
DOKTOR PEDULI: Endang Setyati menunjukkan cara kerja karyanya.
Dosen iSTTS Endang Setyati terlihat semringah Selasa (7/2). Dia baru saja menuntaskan sidang terbuka untuk promosi doktoralnya di Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknologi Industri, ITS. Endang berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul Talking Head System in Indonesian Language with Affective Facial Expressions Synthesis.
PUJI TYASARI
DALAM penelitiannya, Endang menaruh perhatian terhadap para tunawicara dan tunarungu. Selama ini kebanyakan orang yang bisa berkomunikasi dengan mereka adalah sesama tunawicara dan tunarungu. Orang lain yang tidak tunawicara dan tunarungu biasanya sulit berkomunikasi dengan mereka.
Karena itu, Endang mengusulkan sebuah sistem yang dapat membaca bentuk atau gerak bibir. Sistem tersebut diperoleh dengan memetakan 49 fonem bahasa Indonesia. Fonem yang dimaksud adalah unsur terkecil bahasa yang dapat membedakan arti. Juga, unit terkecil suara yang merupakan dasar membangun ucapan manusia.
Sebanyak 49 fonem itu lantas dibentuk atau dipetakan sedemikian rupa menjadi 12 model viseme (visual phoneme). Viseme tersebut diwakili bentuk mulut. Nah, viseme itulah yang diharapkan bisa membantu proses komunikasi. Dia memisalkan, fonem b, m, dan p memiliki bentuk bibir yang sama saat diucapkan. Kata Sabtu, misalnya. Bentuk bibir fonem b dalam kata tersebut akan sama ketika mengucapkan saptu dan samtu. ’’Ini lalu jadi viseme 1,’’ katanya.
Bentuk bibir itu dibuat dari hasil gerak bibir yang direkam video. Pengajar di Jurusan Teknik Informatika iSTTS tersebut menjelaskan bahwa ada sepuluh mahasiswa yang direkam. Setiap mahasiswa mengucapkan 841 suku kata. ’’Ini dilakukan untuk memastikan bentuk mulut,’’ tuturnya. Hasil rekaman video itu lalu diproses menggunakan program Make Human.
Yang menarik, perempuan kelahiran Probolinggo, 20 November 1967, itu juga memasukkan unsur emosi dan ekspresi dalam sistem. Jadi, lawan bicara juga bisa mengerti ekspresi yang disampaikan dari kata-kata yang diucapkan. ’’Kalau belajar elektro, yang dipelajari adalah fungsi kecerdasannya. Bagaimana mesin itu jadi pintar untuk mengenali sesuatu,’’ jelasnya.
Jadi, sistem tersebut mampu mengonversikan masukan teks dari kalimat bahasa Indonesia yang diubah ke ucapan. Konversi itu dilakukan dengan sinkronisasi animasi dari bentuk mulut, gerakan bibir, dan ekspresi emosional.
Melalui penelitian tersebut, istri Didik Wahyudi itu berharap banyak orang yang bisa berkomunikasi dengan penyandang tunawicara dan tunarungu. Jadi, mereka tidak harus belajar bahasa isyarat untuk dapat berkomunikasi. ’’Mereka juga tidak dibeda-bedakan, bisa berkomunikasi satu sama lain,’’ ungkap ibu tiga anak tersebut. (*/c14/nda/sep/JPG)

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
18 Oleh-Oleh Khas Tulungagung Ini Wajib Dibeli Jika Berkunjung, dari Kuliner hingga Kerajinan Tradisional
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
