat cabang lomba yakni Indonesia Barista Championship (IBC), Indonesia Brewers Cup (IBrC), Indonesia Latte Art Championship (ILAC) dan Indonesia Cup Tasters Championship (ICTC). Masing-masing cabang menuntut keahlian yang berbeda-beda dari para pesertanya.


Pada IBC akan menguji kepiawaian barista dalam menyajikan kopi dan melayani pelanggan layaknya di kedai kopi, IBC akan menguji kemampuan seduh manual (manual brewing) para pesertanya, ILAC akan mengetes keahlian pesertanya untuk membuat secangkir latte art yang nikmat dan indah dipandang mata, sementara ICTC akan menguji lidah pesertanya dalam mencicip dan membedakan rasa kopi dari berbagai daerah.


“Kami terapkan sertifikasi penjurian, semua orang yang mau menjuri itu harus tersertifikasi dan diajar oleh juri yang sudah tersertifikasi secara dunia. Ketika jurinya kompeten pasti akan berkualitas hasilnya,” tegas Cindy.


Sebanyak 48 barista yang berkompetisi memiliki keunikan tersendiri. Penilaian tentu fokus pada rasa kopi dan kemampuan (skill) barista. Para barista juga melakukan presentasi untuk bercerita menggambarkan pengetahuan tentang kopi yang disajikan. Misalnya seputar asal kopi dan bagaimana penyajiannya.


“Barista harus punya skill. Kami ada juris sensor yang khusus menilai rasa kopinya saja. Mengandalkan lidahnya. Lalu ada juri technical menilai skill si barista dalam menggunakan mesin, cara flow kerjanya, kebersihan, dan manajemen kerjanya,” kata Cindy.


Soal penilaian rasa, Cindy menjamin penilaian tidak akan bersifat subjektif. Setiap juri memiliki standar penilaian yang menjadi indikator dari setiap kopi yang disajikan barista.


“Soal rasa, kita sudah diajarkan cara menilai kopi supaya enggak subjektif. Kita sudah dikalibrasi mislanya patokan nilai 2,3,4 begini. Tes sensori, aroma tes, bagaiman menilai dengan blind test. Karena kopi kan banyak banget rasanya. Pasti hasilnya berkualitas,” ungkap Cindy. (cr1/JPG)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore