
PERENCANAAN MATANG: Salah seorang pendiri Bandung Creative City Forum Tita Larasati (kiri) memberikan gambaran tentang bisnis kreatif di wilayah tersebut.
JawaPos – Menjalankan bisnis sekaligus misi sosial memang tak mudah. Hal tersebut dibahas secara mendalam melalui Career Camp UK Petra 2017 pada Senin (6/2) hingga Rabu (8/2). Tak sekadar materi di kelas, para peserta belajar langsung dari beragam komunitas di Bandung, Jawa Barat.
Setelah menempuh perjalanan dengan kereta api lebih dari 12 jam, peserta Career Camp UK Petra 2017 tiba di Bandung pada Senin pukul 09.00. Pukul 10.00 mereka harus siap di ruang serbaguna Raffleshom Bandung untuk mengikuti sesi pelajaran. Sesi pertama diisi Veronica Colondam, pendiri Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB).
Membangun usaha berbasis kegiatan sosial atau yang dikenal dengan sociopreneur menjadi tantangan bagi 39 mahasiswa Universitas Kristen Petra (UK Petra) dan delapan mahasiswa Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Mahasiswa yang mengikuti memiliki latar belakang pendidikan dan tingkat angkatan yang beragam.
Tahun ini Career Camp berjalan kali kelima. Menekankan potensi anak muda, Career Camp tahun ini mengangkat tema Your Business, Your Contribution to the Nation. Bukan sekadar menerima ilmu dari narasumber, para peserta dituntut bisa menciptakan ide yang lebih besar dan berdampak luas dari materi yang diperoleh. Pada hari terakhir, setiap kelompok harus memaparkan proyek pengembangan.
Pukul 10.05 para peserta duduk di ruang serbaguna hotel. Melalui pengalamannya mendirikan YCAB pada 1999, Veronica menjadi sosok yang penuh ide dan gagasan. Pembelajaran tentang persiapan karir dan bisnis, industri kreatif, serta personal branding dipaparkan dengan jelas.
YCAB merupakan perusahaan sosial. Ada beberapa unit usaha, termasuk koperasi, yang berjalan sejak awal 2000. Melalui unit usahanya, YCAB mampu membagi beban sumber daya hingga mampu menjangkau lebih dari tiga juta remaja. Jangkauan itu meliputi pemberdayaan dalam bidang pendidikan dan ekonomi untuk remaja kurang mampu serta keluarganya.
”Mendirikan perusahaan dengan visi sosial harus berfondasi kuat. Konsep dan visi sosialnya harus pasti mau seperti apa,” terang Veronica. Dia mengambil contoh restoran yang memberdayakan penyandang tunawicara dan tunarungu sebagai pelayan. Selain mendapat untung, restoran tersebut turut menghidupi penyandang disabilitas.
Setelah sesi berakhir, para peserta diberi petunjuk ke suatu tempat. Sebelumnya, peserta dibagi dalam kelompok. Masing-masing kelompok yang terdiri atas 8–9 orang diberi uang saku Rp 1,4 juta. Uang itu digunakan untuk hidup di Bandung empat hari tiga malam. ”Pokoknya, uang tersebut harus cukup untuk hidup para anggota kelompok. Mereka harus bisa me-manage biaya makan dan transportasi,” ujar Kepala Pusat Karir UK Petra Lisa Narwastu sebagai penyelenggara acara.
Perjalanan dimulai. Para peserta harus mencari cara untuk sampai ke basecamp Komunitas Hong. Ada yang menyewa angkutan umum, ada pula yang mengandalkan taksi online. Tak dapat dipungkiri, segala fasilitas dari teknologi terkini memudahkan mereka. Satu per satu kelompok peserta menempuh perjalanan ke Desa Wisata Ciburial, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung.
Di Komunitas Hong, pengunjung menemukan lebih dari 2.000 jenis permainan tradisional. Di atas lahan 500 m2, berdiri bangunan seperti rumah limasan, leuit atau tempat menyimpan padi yang berumur 150 tahun, dan saung gede.
Hong berarti bertemu. Di sini, banyak penggiat permainan tradisional dari berbagai daerah. Misalnya, permainan keris-kerisan dari bilah bambu, kelom bambu, dan sepeda kayu. Komunitas tersebut memiliki cabang di dua tempat lain. Yakni, Aceh dan Mojokerto. ”Permainan tradisional mengajarkan kita berbagai hal yang tidak ada pada gadget,” ujar pendiri komunitas Dr M. Zaini Alif SSn Mds.
Permainan tradisional diiringi dengan lagu-lagu bermakna dan berkonsep mendidik. Karena itu, ketika dimainkan, akan timbul kesenangan dan tidak selalu kemenangan di dalam diri.
Perjalanan dilanjutkan ke Rumah Cemara. Itulah organisasi berbasis komunitas yang menggandeng para pecandu narkoba, mantan pecandu, dan ODHA (orang dengan HIV/AIDS) untuk mengembangkan potensi diri. Di sana, para anggota dirawat. Ada pula fasilitas penunjang untuk hobi. Salah satu olahraga yang dikembangkan adalah tinju.
Pada hari kedua (7/2), peserta diajak mengunjungi Bandung Creative City Forum untuk mendapatkan gambaran tentang bisnis kreatif. Salah seorang pendiri BCCF Tita Larasati menyampaikan tentang cara menangkap masalah dan kebutuhan masyarakat. Sementara itu, Ketua Karang Taruna se-Bandung Fiki Satari berbagi pengetahuan tentang creative program management.
Terakhir, peserta mengunjungi Kedai Preanger yang merupakan tempat nongkrong Komunitas Aleut. Aleut dalam bahasa Sunda berarti sekelompok orang yang berjalan beriringan sebagaimana para petani beramai-ramai melintasi jalan setapak. Aleut bereksperimen dengan memahami situs sejarah serta melakukan uji coba berdasar ilmu fisika dan kimia untuk mengetahui fenomena sejarah. (*/c16/nda/sep/JPG)

Prediksi Skor Swiss vs Kanada di Piala Dunia 2026: Jonathan David Tancap Gas Bombardir Gawang La Nati
Prediksi Susunan Pemain Timnas Portugal vs Uzbekistan: Ruben Dias Siap Hadapi Tim Bertahan
Prediksi Skor Yordania vs Aljazair di Piala Dunia 2026: Duel Hidup dan Mati Siapa Lolos dari Grup J
Penampakan Wajah Wanita yang Menipu Tantri Kotak dkk dengan Kerugian Mencapai Rp 10 Miliar
Viral! Pengakuan BEM FH UBK Usai Temui Gibran, Ngaku Terima Uang hingga Minta Maaf ke Mahasiswa
Prediksi Skor Afrika Selatan vs Korea Selatan di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Wajib Menang Demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Kolombia vs RD Kongo di Piala Dunia 2026: Daniel Munoz Motor Serangan Los Cafeteros
Prediksi Skor Bosnia dan Herzegovina vs Qatar di Piala Dunia 2026: Mimpi Buruk Al-Annabi Belum Usai
Prediksi Skor Maroko vs Haiti di Piala Dunia 2026: Achraf Hakimi Cs Siap Pesta Gol di Laga Penentuan
Prediksi Skor Panama vs Kroasia di Piala Dunia 2026: Misi Berat Luka Modric Berburu Poin Pertama
