Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 9 Februari 2017 | 00.39 WIB

Ika Nur Widayanti, Konselor BNNK Surabaya Berlatar Belakang Bidan

PEDULI: Ika Nur Widayanti banyak blusukan ke rumah mantan pecandu narkoba. - Image

PEDULI: Ika Nur Widayanti banyak blusukan ke rumah mantan pecandu narkoba.

Konselor berperan penting menangani mantan pecandu setelah rehabilitasi. Bukan tugas mudah. Pengalaman Ika Nur Widayanti di berbagai aktivitas sosial membantu tugasnya sehari-hari.



DIDA TENOLA



MEJA kerja Ika Nur Widayanti tampak berbeda dengan meja-meja konselor lain di lantai 2 kantor Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Surabaya. Sebuah stetoskop dan alat tensi tergeletak di atasnya.


Icha –sapaan Ika Nur Widayanti– memang bukan dokter. Namun, sebagai seorang konselor, dia paham soal kesehatan. ’’Saya lulusan ilmu kebidanan sehingga paham soal perkembangan kesehatan mantan pecandu. Jadi, ke mana-mana saya bawa alat-alat ini,’’ jelas Icha sembari menunjukkan alat tensi dan stetoskop kepada Jawa Pos. Dua peranti tersebut menjadi ’’senjata’’ Icha setiap melakukan home visit pasien setelah rehab.


Sebelum menjadi konselor di BNNK, dara kelahiran Tuban itu aktif di beragam kegiatan sosial. Icha merupakan ketua Kader Pemuda Antinarkoba bentukan Dispora Surabaya. Kader-kader tersebut terdiri atas berbagai elemen. Mulai perwakilan kecamatan, sekolah, hingga kampus-kampus. Dia juga pernah tercatat sebagai relawan PMI dua tahun silam. Ketika itu dia diberangkatkan ke Kalimantan. Putri pasangan Sarno dan Wiji Fauziah itu diterjunkan pada pemulangan warga eks Gafatar ke Jawa Timur.


Pada Agustus tahun lalu, Icha bergabung dengan BNN Kota Surabaya. Bersama lembaga antimadat tersebut, dia dituntut bekerja taktis, tanggap, dan cepat, tetapi tetap mengayomi. ’’Pelatihan konselor cuma seminggu. Harus cepat beradaptasi. Beruntung, saya punya banyak pengalaman,’’ tutur Icha.


Selama hari kerja, Icha blusukan ke kampung-kampung yang terdapat pecandu. Pecandu itu telah melewati masa rehabilitasi. Icha melakukan home visit untuk memastikan mantan pengguna tersebut tidak kembali ke jurang kelam narkoba. Berbekal ilmu kebidanan yang dimiliki, Icha memperhatikan kondisi fisik pasiennya. Kebanyakan yang ditangani adalah pasien dewasa. Mereka sudah memiliki keluarga. Sulung empat bersaudara tersebut menuturkan bahwa bukan hanya mantan pecandu yang harus diopeni. Namun, seluruh keluarganya juga diperhatikan.


Menurut dia, ada dua pilihan jika punya keluarga yang pernah mengonsumsi narkoba. Cuek, apatis, dan membiarkan anggota keluarganya menderita karena obat-obatan terlarang. Atau, memberikan spirit agar mereka bisa merdeka dari ketergantungan selamanya. ’’Tugas saya menumbuhkan rasa kepedulian itu. Nggak perlu malu punya keluarga pecandu. Toh, kami tetap mengawasi dan berada di belakang mereka untuk terus didorong agar pulih sepenuhnya,’’ papar alumnus SMA Barunawati tersebut.


Dibutuhkan ketelatenan saat Icha menghadapi pasien yang dewasa. Selain itu, Icha memeriksa kesehatan istri maupun anak-anak dari pecandu tersebut. Itulah pelayanan yang diberikan konselor. Dengan begitu, seluruh anggota keluarga merasa diperhatikan dan tidak patah semangat. ’’Kunci untuk menghadapi pasien pascarehabilitasi yang sudah dewasa adalah tidak menggurui. Biar bagaimanapun, pengalaman mereka jauh lebih pelik ketimbang saya,’’ jelas gadis kelahiran 5 September 1990 tersebut.


Tugas lain Icha sebagai konselor adalah mengamati lingkungan tempat tinggal pecandu. Ada kalanya si pecandu tidak diterima warga sekitar karena stigma negatif. Ujung-ujungnya, mereka dikucilkan. Akibatnya, beban mantan pecandu bertambah. Karena itu, tidak jarang Icha berkonsultasi dengan ketua RT setempat. Dia meminta warga memberikan spirit yang sama. Pulih dari ketergantungan adalah sebuah keniscayaan yang menjadi target hidup mantan pecandu narkoba.


Perhatian khusus diberikan ketika Icha menjumpai lebih dari seorang pecandu di sebuah lingkungan. Di kawasan Surabaya Barat, Icha pernah mengunjungi satu blok yang warganya mantan pecandu narkoba. Bahkan, masih ada yang mengonsumsi sabu-sabu. ’’Ketua RT harus sering diajak berkomunikasi agar orang-orang yang aktif pakai narkoba ini tidak mendekati mereka yang mau pulih. Itulah tantangan tugas kami sebagai konselor,’’ jelas penggemar traveling tersebut.



Berbeda lagi penanganan terhadap pecandu usia remaja. Kebanyakan di antara mereka mengonsumsi pil dobel L. Sebagai remaja, mereka masih labil. Obrolan percintaan kerap dilempar. Tidak jarang, Icha digoda dengan rayuan gombal ala-ala FTV. Bahkan, ada yang sampai mengajak kencan. Menurut Icha, cara menghadapinya adalah berperan layaknya seorang kakak. Mereka memang sulit terbuka. Tetapi, kalau sudah akrab, mereka tidak segan blak-blakan sampai membeberkan semua problem percintaannya. (*/c14/fal/sep/JPG)

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore