Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 8 Februari 2017 | 23.33 WIB

Lahan Parkir Taman Bacaan di Kampoeng Ilmu Minim

Nasib Merana Ikon Surabaya Kampoeng Ilmu - Image

Nasib Merana Ikon Surabaya Kampoeng Ilmu

JawaPos – Nama Kampoeng Ilmu memang tidak asing lagi di kalangan pelajar dan orang tua siswa. Betapa tidak, Kampoeng Ilmu menjadi salah satu jujukan warga untuk berbelanja buku murah. Ketika musim tahun pelajaran baru tiba, jangan heran jika melihat orang berbondong-bondong ke sana.


Keramaian sentra perdagangan buku itu memang terjadi musiman. Saat paceklik, pengunjungnya pun sedikit. Hanya beberapa orang yang datang untuk berburu buku-buku bacaan yang tidak terpengaruh momen, Contohnya, novel dan komik. ’’Kalau sedang sepi begini, bisa dapat Rp 200–300 ribu sehari saja sudah untung besar,” ucap Driyono, 53, pedagang di blok utara. Rata-rata pedagang mengantongi Rp 100–150 ribu pada hari biasa.


Sementara itu, waktu ramai-ramainya, pedagang bisa untung sampai jutaan rupiah. ’’Harga buku kedokteran kan bisa Rp 1 juta atau lebih,” ujar Said Suwadi, pemilik kios Rama Jaya di blok selatan. Laba kotornya bisa mencapai Rp 3–4 juta.


Ramai musiman memang menjadi tantangan bagi pedagang apa saja. Tak terkecuali pedagang buku. Untuk menyiasati agar dompet tetap terisi, mereka harus berdagang secara kreatif. ’’Harus tahu buku-buku apa saja yang banyak dicari,” tutur Driyono. Pedagang juga tidak segan menghimpun informasi dari para pembeli tentang buku-buku yang sedang naik daun.


Kepala Paguyuban Pedagang Kampoeng Ilmu Budi Santoso menuturkan, dirinya ingin kompleks di Jalan Semarang itu tidak hanya menjadi sentra buku. ’’Tidak sekadar dodolan (jualan), tapi juga punya fungsi sosial,” jelas pria yang mengidolakan Fidel Castro tersebut. Karena itu, dia dan para pedagang meminta pendirian pendapa di bagian tengah kompleks. Tujuannya, menjadi simbol ruang masyarakat.


Pendapa itu kini rutin digunakan sebagai tempat latihan menari oleh Padepokan Seni Budaya Kampoeng Ilmu. Latihan diadakan setiap Sabtu dan Minggu. Menurut Budi, pendapa tersebut membuat Kampoeng Ilmu menjadi lebih ramai dan ’’hidup”.


Berbicara kekurangan, kata Budi, memang ada saja. Yang paling kentara adalah tempat parkir. ’’Mobil sampai tidak bisa masuk kalau sedang ramai,” imbuhnya. Kepadatan itulah yang menjadi indikator bahwa Kampoeng Ilmu masih dilirik masyarakat. Harga buku di kompleks tersebut memang terbilang murah. Untuk buku bacaan seperti novel, harganya sekitar Rp 25–30 ribu.


Namun, hal itu menimbulkan persaingan ketat dengan kompetitor yang lebih besar. ’’Pernah ada (toko buku) yang bilang ke penerbit agar jangan jual buku ke Kampoeng Ilmu,” ujar Budi.


Selain parkir, pedagang berniat mendirikan gapura di bagian depan. Selama ini Kampoeng Ilmu hanya ditandai dengan papan berukuran sedang. Itu pun kadang tertutup pohon. Pintu masuknya juga terbilang sempit. Yang tidak terbiasa berkunjung ke sana pasti kebablasan. ’’Maunya sih ada gapura, toh ini hitungannya tempat wisata. Wisata belajar,” kata Budi.



Kepala Bidang Seni Budaya Disbudpar Surabaya Herry Purwadi mengatakan, sejak awal didirikan hingga kini, komunikasi dengan pengelola Kampoeng Ilmu masih terjalin. ’’Kami kirimkan pelatih (kegiatan kebudayaan) ke Kampoeng Ilmu. Padepokan juga mau dikembangkan,” ujar Herry. Kampoeng Ilmu masih termasuk dalam promosi disbudpar sebagai destinasi wisata pendidikan. Namun, pemberdayaan selama ini lebih sering dilakukan paguyuban pedagang. ’’Pemkot hanya memberikan support berupa tempat,” lanjutnya. (deb/c7/oni/sep/JPG)

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore