Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 9 Februari 2017 | 00.53 WIB

Endang Setyati Beri Perhatian Penyandang Disabilitas

DOKTOR PEDULI: Endang Setyati menunjukkan cara kerja karyanya. - Image

DOKTOR PEDULI: Endang Setyati menunjukkan cara kerja karyanya.

Dosen iSTTS Endang Setyati terlihat semringah Selasa (7/2). Dia baru saja menuntaskan sidang terbuka untuk promosi doktoralnya di Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknologi Industri, ITS. Endang berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul Talking Head System in Indonesian Language with Affective Facial Expressions Synthesis.



PUJI TYASARI



DALAM penelitiannya, Endang menaruh perhatian terhadap para tunawicara dan tunarungu. Selama ini kebanyakan orang yang bisa berkomunikasi dengan mereka adalah sesama tunawicara dan tunarungu. Orang lain yang tidak tunawicara dan tunarungu biasanya sulit berkomunikasi dengan mereka.


Karena itu, Endang mengusulkan sebuah sistem yang dapat membaca bentuk atau gerak bibir. Sistem tersebut diperoleh dengan memetakan 49 fonem bahasa Indonesia. Fonem yang dimaksud adalah unsur terkecil bahasa yang dapat membedakan arti. Juga, unit terkecil suara yang merupakan dasar membangun ucapan manusia.


Sebanyak 49 fonem itu lantas dibentuk atau dipetakan sedemikian rupa menjadi 12 model viseme (visual phoneme). Viseme tersebut diwakili bentuk mulut. Nah, viseme itulah yang diharapkan bisa membantu proses komunikasi. Dia memisalkan, fonem b, m, dan p memiliki bentuk bibir yang sama saat diucapkan. Kata Sabtu, misalnya. Bentuk bibir fonem b dalam kata tersebut akan sama ketika mengucapkan saptu dan samtu. ’’Ini lalu jadi viseme 1,’’ katanya.


Bentuk bibir itu dibuat dari hasil gerak bibir yang direkam video. Pengajar di Jurusan Teknik Informatika iSTTS tersebut menjelaskan bahwa ada sepuluh mahasiswa yang direkam. Setiap mahasiswa mengucapkan 841 suku kata. ’’Ini dilakukan untuk memastikan bentuk mulut,’’ tuturnya. Hasil rekaman video itu lalu diproses menggunakan program Make Human.


Yang menarik, perempuan kelahiran Probolinggo, 20 November 1967, itu juga memasukkan unsur emosi dan ekspresi dalam sistem. Jadi, lawan bicara juga bisa mengerti ekspresi yang disampaikan dari kata-kata yang diucapkan. ’’Kalau belajar elektro, yang dipelajari adalah fungsi kecerdasannya. Bagaimana mesin itu jadi pintar untuk mengenali sesuatu,’’ jelasnya.


Jadi, sistem tersebut mampu mengonversikan masukan teks dari kalimat bahasa Indonesia yang diubah ke ucapan. Konversi itu dilakukan dengan sinkronisasi animasi dari bentuk mulut, gerakan bibir, dan ekspresi emosional.



Melalui penelitian tersebut, istri Didik Wahyudi itu berharap banyak orang yang bisa berkomunikasi dengan penyandang tunawicara dan tunarungu. Jadi, mereka tidak harus belajar bahasa isyarat untuk dapat berkomunikasi. ’’Mereka juga tidak dibeda-bedakan, bisa berkomunikasi satu sama lain,’’ ungkap ibu tiga anak tersebut. (*/c14/nda/sep/JPG)

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore